Jumat, 10 Januari 2014

Genggam

2 komentar
Aku disini
kamu disana
terpisahkan depa jarak yang merindukan
mencoba mendekap dalam sebuah doa
berharap hati menggenggam setia
saling menguatkan

Bantimurung, 2013

Read full post »

Kamis, 02 Januari 2014

Ketika Kita Mulai Saling Menyapa dengan Sajak-Sajak Sederhana

8 komentar
Credits

Senja hari dipeluk hujan. Aku termenung di depan layar putih. Iya, udara yang dingin membuatku betah berlama-lama di tempat tidur. Sehari itu aku habiskan dengan membaca dan berselancar di dunia maya. "Ah, memang tak ada teman sejati hari ini selain laptop hitam kesayanganku" gumamku pelan. Kutatap jendela kamar, lekat-lekat kuperhatikan embun hujan disana. Tiba-tiba aku berpikir. Sepertinya bagus jika aku berkicau tentang apa saja yang aku rasakan hari ini. Perihal kegundahan hati maupun kebahagiaan yang sepi.

Kubuka akun twitterku. Kutuliskan beberapa kalimat, entah itu sajak atau hanya gumaman lewat saja. 
Terima kasih, sudah membuatku jatuh ke dalam. 
Masih merindukan moment-moment kala aku duduk di samping jendela, menatapmu yang kian berlalu dari kereta.  
Karena tak mudah menyimpan cinta dalam diam dan mencintaimu hanya dengan sebuah tulisan. 
Ketika masa lalu mulai memasung waktu di dada, aku terdiam. Antara mati atau menusuk mata.
Tapi, hal yang tak terduga terjadi. Ada salah satu akun yang me-reply tweetku tersebut. Aduh, sejenak aku minder dan malu. Bagaimana tidak, ketika kulihat ava-nya, ia seorang perempuan berparas cantik. Ragu-ragu, mataku mulai penasaran mencari. Siapa sih perempuan ini? Deg! Aku kaget, untungnya tak sampai mental ke dinding. Ternyata ia berasal Bandung dan ia seorang penulis! Antara gembira dan bimbang. Gembira karena ada penulis yang me-reply tweetku, bimbang karena tak tahu mau membalas tweetnya dengan kata-kata apa. Iya, kebimbangan timbul karena kelebihan dirinya yang sebagai penulis itu.

Pelan-pelan kuatur napas. Menghembuskannya pelan diselingi dengan harap. Semoga semesta ide memilihku untuk menuliskannya. Alhasil, bak seorang laki-laki dingin yang kelihatannya keren (padahal tidak) terjadilah percakapan sederhana di antara kita.

@gubukteduh: 
Ketika masa lalu mulai memasung waktu di dada, aku terdiam. Antara mati atau menusuk mata.
*tak lama kemudian*

@Agyasaziya_R → @gubukteduh
Ketika masa lalu berkelakar dengan cinta, aku membisu. Antara koma atau atau berperan ambigu.
@gubukteduh → @Agyasaziya_R
Ah, tak lain sama, seperti itu. Sekadar mengambil waktu untuk mengaku. Kamu dan masa lalu, ialah cintaku, dulu.
@Agyasaziya_R → @gubukteduh
Aku masih di tempat itu, dimana dirimu dan remah-remah kenangan yang kupinjamkan, masih ada tanpa sembilu.
@gubukteduh → @Agyasaziya_R
Tak pernah kukira itulah kenyataan. Ketika kuputuskan mengantar pergi kenangan, meninggalkan. Maafkan aku kesayangan.
@Agyasaziya_R → @gubukteduh
Kenangan masih di rantai mimpi. Mimpi yang kau rajut dengan pola filosofi...tapi tanpa aku, yang kau ajari bagaimana menjejak dan berdiri.
@gubukteduh → @Agyasaziya_R
Kini...aku tahu tafsir mimpi tadi malam. Ketika kamu datang mengenakan kerudung hitam. Berkilau, namun terpejam.
@Agyasaziya_R → @gubukteduh
Ahh, lama sekali dirimu sadar. Aku selalu datang setiap malam. Melihatmu dari jendela, menginginkanmu seperti tafsir satu rindu.
@gubukteduh → @Agyasaziya_R
Biarkan seperti itu. Kini kita tak mungkin bersatu, melawan waktu. Aku hanya bisa merajut rindumu, memakainya sebagai baju.
@Agyasaziya_R → @gubukteduh
Aku tahu. Tapi hela napas ini masih ingin sependapat dengan hati. Kamu...milikku, meski harus kuserahkan pada masa lalu.
@gubukteduh → @Agyasaziya_R
Dekaplah dirimu kuat dengan keikhlasan. Perlahan, kamu akan melangkah menuju kebahagiaan. Aku akan mengantarkan, melambaikan tangan.
@Agyasaziya_R → @gubukteduh
Coba saja kau lepaskan aku, tunggu sampai satu belati merebut urat nadimu

---The End---

Setelah tweet darinya itu, aku menutup percakapan dengan kata "The End". Tak kusangka ia membalasnya dengan tawa dan canda ("hahaha the end mulu ah"). Sejenak aku membayang. Dirinya lucu, penuh tawa dan keceriaan. Aku sebenarnya penasaran, hehe. Terima kasih kak @Agyasaziya_R atas kesediaannya menyapa diriku ini yang tak sekadar tumpukan kata-kata usang. Kata-kata kakak seperti mata air yang melepaskan kedahagaan, kesederhanaan yang selalu memberikan manfaat dan kehidupan. Terima kasih telah menyisipkan sedikitnya ruh pada sajak sederhana. Membuat mereka tak hanya indah dibaca mata tapi hidup sebagai sebuah kisah. Salam yang paling sopan kuberikan dengan tulus dari palung jiwa yang paling dalam. Kepada perempuan indah pemilik dekap kata paling setia. Apa mungkin di kehidupan mendatang kita dan kata-kata bisa menjadi sebuah cerita?


Makassar, 31 Desember 2013

Read full post »

Refleksi Diri

2 komentar
Credit

Januari, Februari, Maret

Aku lahir dari sebuah ketiadaan. Mulai bernafas menghirup sepi dan wangi kayu. Aku belajar berbicara, mengayak kata dari berbagai cerita. Belajar merangkak menyelingi kaki meja, mencari serpihan aksara dan papahan nada hingga aku bisa duduk dan berjalan. Titian aku seimbang disana. Serasa pejuang bak menang di medan perang. Aku pahlawan dalam pulang. Kutulis ia, dalam sebuah kontemplasi dari kehidupanku empat tahun silam. Cerita tentang masa depanku, katanya.

April, Mei, Juni

Jemariku menari, mengorek potongan arti dalam makna sendiri. Meresapi hingga menyuci sepi. Pertapa di kotak pandora bernama. Aku yang menemukan nilai dan estetika. Kini, aku di rumah sakit. Bukan terbaring merintih luka, bukan pula cedera. Bukan pula menyambangi kawan dalam ujian-Nya. Hanya sedang mengikuti garisan tangan. Disana, aku melihat kasih sayang, duka dan cinta. Pada anak yang memandikan ibunda di sebuah kamar. Pada istri yang meratapi tidur suami. Pada insan yang mengikrar janji, tak terhalang sakit maupun mati.

Juli, Agustus, September

Aku melangkah menapaki sebuah jalan. Ke sebuah tempat bernama kenangan. Yang indah di ingatan hingga bisa kutelusuri dinding dan anak tangganya. Aku di rumah, sejenak, kemudian pergi lagi. Kini aku berlari kecil di gang-gang dan aku tertawa. Pada banyak nyawa mengaduh dah mengeluh. Perihal ingin kembali ke masa riang bermain gundu. Aku yang tak tahu diri ini. Bahagia, senantiasa menuju pendewasaan diri.

Oktober, November, Desember

Di sebuah cafe berwarna jingga, aku ditemani secangkir kopi. Ah, pacar setiaku dulu saat hati tak punya ruang. Kukecup pelan hangat bibirnya. Sesap kurasai kuat lalu kulepas. Aromamu masih tetap sama. Kupandang perempuan di sisi meja. Hembusan nafas keluar, aku bergumam pelan. Aku bertemu puisi. Yang menghidupkan kembali sajak-sajak yang telah mati. Terima kasih cinta, sang sosok inspirasi. Semoga Tuhan mempertemukan kita di tahun ini, lagi.

Makassar, 2013

Read full post »

Senin, 30 Desember 2013

Bantimurung Rindu

3 komentar
Credit

Sedari tadi gigil menyentuh kulit, nyata
roma bulu kuduk seolah menjawab, ia berkata
pada semesta yang bertanya
tentang kisah rindu yang sama

Kini, aku duduk di sebuah batu
menatap sendu air jatuh kian menderu
rinduku merintih pada kalbu
puan, bagaimana kabarmu?

Tahukah kamu tentang teduh dan sepasang kupu-kupu?
mereka merindukan kita
serupa mereka menyayangi bumi
yang dipeluk kabut pagi

Tanah-tanah basah, kerikil bebatuan, liukan dinding tebing
masih tetap sama
seperti kala perjumpaan kita
dimana mata berbicara tentang rasa

Aku tak tahu lagi harus berkeluh pada siapa
angin terlalu bosan pada
titipan rinduku yang kian tak sampai
kala kamu dan kupu-kupu menyapa ingatan

Hanya tempat bersahaja ini
yang seakan mengerti
kekalutan sebuah hati
bantimurung, awal rindu ini

Bantimurung, 2013

Read full post »

Kamis, 26 Desember 2013

Pulang, Aku Suka Padanya

0 komentar
Pernah suatu hari aku berjalan pulang. Entah kenapa hari itu aku lebih memilih berjalan dari pada mengendarai motorku. Masih teringat pula pertanyaan seorang adik perempuan yang tadi malam kubonceng di belakang. "Kenapa lewat jalan ini kak? Kan lebih dekat jalan yang tadi" tanyanya padaku. Kujawab, "Aku lebih suka berkeliling dulu sebelum pulang. Jika ada dua jalan pulang yang diberikan padaku, maka aku akan memilih jalan yang jauh". Tak puas, perempuan berjilbab coklat itu lantas bertanya kembali, "Lho kenapa kak? Gak kasihan ama bensinnya?". Aku tersenyum, meski ia tak melihatnya, "Entah mengapa aku suka, aku suka menikmati perjalanan pulang".

Aku merasa, sepertinya jawabanku tadi tidak membuatnya puas. Seakan ada nafas yang tergantung pada dirinya. "Aku suka mengamati keramaian jalan. Mobil-mobil dan motor-motor itu, para penyebrang jalan, para penumpang yang menunggu jemputan, para penjual di pinggir jalan, sampai jikala hujan aku senang walaupun hanya sekadar melihat dari jauh apabila para bocah-bocah kecil seperti disana berlarian sambil memegang payung yang tak dipakainya". Entah ia tersenyum di punggungku atau hanya sekedar menghela napas pelan seakan setuju. Aku hanya merasakan sisi tubuhnya yang hangat.

Entah sejak kapan aku menyukai kebiasaan ini. Sejenak memperlambat langkahku pulang untuk sekadar menikmati sebuah perjalanan kembali. Pernah, iya pernah, aku membeli batagor di pinggir jalan. Hanya untuk sekedar duduk dan melayangkan pandangan. Pada muka jalan, pada kendaraan yang banyak berlalu lalang, pada ruko-ruko di belakang yang tertib berjejeran, dan pada pejalan kaki di tengah canda dengan seorang kawan, aku tersesap dalam pikiran. Sedikit memaknai memakai hati, entah kapan aku lupa "melihat" dunia ini. Aku terlalu sibuk dengan hidupku ini.

Kini langkahku telah membawaku pada sebuah jalan sempit. Sebuah gang yang basah seperti disapa hujan sebentar. Ah, tak lama lagi aku sampai di rumah. Aku tersenyum, menyampaikan salam takzim, salam paling sopan. "Sepertinya kita akan segera berpisah, pulang. Kembali ke rumah masing-masing". Aku menyukainya. Semoga esok aku bisa berlama-lama dengannya.

Makassar, 2013

Read full post »

Selasa, 24 Desember 2013

Cerita di Sebuah Pagi

2 komentar
Credit

Pada embun yang menyapa jendela
pada tanah-tanah basah di pagi buta
aku bersyukur pada pencipta semesta
nafasku belum pergi kemana-mana

Hari ini aku bersyukur pada pencipta semesta, nafasku masih bersarang dalam raga. Tiada nikmat terindah dari sang pencipta selain masih diberi kesempatan untuk selalu memperbaiki diri. Hanya mungkin aku yang tak tahu diri. Terkadang lupa jika semua akan dimintai pertanggungjawaban nanti. Astaghfirullah.

Pagi ini saya terbangun dengan ketenangan dan penasaran silih berganti. Entah karena sebuah mimpi yang kusambangi malam tadi. Entah pula karena aku tak tahu apa tafsiran sebuah mimpi. Aku tak tahu pasti. Tetapi aku tetap bersyukur masih diberikan ketenangan dalam pembukaan pertama mataku ini, setelah sekian jam aku "mati".

Hujan awet masih mengguyur rumah. Rona wajahku pun berubah. Dingin yang serta merta merasuk pori-pori raga justru tidak membuatku melontarkan keluh puah. Aku bersyukur, tunduk dan patuh. Berkontemplasi diri bahwa aku tidak sekedar apa-apa dari kekuatan miliknya yang melimpah ruah.

Pagi ini membuatku hatiku senantiasa dikawal tenteram. Aku menemukan sosok perempuan yang mengenakan "rok hitam". Saat itu kalbu bertasbih serta merta, tak menyangka bahwa dunia ini lebih indah dan jauh dari kelam. Ia sangat pandai melukis aksara dan membuatnya indah serupa bermakna dalam. Tak hanya melukis, sepertinya ia pandai menyulam. Membuat rindu dan beribu kata hati menjadi pakaian hangat, serupa tangan sepasang kekasih yang saling menggenggam.

Ah, entah mengapa aku merasa jengah sendiri. Meratapi diri yang sebenarnya tak punya arti dibanding beragamnya dunia ini. Aku berpikir, mengukir sebuah tanya pasti. Bagaimana bisa perempuan sekilau ini? Menyimpan banyak misteri. Tak hanya dalam hati, bahkan pada tampilan sederhana diri. Subhanallah. Aku kagum pada sosok perempuan ini, pemilik kekata paling puisi.

Terima kasih Tuhan, Engkau hadiahkan pertemuan ini. Aku berjanji akan belajar seraya menikmati. Melihat dunia lewat megahnya kesederhanaan sajak-sajak hati. Ukiran kekata merdu milik perempuan ini.

Makassar, 24 Desember 2013

Read full post »

Minggu, 22 Desember 2013

Tangan Hangat yang Selalu Menyelimuti

2 komentar
Hujan senja mulai menyapa
rintik-rintik kecil yang menari jatuh di tanah
pada payung merah dan seorang bayi kecil
digendong tangan hangat yang selalu menyelimuti

Diajaknya bercanda bayi kecil itu dalam teduh
diusapnya kuping dan pipinya membagi cinta
dipeluknya dalam-dalam hingga tenggelam
membagi degup jantung yang beriringan

Matamu yang hitam kubingkai dalam kenangan
halus sentuhanmu kusimpan di nadi
senyum bahagiamu kusisipkan di dada kiri
hingga semuanya tak ada yang hilang nanti

Membelah samudera, melangkah pulang
menapaki gang-gang basah, yang penuh anak bermain hujan
menghela napas dan menghembuskannya pelan
pada kotak kecil yang kukenal rumah

Dadaku sakit, nafasku tercekik, aku menangis
rambutmu kini memutih
kulitmu kini mengendur bak kulit sapi
tangan halusmu hancur dimakan cucian

Dadamu tempatku tenggelam dulu telah tiada
tubuhmu yang punya peluk kini telah bungkuk
hanya mata hitam itu
dan senyum sederhana yang tetap sama

Maafkan anakmu ini
aku tak pernah pulang karena tak punya uang
aku berdosa, aku durhaka
dimana surga itu, akan kucuci kedua kakimu

Maafkan aku, perempuan pemilik dekap paling kasih
Aku tak akan kemana-mana lagi

Makassar, 2013

Read full post »

Kamis, 19 Desember 2013

Resensi CineUs: Meraih Mimpi, Sulitkah?

34 komentar

Judul : CineUs
Penulis : Evi Sri Rezeki
Penerbit : teen@noura
Cetakan, Terbit : Cetakan I, Agustus 2013
Halaman : xvi + 288 hlm
Harga : Rp. 48.500
ISBN : 978-602-7816-56-5

Blurb

Demi menang di Fesival Film Remaja, Lena rela melakukan apa saja. Bukan hanya demi misi mengalahkan mantan pacarnya yang juga ikut berkompetisi, tetapi karena dia pun harus mempertahankan Klub Film sekolahnya. Soalnya klub kecilnya itu kurang didukung oleh pihak sekolah. Padahal salah satu kreativitas siswa bikin film, kan!

Untung ada satu orang yang bikin hari-hari Lena jadi lebih seru. Si cowok misterius yang kadang muncul dari balik semak-semak. Apaaa? Eh, dia bukan hantu lho ... tapi dia memang punya tempat persembunyian ajaib, mungkin di sanalah tempat dia membuat web series terkenal favorit Lena. Nah siapa tahu cowok itu bisa membantu Lena biar menang di festival.

Kisah Lena ini seperti film komedi-romantis yang seru. Jadi, selamat nonton, eh, baca! :)

*****

Mengejar mimpi bukanlah hal yang mudah. Mempertahankannya juga seperti itu. Terkadang banyak dari kita yang terlalu cepat berhenti meraih mimpi. Ada juga yang berhenti bahkan ketika mimpinya tinggal selangkah lagi. Apakah meraih mimpi itu sulit? Iya sulit, bagi mereka yang tak ingin memperjuangkannya. Sulit bagi mereka yang hanya ingin semuanya tercapai secara cepat, instant, tanpa merasakan proses perjuangannya. Padahal mimpilah yang sebenarnya membuat kita hidup sampai detik ini. Mimpi jugalah yang membawa kita untuk terus berkeinginan menjadi lebih baik. Hidup tanpa mimpi bagaikan hidup tanpa tujuan.

Novel ini menceritakan kisah tiga sekawan Lena, Dania dan Dion yang memperjuangkan mimpi mereka untuk menjadi seorang sineas. Mimpi itu membawa mereka untuk memperjuangkan nasib Klub Film. Namun, tak ada jalan yang selamanya mulus. Begitupulah yang dirasakan mereka, kehadiran Klub Film di Sekolah Cerdas Pintar tidak mendapat sambutan antusias dari siswa-siswinya. Upaya membagikan pamflet nobar film perdana Klub Film yang dilakukan Lena dan Dania tak memberikan hasil yang memuaskan. Parahnya kertas pamflet itu dijadikan kertas coret-coretan dan dibuat pesawat kertas oleh teman sekelasnya.

Penderitaan tak sampai disitu. Acara nobar film perdana Klub Film hanya dihadiri oleh dua orang dari majalah sekolah. Lena, Dania, dan Dion pun mengulur waktu penayangan, namun tetap saja tidak ada lagi yang datang. Keesokan harinya mereka dikagetkan dengan pemberitaan di majalah sekolah yang menyebut klub mereka sebagai klub pembuat film picisan.

Kerja keras Lena, Dania, dan Dion mulai menampakkan hasil. Satu tahun sudah semenjak disetujui oleh wakasek bidang kemahasiswaan, anggota Klub Film bertambah 7 orang dari kelas X. Tetapi cobaan masih saja mengikuti di belakang. Adit, mantan pacar Lena, kembali mengusik ketenangan. Ia menantang Lena untuk taruhan dalam kompetisi skenario dan film pendek di Festival Film Remaja. Barang siapa yang kalah harus mencuci kaki pemenang dan menjadi penggulung kabel selama setahun. Lena geram, ia berpikir harus memperjuangkan harga dirinya. Ia merasa harus membuktikan bahwa dirinya bukan perempuan sampah seperti yang dikatakan Adit. Lena akhirnya menerima tantangan itu. Ia juga berpikir dengan memenangkan kompetisi ini Klub Film akan lebih dikenal prestasinya.

Rizki, pria misterius, datang ke dalam kehidupan pribadi Lena yang seakan menggetarkan hatinya. Rizki sangat jago animasi. Lena melihat ini sebuah kesempatan baik jika Rizki bergabung dengan Klub Film. Ia berpikir dengan bergabungnya Rizki di Klub Film kesempatan menang mereka di Festival Film Remaja akan semakin besar. Namun hal yang tidak diingikan terjadi. Romi tidak setuju dengan kehadiran anggota baru. Ia keluar dari klub dan menyabotase basecamp dengan alasan telah menerima persetujuan dari Wakasek untuk menggunakan tempat itu dan membuat klub baru.

Semenjak itu beragam masalah dan rintangan berdatangan. Mulai dari diobrak-abriknya basecamp rahasia, dicurinya skenario film, sampai peristiwa hilangnya Dion membuat Lena dan Dania seakan patah semangat. Bagaimanakah kelanjutan nasib Klub Film? Apakah kehadiran Rizki dapat meringankan beban Klub Film? Apakah Lena dan kawan-kawan dapat memenangkan kompetisi? Siapakah yang akan memenangkan taruhan itu? Lena ataukah Adit?


KELEBIHAN NOVEL 

Desain CoverEye Catching
CineUs
Desain cover novel remaja ini layak dipuji. Paduan warna biru muda yang terkesan cerah dengan warna putih dan beberapa warna lainnya sangat pas dan memberikan kesan eye catching. Ilustrasi gambar tiga sekawan yang sedang menatap siluet garis gedung-gedung yang berjejeran juga merupakan ide yang sangat brilian. Gambar tersebut memberi kesan bahwa mereka siap menghadapi kerasnya kehidupan kota demi menggapai impian. Hadirnya gambar handycam, segelas kopi, kertas, pensil dan penghapus benar-benar mempercantik cover ini. Keberadaan gambar-gambar tersebut memberikan kesan artistik karena barang-barang dalam gambar tersebut adalah barang-barang yang familiar dalam cerita novel ini.

Ide Cerita, Tema, Judul: Paduan Pas
Sebagai sebuah bacaan remaja, ide cerita dan tema yang mengangkat tentang perjuangan Lena, Dania, dan Dion untuk mempertahankan Klub Film harus diacungi jempol. Hadirnya tokoh yang membuat online video "web series" bisa dikatakan nilai plus yang mendukung ide tersebut. Ketika banyak teenlit yang terlalu banyak berkisah tentang pacaran, drama cinta, dan persahabatan semata, penulis mampu menghadirkan cerita tentang klub film yang bisa dikatakan masih sedikit di luar sana. Memang nuansa yang diangkat Evi dalam cerita masih berkisar cinta dan persahabatan, tapi Evi mampu menyajikannya dalam bentuk yang special. Ia mempolesnya dengan kolaborasi "pengetahuan", membumbuinya dengan perjuangan menggapai impian sehingga terkesan agak inspiratif dan menambahkan sisi kreatif dalam cerita. Evi seperti jeli melihat fenomena kehidupan remaja jaman sekarang sehingga ia menghadirkan sebuah cerita yang mengatakan bahwa remaja adalah waktunya berkreativitas dan menggapai impian.

Dari segi judul, CineUs, memberi kesan unik, singkat, padat, lugas, dan punya daya tarik. Belum lagi ditambah desain pada cover bagian bawah yang menampilkan alat take scene semakin memperjelas novel ini ada kaitannya dengan klub film. CineUs, membuat orang yang melihat judul ini akan langsung berpikir tentang cinema. Sebuah pemikiran yang tepat penulis memberi nama judul CineUs, sangat sesuai. Mengapa demikian? Karena terkadang ada novel yang memberi judul berbeda dari cerita di dalamnya.

Plot yang Kuat
Plot cerita terkesan kuat pada saat di tengah cerita, saat konflik-konflik mulai dibangun. Evi sangat apik dan lihai membuat "kisah-kisah yang hilang" (maksudnya kesan menggantung terhadap cerita masing-masing tokoh) yang memaksa pembaca untuk terus membuka dan membaca lembar demi lembar novel ini hingga habis. Belum lagi permainan konflik yang tidak terduga. Pertama, pembaca akan dibuat menduga penyebab terjadinya suatu konflik dalam cerita, tapi kemudian pembaca akan terkejut karena dugaannya salah terhadap penyebab konflik tersebut. Contohnya saja kisah Dion, yang tiba-tiba Ambo menjadi takut kehilangan dirinya. Contoh lainnya adalah konflik yang terjadi akibat pisahnya Romi dari Klub Film sampai memanfaatkan keluguan Dion sehingga membuat Lena, dkk memusuhi Dion. Konflik-konflik yang bertumpang tindih inilah salah satu kelebihan dari gaya bercerita yang ditampilkan Evi Sri Rezeki.

Secara keseluruhan novel ini menggunakan alur maju. Pemakaian gaya bahasa dan penggunaan kata yang tepat membuat novel ini terkesan ringan dan enak dibaca. Ini memberikan kesan mengalir pada beberapa titik cerita.

Sudut Pandang
Penulis menggunakan sudut pandang "aku" (Lena) sebagai orang pertama dalam bercerita. Bagi sebagian orang ini penggunaan sudut pandang orang pertama mempunyai tingkat kesulitan tersendiri. Seperti contoh ada cerita yang terlalu banyak fokus kepada tokoh "aku" sehingga "lupa", tidak melibatkan terlalu banyak tokoh lain dalam cerita tersebut. Beda halnya dengan novel ini. Penulis mampu menyajikan sudut pandang ini secara baik, bahkan membuat siapa pun yang membaca novel ini seakan menonton sebuah film. Hal itu ditandai dengan kepiawaian Evi menampilkan tokoh-tokoh penting lainnya dalam cerita.

Deskripsi emosi, tokoh, setting
Deskripsi emosi sangat baik dibawakan oleh penulis. Belum lagi hal itu didukung alur cerita yang rapi dan pemakaian bahasa yang tepat. Contohnya saja saat Lena dan Dania meratapi penyesalannya di kamar Dion ketika mereka mendapati video-video rekaman Dion tentang persahabatan mereka. Penggambaran karakter masing-masing tokoh cukup jelas, walau agak membingungkan di awal. Kelebihan dari penggambaran tokoh ini adalah penulis membawa kesan natural pada tokoh dalam cerita. Ia tidak menghadirkan tokoh "yang hanya nyata di cerita" tapi lebih ke realita yang sesungguhnya. Tampilannya terasa nyata dan apa adanya. Contohnya saja Rizki yang diceritakan seperti sosok yang baik, jago animasi, perhatian tapi gemuk, suka bolos dan ceplas ceplos.

Penggambaran setting, baik tempat dan waktu dapat dinilai sesuai. Adanya ilustrasi juga membantu dalam penggambaran setting atau latar cerita.

Ada Ilustrasi
Ilustrasi dalam novel CineUs

Inilah hal unik yang akan pembaca suka dalam novel CineUs. Adanya ilustrasi yang menggambarkan beberapa latar dan scene dalam cerita patut diberikan applause. Hal ini merupakan nilai plus yang unik. Mengapa? Karena jarang novel yang sengaja menyelipkan ilustrasi di dalamnya. Ilustrasi biasanya hanya sering dipakai di dalam buku antologi puisi dan juga terkadang dalam kumpulan cerpen (misalnya kumcer Milana karya Bernard Batubara dan kumpulan cerita Singgah). Dengan adanya ilustrasi, imaji pembaca seakan dibimbing untuk lebih merasa dan memaknai jalannya cerita.

Padat dan Informatif.
Di satu sisi, membaca CineUs seperti membaca tulisan-tulisan Riawani Elyta, penulis A Cup of TarapuccinoThe Coffe Memory, yang selalu terkesan padat, berisi, berwawasan dan informatif. Membaca novel terbitan Teen Noura ini bukan sekedar membaca cerita remaja saja. Penulis seakan peduli dengan hal-hal yang kreatif. Pembaca akan disuguhkan berbagai istilah dan pengetahuan tentang film dan web series seperti skenario, storyboard, editingbudgetingwebisode, Adobe Premiere Pro CSshaky handle dan lain sebagainya yang pengertiannya langsung dijelaskan di dalam novel. Di dalam novel dengan tebal 288 halaman ini juga ditampilkan potongan skrip film yang akan diajukan Klub Film (Lena, dkk) dalam mengikuti ajang Festival Film Remaja. Betul-betul kaya informasi.

Berbeda dengan novel teenlit pada biasanya yang hanya mengangkat tema cinta monyet dan persahabatan, CineUs menghadirkan sosok Dion, tokoh yang diceritakan menderita ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Hal ini membuat novel ini semakin sarat pesan moral. Pada halaman 104 penulis menyematkan tinjauan sekilas tentang penyakit ADHD. Evi seperti membuat pola baru dalam dunia tulisan. Memproporsionalkan antara cerita yang digemari remaja dengan isi bacaan. Dengan adanya tokoh Dion, Evi seperti peduli dan seakan menghadiahkan buku ini untuk semua penyandang ADHD.
"Film ini dipersembahkan untuk Dion dan untuk semua anak penderita ADHD. You never walk alone." (hlm.177)

Seperti Sajak
Inilah sebuah keunikan yang akan ditemukan (lagi) oleh pembaca dalam novel ini. Kemampuan penulis dalam mendeskripsikan sesuatu ada kalanya secara lugas, namun ada kalanya secara tersirat. Uniknya, kemampuan Evi mendeskripsikan latar terlihat seperti berpuisi. Evi seperti sengaja mengajak kita menyentuh jemari-jemari syair yang sebenarnya ada bebas di alam sekitar kita lewat tulisannya. Seperti kalimat di bawah ini.
Malam ini angin menggigiti tulang. Barangkali, hati yang lelah mencari telah membuat semesta berang. Dikirimkannya sekumpulan awan. Gelap menjajah langit malam. Rintik-rintik berjatuhan. Kenapa kesedihan identik dengan hujan? (hlm 261-262) 

Banyak Quote
Banyak sekali quote yang sarat makna dalam novel ini, beberapa diantaranya sebagai berikut.
"Tuan Putri, jangan pernah melibatkan urusan kamu sama orang lain! Jangan jadikan tujuan pribadi seolah-olah tujuan bersama!" (hlm. 92)
"Kalian enggak akan pernah jadi besar kalau enggak terima kritikan!" (hlm. 100)
Rasa marah adalah musuh besar logika. (hlm. 161)
"....Tindakan yang diambil dalam keadaan emosi akan sia-sia dan cenderung merugikan." (hlm. 171) 
"...kemenangan lahir dari proses, dari perjuangan! Kamu tahu, sebanyak apa pun kamu mencari pengakuan dari orang lain, kamu tidak akan pernah bisa memuaskan dirimu sendiri! Karena kepuasanmu bukan berasal dari hatimu sendiri!..." (hlm. 226) 
"Len, di dunia ini, ada dua hal yang pantas diperjuangkan. Yaitu impian dan cinta." (hlm, 242)
"...Kenapa enggak kejar impian dari sekarang? Kenapa harus tunggu kaya? Itu juga kalau kaya. Kalau enggak?" (hlm. 250)

Sarat Pesan Sosial dan Moral
Tulisan tanpa pesan, bagai tubuh tanpa jiwa. Penulis sadar itu. Tak hanya dari quote-quote penulis mengutarakan kekhawatirannya terhadap realita. Ia berpesan juga lewat karakter tokoh dalam cerita (contohnya Dania yang selalu cepat mengontrol dirinya). Lewat karakter Dania kita diajarkan menjadi sosok orang yang sabar. Lewat karakter Rizki yang cenderung tenang, kita diajarkan agar bersikap bijaksana dalam menghadapi sesuatu serta berpikir sebelum bertindak. Tak hanya itu lewat konflik dalam cerita (saat Dania dan Lena menemukan file rekaman tentang mereka bertiga di komputer Dion) penulis menghadirkan nilai sebuah ketulusan dari persahabatan. Kadang kita tak bisa melihatnya tapi kita bisa merasakannya. Jika kita sekali memberi waktu padanya, hal itu akan membuka tabirnya, sendiri. Ini yang seperti dialami Dania dan Lena.
Ya, kami kangen berat sama Dion. Tindakannya yang biasanya membuat kesal, mendadak jadi sangat lucu dan menyenangkan. Begitulah, ketika merasa kehilangan. Segalanya terlihat berbeda, atau barangkali cara pandang kita yang berubah. Entahlah. Yang pasti kami ingin Dion kembali. (hlm. 180)
Lewat cerita ini dan para tokoh yang ada di cerita (Dania, Lena, Dion, Rizki, dan Ryan), Evi seakan mengkritik para remaja sekarang. Yang mungkin lupa akan pentingnya mimpi dan masa depan. Yang mungkin terlalu banyak menghabiskan waktu di depan televisi, berfoya-foya tanpa memandang sebenarnya usia mereka ada masa emas untuk merintis sebuah karya. 



KEKURANGAN NOVEL

Seperti layaknya manusia di dunia ini, tak ada yang lepas dari kesalahan, novel ini juga punya beberapa sisi yang bisa dinilai sebagai kekurangan. Menghadirkan kekurangan dalam sebuah pembahasan bukanlah ajang melempar cercaan, cacian dan bukan ajang untuk menjelekkan karya tetapi lebih kepada bentuk apresiasi pembaca yang sebenarnya peduli terhadap tulisan. Hakikat penilaian lebih atau kurang sebenarnya sangat relatif dan subjektif, tak ada nilai absolut, karena bisa jadi kelebihan dinilai kekurangan, maupun sebaliknya. Berbeda pembaca, berbeda latar belakang, berbeda kesukaan, berbeda pula pemikirannya.

Bentuk Cover
Cover CineUs
Bentuk cover depan yang memiliki lembar terlipat kurang dapat dimaknai fungsinya secara fisik. Mungkin lembar terlipat di cover depan hanya ingin memberikan kesan unik  tetapi seperti dipaksakan. Bagi pembaca yang terbiasa menyampul buku sebelum membacanya, keberadaan lembar terlipat ini akan memberikan kerisihan tersendiri. Hal lainnya, cover depan terasa lebih tebal saat kita membaca lembar-lembar pertama novel. Jika keberadaan gambar kamera, segelas kopi, sketsa Lena & Rizki yang sedang duduk serta gambar-gambar lain yang terletak di bagian dalam lembar terlipat tetap ingin ditampilkan, gambar-gambar tersebut bisa diselipkan pada bagian dalam cover sebelum lembar kertas halaman novel. Hal ini sama seperti yang dilakukan dalam novel 12 Menit by Oka Aurora yang menempatkan beberapa foto scene kegiatan Marching Band Bontang pada balik cover novelnya. Gambar-gambar tersebut bisa juga hadir terkhusus setelah cover depan, semacam cover kedua (seperti pada novel Seandainya karya Widhy Puspitadewi atau novel The Mocha Eyes karya Aida M.A.). Atau juga bisa dimasukkan sebagai ilustrasi lainnya dalam novel ini. Ide-ide ini pastinya akan memberikan kesan yang lebih menggigit dan artistik dalam arti visual.

Sebagai pembaca, saya merasa janggal dan bertanya-tanya saat melihat sketsa tiga orang yang ada di depan cover novel. Apakah itu Dania, Rizki, dan Lena? Atau itu adalah Dania, Dion, dan Lena? Jika sketsa itu menggambarkan Dania, Rizki, dan Lena, agak janggal rasanya karena dari awal novel bercerita tentang perjuangan tiga sekawan yang memiliki kesamaan cita-cita menjadi seorang sineas. Jika sketsa itu menggambarkan Dania, Dion dan Lena, hal itu juga janggal. Mengapa? Karena sosok Dion dideskripsikan dalam cerita adalah berbadan gempal (gemuk) dengan tinggi yang lebih rendah dari Dania dan Lena. Jadi, apakah itu sketsa Rizki atau Dion?

Plot Awal: Kurang Greget
Plot cerita tidak dibangun kuat saat di awal cerita. Hal itu mengakibatkan alur cerita awal terutama bab pertama dan kedua terkesan datar dan membosankan. Belum lagi terlalu banyak kesan mengambang dari cerita ini antara lain, saat Lena mendapati potret Dion di bawah tempat tidur Diana, bagaimana kelanjutannya? Kedua, penulis juga memberikan kesan mengambang pada kisah Lena dan Rizki, ketiga kisah Adit dan Romi, apakah mereka akan terus mengganggu Lena sampai kapanpun. Keempat, bagaimana hubungan Dion dengan keluarganya. Bagaimana kisah Ryan?

Konflik Selesai Begitu Saja
Ada beberapa penyelesaian konflik dalam cerita yang jika dinilai terkesan kurang "wah" atau pas. Pertama pembaca akan diajak "mendaki" menuju puncak masalah, tetapi saat turun seperti dihempaskan jatuh. Ada beberapa penyelasaian konflik yang terkesan ngambang dan begitu saja. Ini membuat kesan konflik yang "diharapkan" menjadi datar saja. Contohnya masalah skenario yang tertukar.

Typo
Typo atau kesalahan penulisan merupakan salah satu penilaian minus pembaca terhadap sebuah novel atau karya tulisan lain. Sayangnya, kesalahan itu masih terdapat dalam novel ini. Berikut kesalahan penulisan yang saya dapatkan.
(1) Halaman 125, baris 13 dari atas. "Jangtungku terasa disengat aliran listrik.." (seharusnya ditulis jantung).
(2) Halaman 207, baris 1 dari  atas. "Setiap kali aku sewot mengahadapi tingkahnya,.." (seharusnya ditulis menghadapi).
(3) Halaman 209, baris 9-10 dari bawah. Rizki melirik kaca dekat setir sekilas, melihat kegelisanku. (seharusnya ditulis kegelisahan).
(4) Halaman 221, baris 3 dari bawah. Aku telalu letih untuk membalasnya. (seharusnya ditulis terlalu).

Ada yang Aneh
Tak ada seorang pun dari kami berniat mengejarnya. Kami hanya membatu. Perutku serasa ditusuk-tusuk ketika mengingat ekspresi Dion. Rasanya, aku familier dengan itu. Di mana aku pernah melihat ekspresi semacam itu? Aku tercekat, saat menyadari ekspresi milik siapa. Itu ekspresiku sendiri saat Adit mengakhiri hubungan kami dan menghakimiku. Ya Tuhan! (hlm. 159)
Potongan cerita di atas adalah salah satu potongan dalam novel CineUs yang menceritakan perginya Dion karena kesalahpahaman yang terjadi di antara tiga sekawan itu akibat akal busuk Romi. Yang menjadi pertanyaan dan dirasa sangat janggal adalah pada bagian "Di mana aku pernah melihat ekspresi semacam itu?"(pikir Lena). Bagaimana bisa Lena bisa "melihat" ekspresinya sendiri. Apakah dulu saat Adit mencampakkan dirinya, Lena sempat bercermin dulu untuk melihat bagaimana sedih ekspresinya? Ada baiknya mungkin jika kata melihat itu diganti atau kalimatnya yang diubah. Saran:
Tak ada seorang pun dari kami berniat mengejarnya. Kami hanya membatu. Tiba-tiba dadaku sesak, perutku serasa ditusuk ketika mengingat ekspresi Dion. Rasanya aku familier dengan itu. Pucat wajahnya, guratan alisnya yang tak mengerti, seperti menahan ledakan emosi, mata yang berkaca-kaca itu, dan luka di bibir akibat gigitannya sendiri. Aaahh, tidak. Aku pernah mengalaminya. Itu ekspresiku sendiri saat Adit mengakhiri hubungan kami dan menghakimiku. Ya Tuhan!

Kedua, dari sisi quote. Perhatikan dua kutipan ini.
"Jangan pernah menyeret siapa pun masuk ke dalam impian kamu! Jangan pernah! Kamu hanya akan menjadikan mereka tumbal dari obsesi busukmu!!!" (hlm. 227) 
Setinggi apa pun impianmu, kamu hanya butuh percaya. Seperti memercayai impianku. Sertakan orang-orang yang kau cintai dalam impianmu. Karena mereka adalah sumber kekuatan bagimu. (hlm. 280)
Kedua kutipan ini seperti bertolak belakang. Entah ini disengaja oleh penulis ataukah memang berlainan substansi makna (pesan yang disampaikan).

Ketiga, ada yang aneh tentang Rizki yang mencuri internet dari komputer sekolah. Bagaimana bisa seorang siswa mencuri internet dari komputer sekolah tanpa diketahui oleh guru? Apakah mencurinya saat malam? Apakah tidak ada satpamnya? Lalu masalah bunker. Jika memang peninggalan jaman dulu, bukannya tempat itu seharusnya ditutup? Apa pihak sekolah tidak melaporkannya pada pihak berwenang? Atau Pak Kandar malah menutupnya secara pribadi? Ini membingungkan karena tak mungkin jika dari pihak sekolah hanya Pak Kandar yang tahu. Pasti pendiri sekolah lah yang mengetahui lebih dulu dan pastinya mengingatkan.

Keempat, terkait pemenang di festival. Jika dicermati, agak aneh semua pemenang kategori film pendek berasal dari Bandung semua. Walaupun memang benar kenyataannya orang-orang Bandung piawai dalam membuat film (ditandai dengan festival penghargaan film Bandung beberapa waktu yang lalu), tetapi, dalam cerita, ini terlihat memberikan kesan "sempit" karena festival film remaja tersebut adalah ajang nasional.

Kelima. Jika kedudukan prolog mengantarkan kita pada awal pertama kali terbentuknya Klub Film, bukankah seharusnya epilog menjadi penutup cerita? Tapi yang dirasakan disini epilog yang tampil justru penggambaran cita-cita Lena yang ingin menjadi seorang sineas dari kecil. Padahal bagian ini seharusnya dicantumkan dalam penggambaran karakter sosok Lena dalam cerita. Ini seakan memperlihatkan bahwa penulis menulis epilog secara terburu-buru.


Terlepas dengan kelebihan maupun kekurangannya novel ini patut mendapatkan tempat di rak buku pribadi anda. Sebagai novel pertama dari seri S-ClubCineUs memberikan kesan berbeda di mata pembaca sebagai teenlit yang "berisi". Lewat novel ini kita seakan diingatkan kembali bahwa betapa pentingnya memperjuangkan mimpi dan merintisnya mulai dini. Novel ini sangat cocok untuk remaja masa kini yang mungkin terlalu mabuk dalam teknologi dan lupa akan tujuannya. Dengan gaya bercerita yang sederhana, natural, pembaca akan terasa diantarkan kembali menikmati perjuangan-perjuangan kecil mimpi dan kisah-kisah klub selama masa sekolah. 
Akhir kata, 4 of 5 star for CineUs by Evi Sri Rezeki.






Read full post »

Rabu, 18 Desember 2013

Dialog di Sebuah Perahu

0 komentar
Perempuan: 

Biarkan aku yang mendayung agar tetap lengkap tanganmu
Tak mengapa jika tanganku yang kukorbankan
Setitik, hanya ingin membalas kebaikanmu tuan


Lelaki:

Jangan engkau rusak apa yang telah aku jaga
Semata-mata tak ada kisah yang paling indah di hidupku yang renta
Selain membawamu pergi dari kenistaan
Mengantarmu kembali pulang ke samudera


Makassar, 2013

Read full post »
 

Copyright © Garis Satu Kata Design by Free CSS Templates | Blogger Theme by BTDesigner | Powered by Blogger