Jumat, 12 September 2014

Mungkin Malam

2 komentar
Mungkin malam memang teman yang paling setia. Bagi mereka yang merasa tak punya apa-apa, bagi mereka yang pernah mempunya kemudian kembali tiada (kepunyaannya). Mungkin begitulah. Malam selalu menjadi teman setia bagi siapa-siapa yang sendiri atau yang kemudian sendiri. Karena malam juga sebatang kara, seorang diri.

Mungkin malam memang pendengar yang paling baik. Bagi mereka yang sengaja bercerita, bagi mereka yang tak tahu ingin berkata apa pada sesiapa. Kiranya malam memang mengerti apa dan seluruhnya cerita-cerita, doa, bahkan perasaan yang sering kali ia dengar itu. Semuanya sama. Selalu tentang kesedihan, sepi, dan kehilangan. Mungkin begitulah. Malam tahu bagaimana rasanya hidup dalam sunyi, ia mengerti. Pikirnya jika bukan pada diriku, kemana lagi mereka akan menangisi rasa sakit ini?

Tapi...

Apakah malam sedih dirinya menjadi malam? Yang selalu sepi, sendiri, dan sedih sebagaimana rengek banyaknya manusia padanya?

Di tengah gigil, Malam meringkuk pelan, mengeratkan selimutnya perlahan. Di sampingnya, Bulan sedang terlelap. Entah, Sepi dan Sedih sedang kemana.


Makassar, 12 September 2014

Read full post »

Minggu, 24 Agustus 2014

Karena Puisi ialah Caraku Menjengukmu Kembali

4 komentar
Maka tinggallah sebentar dalam kata-kata ini
sebab hanya dalam puisi
dirimu masih kumiliki*


Mukjizat Amman

Tahukah kamu apa itu rindu? Ya, mungkin kamu tahu. Aku sangat yakin kamu mengerti. Karena kamu termasuk manusia yang merasa, punya panca indera. Aku juga yakin kalau kamu tak hanya sekedar tahu. Sepanjang perjalanan hidup, manusia tak mungkin melewatkannya. Kamu pun jua, pasti pernah mengalami. Bahwa merindu adalah pekerjaan menanti, pekerjaan yang menyakitkan sekaligus menyayangi. Tapi apakah kamu tahu bahwa ada rindu yang biru? Rindu yang terlalu sakit. Rindu yang lebam karena telah luka, tak pernah dibasuh hingga busuk begitu saja?

Sebenarnya, aku ingin mengungkap rahasia. Aku sedang merindukanmu. Merindukan kehadiranmu. Tatapanmu. Senyummu. Kacamata yang selalu bertengger tepat di kedua mata cokelat itu. Aku merindukannya. Semuanya. Dan itu membuatku menderita karena aku dihadapkan pada realita bahwa dirimu tak lagi bisa aku sapa, sentuh, dan sayangi lagi. 

Apakah kamu ingat setiap perjalanan pulang kita? Lebih baik aku memberitahumu duluan, aku mengingat setiap rinci kejadian itu. Tak ada yang romantis tapi bagiku itu adalah sebuah perjalanan yang manis. Singkat namun terasa panjang dan menenangkan. Karena hanya dengan tanyamu aku bisa tersenyum, dengan jawabanmu yang sering kali malu, dengan tatapanmu yang tak pernah aku bisa selami dalamnya, aku menikmatinya. Aku mengingat semuanya. Menikmati semua dengungan lagu yang kamu lantunkan. Tak ada nada, tak ada lirik sempurna, hanya suaramu dan ramainya jalanan. Aneh, tapi hal itu cukup membuatku merasa nyaman.

Hingga pada akhirnya keindahan yang ku nikmati itu usai dengan sendirinya. Dan sayangnya, kita tak bisa apa-apa. Kesalahan terjadi begitu saja. Sadarkah kalau kita berdua memang terlalu keras kepala?

Bukan maksudku untuk bisu, aku tak memilih untuk tak memanggilmu. Sejujurnya, dalam diam rindu ini aku rawat hingga dia menghitam. Kini, aku bingung antara memilih mencintai dan membenci. Aku tahu, ini egois. Tapi apakah aku salah? Aku hanya manusia! Dan saat kita sadar, kita telah terlambat. Bahwa apa-apa yang telah terjadi tak mungkin dipungut kembali. Seharusnya kamu sadar bahwa aku tak bisa dicemburui, seharusnya aku sadar kamu tak biasa dimarahi, dan seharusnya kita sadar apa-apa yang tak bisa kita lengkapi.

Maafkan aku. Jikalau saja malam itu kamu tak memelukku, aku tak akan pernah ada disini. Menulis puisi untuk menjengukmu kembali.

Malam ini, entah malam keberapa kalinya, aku seperti orang bodoh yang tak ada kerjaan. Bertengger di sudut gelap Fakultas Sastra, hanya untuk sekadar menunggu dan melihatnya pulang. Hanya untuk sekadar membenarkan pertanyaan atas rindu-rindu yang kini telah lebam.

*

Nur Afifah Hasanah

Dahulu aku perempuan yang kuat. Perempuan yang mengganggap bisa berdiri di kaki sendiri. Aku tangguh dan begitu teliti, membuatku benar-benar tak mudah untuk mempercayai. Tetapi, sekarang aku bukan seperti itu. Aku perempuan yang terlalu lemah, bahkan untuk sekadar melepas sapa dan tanya. Tahukah apa yang telah dirimu perbuat kepadaku? Bahwa hadirmu telah merusak hidup dan hatiku? Tahukah kamu telah mengiris mereka dan membawa sebagiannya pergi?

Aku tak pernah sadar memiliki sesuatu sampai aku sadar ada yang hilang. Ya, perasaanku sebagian telah hilang dan itu membuatku takut. Aku tak pernah bisa berani sekarang. Karena keberanianku mendadak terkikis dengan langkahnya yang teramat pelan mengabur. Tak kamu lihatkah bahwa diriku hanya pura-pura tegar? Pura-pura tertawa? Bahwa jauh dalam diriku selalu ada ruang yang membuatku sendiri.

Aku ingin mengaku. Aku mencintaimu. Sungguh. Sudah terlanjur jatuh dan teramat tenggelam. Membuatku benar-benar tak sadar hingga ketiadaanmu membuatku merasa hampa. Aku memang bodoh, terlalu kaku dan acuh. Bahwa dirimu ialah lelaki yang terlalu perasa. Seharusnya aku sadar dan mengerti, sudah semestinya sejak lama aku mengatakan jikalau aku benar-benar cinta.

Kini aku menyakiti diriku lagi. Mengingat-ingat seluruh leluconmu, pertanyaanmu dan semua tingkah kecil yang selalu manis buatku. Aku ingat bagaimana candamu ketika kita pulang mengendarai sepeda motor kesayanganmu itu. Kamu mengaku kedinginan dan memintaku untuk memeluk punggungmu. Andai saja kamu tahu, diantara pukulan tanganku dan penolakanku ada debar malu antara keinginan dengan kepura-puraan.

Aku ingin menangisi kebodohanku, kebodohanmu, dan kebodohan kita. Hingga kini, kita tak berani untuk bertemu atau sekadar bertegur sapa. Jadi, maafkan aku yang terlalu angkuh, terlalu tak percaya, dan menjerumuskanmu dalam liang ketidakpedulian, seperti diriku dulu.

Malam ini, entah malam keberapa kalinya, aku seperti orang bodoh yang tak ada kerjaan. Berdiri mematung di sisi taman sambil menatap kosong ke rerimbunan pohon yang selalu sama. Berharap dirimu ada di sana, menungguku, untuk kembali pulang bersama.


Catatan:
* ialah potongan dari puisi @el_nafyza yang berjudul Hanya dalam Puisi, Dirimu Masih Kumiliki

Read full post »

Senin, 14 Juli 2014

Cerita Tentang Ibu

0 komentar
Jika diminta bercerita tentang ibu, tentang apa-apa yang berkesan dengan ibu, maka aku akan bingung dan tak akan bisa bercerita apa-apa. Karena apa yang menyangkut dirinya, bagiku, semuanya tak bisa dilupakan. Tak akan bisa diambil dan diduakan. Begitu bernilai. Tawa dan senyumnya adalah kebahagiaan terbesar bagiku. Sendu dan tangisnya adalah kesedihanku jua. Sesederhana itu.

Bercerita tentang ibu seperti mengenang dirinya. Omelannya kala diriku yang malas mandi, teriakan suaranya yang serak (karena terlalu sering teriak) yang menyuruhku agar cepat pulang, dan nasihat-nasihat dirinya yang mengantarku ke perantauan adalah harta yang tak bisa dinilai dalam kepalaku. Bagiku, kenangan itu adalah berlian.

Tapi, dari sekian banyak cerita yang tak pernah kubisa lupakan tentang dirinya, ada beberapa di antaranya yang mengajarkanku tentang kebahagiaan dan kedewasaan. Ada pula yang dulu aku tak mengerti apa maksudnya, kini (setelah diriku kuliah) baru aku tahu jabaran tafsirnya.

Dulu, kira-kira tahun 2000, ketika aku masih duduk di kelas 2 SMP, kehidupan keluargaku sedang dalam titik terendah. Ibarat roda, posisi kami dekat sekali dengan tanah. Cobaan dan ujian silih berganti datang. Mulai dari tragedi pertengkaran dengan saudara tiri yang mengakibatkan aku, Ibu dan kedua adikku diusir dari rumah, sampai pada hari dimana kami hanya bisa makan nasi garam. Betapa begitu tegar diri Ibu saat itu.

Ibu hanyalah seorang penjahit. Sedikit demi sedikit ia menutupi belanja dengan upah yang diterima dari mengecilkan baju atau celana tetangga. Sewaktu itu ibu baru mempunyai mesin jahit dan belum dikenal kepiawaiannya kecuali orang terdekat dari rumah. Keberadaan ayah tak memberikan nafas segar apa-apa. Dirinya hanya batu! Dia terlalu banyak pertimbangan dan terlalu sayang kepada anak tirinya. Tak mengerti bagaimana setiap malam ibu menangis di tempat tidur, tak mengerti mengapa kantung mata ibu semakin besar dari hari ke hari.

Aku tak kuat. Tapi aku juga takut. Maka pada suatu waktu aku memutuskan untuk mencari uang. Tetapi aku tak tahu bagaimana caranya mendapatkan uang. Pernah seorang teman mengajak diriku mengamen di pinggiran lampu merah Rawasari, tepat di depan Universitas Trisakti, tetapi aku ragu. Begitu banyak preman di sana, apalagi isu-isu kelompok kampak merah sedang panas. Maka tawaran itu aku tolak.

Pilihanku jatuh pada sebuah tempat pemakaman umum. Iya, aku mencari selembar demi selembar uang seribuan dengan membersihkan makam. Hari itu, matahari begitu terik. Berbekal sebuah sapu lidi, aku mulai bekerja. Kutunggui satu-satu pengunjung yang datang, kemudian mengikutinya dari belakang. Satu kuburan, dua, hingga entah keberapa telah aku bersihkan. Peluh tak kupedulikan, pikirku saat itu yang penting hanyalah mendapatkan uang.

Hari sudah sore ketika aku sampai di rumah Ibu Jamal, rumah yang sebagiannya disekat (dibagi dua) agar bisa kami kontrak. Ibu ternyata telah menunggu di depan pintu. Melihatku kotor dan pergi tak bilang-bilang, ia marah. Keringatku belum juga kering (karena aku memilih berjalan kaki, tidak menaiki metromini 46), nafasku belum teratur sepenuhnya, mendengar dirinya murka, mataku seakan mengabur. Lapisan air seperti ingin jatuh dari sana.

Aku tak menjawab semua pertanyaan Ibu. Aku hanya merogoh kantung celana pendek hitamku yang telah lusuh dan memberikannya uang 12.000 rupiah. Kemudian pertahananku runtuh. Aku terisak sambil menjelaskan bahwa diriku tadi dari pemakaman umum di daerah Rawamangun. Ibu kaget dan kemudian memelukku. Tubuhku dan dan dirinya bergetar. Yang aku ingat saat itu hanya, kata-kata yang dibisikkan di telinga kiriku.
“Maafkan Ibu, Man. Ibu enggak tahu”
Disekanya pipiku dengan ujung bajunya. Kemudian ia menggodaku.
“Ternyata anak Ibu udah pintar nyari uang ya?”
Kulihat senyum ibu mengembang. Isakku perlahan hilang. Dan kemudian kami larut dalam keharuan, keharuan yang hanya dimengerti oleh ibu dan anak, keharuan yang baru bisa aku jabarkan bentuk dan maknanya sekarang.

Foto Ibu sekarang. (Soalnya enggak punya foto berdua sama ibu :D)

Begitulah. Semua hal tentang ibu tak pernah tak ada yang berkesan. Segala tentangnya selalu memberikan makna dan pelajaran. Baik langsung maupun tersirat. Tetapi, aku masih belum bisa membalasnya. Maafkan aku ibu. Maafkan anakmu ini. Aku masih belum bisa membalas apapun, tapi masih saja sering kali aku membohongimu. Maafkan aku ibu. Meski kini kita terpisahkan jarak yang luas, percayalah bahwa aku selalu mendoakan dirimu, ibu.
  
Tulisan ini diikutsertakan dalam 

Read full post »

Kamis, 26 Desember 2013

Pulang, Aku Suka Padanya

0 komentar
Pernah suatu hari aku berjalan pulang. Entah kenapa hari itu aku lebih memilih berjalan dari pada mengendarai motorku. Masih teringat pula pertanyaan seorang adik perempuan yang tadi malam kubonceng di belakang. "Kenapa lewat jalan ini kak? Kan lebih dekat jalan yang tadi" tanyanya padaku. Kujawab, "Aku lebih suka berkeliling dulu sebelum pulang. Jika ada dua jalan pulang yang diberikan padaku, maka aku akan memilih jalan yang jauh". Tak puas, perempuan berjilbab coklat itu lantas bertanya kembali, "Lho kenapa kak? Gak kasihan ama bensinnya?". Aku tersenyum, meski ia tak melihatnya, "Entah mengapa aku suka, aku suka menikmati perjalanan pulang".

Aku merasa, sepertinya jawabanku tadi tidak membuatnya puas. Seakan ada nafas yang tergantung pada dirinya. "Aku suka mengamati keramaian jalan. Mobil-mobil dan motor-motor itu, para penyebrang jalan, para penumpang yang menunggu jemputan, para penjual di pinggir jalan, sampai jikala hujan aku senang walaupun hanya sekadar melihat dari jauh apabila para bocah-bocah kecil seperti disana berlarian sambil memegang payung yang tak dipakainya". Entah ia tersenyum di punggungku atau hanya sekedar menghela napas pelan seakan setuju. Aku hanya merasakan sisi tubuhnya yang hangat.

Entah sejak kapan aku menyukai kebiasaan ini. Sejenak memperlambat langkahku pulang untuk sekadar menikmati sebuah perjalanan kembali. Pernah, iya pernah, aku membeli batagor di pinggir jalan. Hanya untuk sekedar duduk dan melayangkan pandangan. Pada muka jalan, pada kendaraan yang banyak berlalu lalang, pada ruko-ruko di belakang yang tertib berjejeran, dan pada pejalan kaki di tengah canda dengan seorang kawan, aku tersesap dalam pikiran. Sedikit memaknai memakai hati, entah kapan aku lupa "melihat" dunia ini. Aku terlalu sibuk dengan hidupku ini.

Kini langkahku telah membawaku pada sebuah jalan sempit. Sebuah gang yang basah seperti disapa hujan sebentar. Ah, tak lama lagi aku sampai di rumah. Aku tersenyum, menyampaikan salam takzim, salam paling sopan. "Sepertinya kita akan segera berpisah, pulang. Kembali ke rumah masing-masing". Aku menyukainya. Semoga esok aku bisa berlama-lama dengannya.

Makassar, 2013

Read full post »

Selasa, 24 Desember 2013

Cerita di Sebuah Pagi

2 komentar
Credit

Pada embun yang menyapa jendela
pada tanah-tanah basah di pagi buta
aku bersyukur pada pencipta semesta
nafasku belum pergi kemana-mana

Hari ini aku bersyukur pada pencipta semesta, nafasku masih bersarang dalam raga. Tiada nikmat terindah dari sang pencipta selain masih diberi kesempatan untuk selalu memperbaiki diri. Hanya mungkin aku yang tak tahu diri. Terkadang lupa jika semua akan dimintai pertanggungjawaban nanti. Astaghfirullah.

Pagi ini saya terbangun dengan ketenangan dan penasaran silih berganti. Entah karena sebuah mimpi yang kusambangi malam tadi. Entah pula karena aku tak tahu apa tafsiran sebuah mimpi. Aku tak tahu pasti. Tetapi aku tetap bersyukur masih diberikan ketenangan dalam pembukaan pertama mataku ini, setelah sekian jam aku "mati".

Hujan awet masih mengguyur rumah. Rona wajahku pun berubah. Dingin yang serta merta merasuk pori-pori raga justru tidak membuatku melontarkan keluh puah. Aku bersyukur, tunduk dan patuh. Berkontemplasi diri bahwa aku tidak sekedar apa-apa dari kekuatan miliknya yang melimpah ruah.

Pagi ini membuatku hatiku senantiasa dikawal tenteram. Aku menemukan sosok perempuan yang mengenakan "rok hitam". Saat itu kalbu bertasbih serta merta, tak menyangka bahwa dunia ini lebih indah dan jauh dari kelam. Ia sangat pandai melukis aksara dan membuatnya indah serupa bermakna dalam. Tak hanya melukis, sepertinya ia pandai menyulam. Membuat rindu dan beribu kata hati menjadi pakaian hangat, serupa tangan sepasang kekasih yang saling menggenggam.

Ah, entah mengapa aku merasa jengah sendiri. Meratapi diri yang sebenarnya tak punya arti dibanding beragamnya dunia ini. Aku berpikir, mengukir sebuah tanya pasti. Bagaimana bisa perempuan sekilau ini? Menyimpan banyak misteri. Tak hanya dalam hati, bahkan pada tampilan sederhana diri. Subhanallah. Aku kagum pada sosok perempuan ini, pemilik kekata paling puisi.

Terima kasih Tuhan, Engkau hadiahkan pertemuan ini. Aku berjanji akan belajar seraya menikmati. Melihat dunia lewat megahnya kesederhanaan sajak-sajak hati. Ukiran kekata merdu milik perempuan ini.

Makassar, 24 Desember 2013

Read full post »

Senin, 02 Desember 2013

Sepucuk Surat untuk Kamu

0 komentar




Dear D...

Aku ingin membuat sebuah pengakuan. Pengakuan yang mungkin tiada artinya dalam hidupmu, namun mengambil makna dari sebagian hidupku. Pengakuan yang serupa daun pagi yang terhempas setengah sisinya. Seperti tak seimbang, karena tak seluruhnya sama, karena tak dua-duanya mungkin merasa.

Aku ingin memulainya dari sebuah pertemuan. Pertemuan, kala mataku membingkaimu dalam tatapan. Tatap itu terjadi kira-kira dua tahun silam. Memang, sudah lama. Aku melihatmu dari sebuah foto. Foto formal sederhana berukuran 3x4. Yang tampak hanya potongan setengah dirimu. Dengan kerudung hitam dan baju berwarna biru tua, kamu tampil begitu sederhana. Kuperhatikan lekat parasmu, meski tak cukup jelas. Garis wajah yang teduh, tak menampakkan sikap angkuh sekilas kutemukan di sana. Aku tersenyum tipis. Hatiku menggumam kala itu. "Seperti apa orangnya yah?"

Mataku kemudian mulai menyapa dalam tatap nyata. Temu yang sebenar-benarnya temu. Aku melihatmu secara langsung. Tanpa tirai, tanpa sekat, tanpa halang bayangan. Sosok perempuan berkerudung hitam, berkulit sawo matang namun cenderung putih dan bersih. Kupandangi beberapa lama, kubiarkan anganku beranak asa dalam semesta pikir. "Sama, masih tetap sama. Seperti di foto" batinku. Baju biru tua dan rok panjang hitam membuatmu terlihat apa adanya. Tak ada senyum maupun tawa, hanya diam yang bersandar di wajah. Lekat, kutatap rapat bersela jauh jarak. Kala itu aku mendekap doa dalam hati, "Semoga aku bisa mengenalnya nanti.".

Setahun berjalan, sesap, aku mencuri pandang di balik pundak teman. Sekedar melepas rindu akan rasa yang tak pernah dimengerti. Ini candu. Hingga akhirnya doaku terjamah. Sapa memperkenalkan kita. Waktu itu kita sedang rapat, entah tentang apa. Jam dinding menunjukkan pukul lima sore. Dalam ruang yang cukup luas itu namun sesak karena penuh nyawa, kamu berdiri, melangkah menuju pintu. Entah karena apa, lisanku berkata.

"Mau kemana? Kok cepet banget pulang?" tanyaku dengan nada melarang tapi diselingi senyum jua. 
"Iya kak, datang jemputanku." jawabmu dengan senyum kikuk. 
"Emangnya siapa yang jemput? Rapat belum selesai nih." tahanku.
"Ada bapakku kak." jawabmu, senyummu sopan.
Sejenak aku berpikir. "Oooo." sahutku dengan wajah serius.
"Kalau begitu salam buat bapak yah." ledekku. Kuselipkan senyum padamu. Kamu tersenyum. Sedikit tergesa kamu pakai sepatu flat itu. Sedikit berlari, lalu berlalu. Senyummu belum hilang.

Semenjak itu aku jarang bersapa denganmu. Mungkin karena kesibukan kuliah dan praktek yang membuat lupa atau sekedar suratan yang belum menyatakan kesempatan. Tetapi aku tetap bersyukur. Walau tanpa sapa, aku tetap senang saat menemukanmu tersenyum di tengah teman-temanmu. Senang menemukanmu, saat kamu tertawa oleh celoteh lelucon sahabatmu. Senang menemukanmu, saat seolah berbisik dengan para perempuan di sampingmu.

Hingga tanggal 31 Agustus 2013 semua jelas begini adanya. Barulah aku sadar, aku tak hanya sekedar kagum padamu. Lagi, takdir mempertemukan kita dalam sebuah acara halal bi halal. Malam itu, mataku malu. Kamu cantik sekali. Lebih cantik dari yang tercantik. Meski dalam bisu, aku merasa bahagia. Seakan memberi makan rindu yang tengah kelaparan, aku tak bisa berhenti melihatmu. Tepat di belakangmu, dua kursi ke kanan, aku disana membunuh rindu, sendiri. Menggila sendiri, tak bisa ditahan. Kupinjam android temanku, kutuliskan perasaanku lewat akun twitterku.


D...

Aku menyukai kesederhanaanmu, kala dulu. Namun kini, aku mencintai keanggunanmu. Entah mengapa berganti. Mungkin karena mereka sebenarnya sama, kamu. Kini, bermacam warna kerudung menghiasi parasmu. Tak jarang juga aneka warna pasmina memperindah mahkotamu. Kamu tampak lebih dewasa dan memukau. Pesonamu, aku tenggelam di sana dalam-dalam.

Lewat surat ini aku ingin mengaku bahwa aku telah jatuh hati padamu. Hatiku telah tertambat di setiap bayangan senyummu, di setiap jejak langkah kepergianmu yang sering kuperhatikan. Karena itu izinkanlah aku berterima kasih. Kehadiranmu sungguh bermakna dalam hidupku. Walau hanya berteman diam, bersanding sepi, tanpa aksara maupun kata yang terucap, aku tetap memuji Sang Ilahi, bersyukur.

Kamu telah membuatku membuka mata. Membangunkanku dari tidur lama yang kerap buta rasa dan dunia. Kehadiranmu sekali lagi membuatku menikmati indah kata sakral cinta. Membuatku kembali tahu bagaimana merasa rindu bahkan sebelum mencinta. Membuatku kembali sadar arti cinta yang sebenarnya, pembeda antara makna rasa dengan nafsu belaka.

Terima kasih D...
Aku mencintaimu.


Salam rindu yang paling hangat,
Dari yang diam-diam mencintaimu.

Read full post »

Rabu, 11 September 2013

Karena Senyuman

0 komentar
...
"Entah mengapa pagi ini jadi begitu indah. Mungkin karena senyummu adalah sebuah hal paling bermakna dalam hidupku."

***

"Huuuuufffffft" hembusan nafasku kali ini mungkin terdengar kesal.
Kulihat layar handphoneku sekali lagi.
"Aduuuh, sial amat sih! Ngapain juga gua yang disuruh urus surat sih?!" logat Jakarta keluar dari mulutku jika aku sedang badmood.
Kulempar HP itu ke kasur. Sedikit kubanting sepertinya.
Tak lama kemudian.
"Drrrrrtttttt, drrrrrtttttt" handphoneku bergetar kembali.
Sejenak aku sedikit malas mengambil kembali handphone itu sejak kulempar kesal.
Tapi, lekat-lekat rasa penasaranku menyeruak.
"Jangan-jangan sms dari mama! Dia kan mesti tau kalau uang bulananku udah menipis." sergahku cepat.
Kuambil cepat handphone jadul itu. Kulihat di layarnya. 1 message

Masbroooo, jangan lupa yah. Nanti sebelum ke rumah sakit, singgah dulu di kampus. Ambil surat sama Kak Tifah di admin. Ok? Tolong yah.

Pengirim: Dian

"SIIIAAAALLLLL!!!" teriakku.
"Males banget gua!"
"Kan gua bukan KETUA!!" marahku seorang diri.

Kubuyarkan pandangan ke dinding kamar kost ku yang berukuran 3 kali 3 ini. Kulihat jam dinding di salah satu sisi. Jam setengah delapan rupanya. Kubuka kaos hitam yang kupakai tidur tadi malam. Setengah telanjang, kulangkahkan kakiku ke tempat jemuran. Kuambil handuk. Seraya melilitkan di pinggangku, aku berpikir sejenak.

"Haaaahhhh" desahku.
"Semoga abis mandi mood jadi rada enakan." gumamku dalam hati.

----------

Pukul 7.45 WITA. Cepat juga aku mandi ya. Dengan sedikit tergesa kucari-cari pakaian yang cocok untuk kupakai hari ini. Celana kain, oke. Kemeja lengan panjang, oke. Seeett, seeeettt. tak begitu lama, akupun telah rapi. Kuselempangkan tas di bahu kiriku. Sejenak aku memeriksa.

"Ada yang kelupaan gak yah?" tanyaku sendiri.
Cek per cek...
"Jas, ada. Laporan, ada. Note sama pulpen, ada." rogohku ke dalam tas memastikan.
"Eh, ID Card ada gak yah?"
Kutelusupkan tanganku lebih dalam.
"Lho? Kok gak ada sih?" cemasku muncul.
Tapi...
"Alhamdulillah, ternyata udah nyantol di jas, hahaha."

----------

PERFECT. Sekarang aku terjebak macet. Perasaan pastinya sudah gak karuan. Kalau ada yang namanya telur dadar yang dibuat dengan cara dikocok, mood ku pagi ini mungkin telur dadar yang dibuat dengan cara diaduk, banting, injak, serta dilempar-lempar. Pikiran mumet ruet. Kualihkan pandangan mencari hal-hal yang bisa sejenak melupakanku dengan kekesalan yang gak penting ini. Lihat ke kanan. Lihat ke kiri. Nihil. Hanya rentetan mobil yang menunggu giliran untuk maju dan beberapa pengendara sepeda motor yang sama sialnya seperti diriku. 

Masih bertengger di atas motor mio kesayanganku ini, kutarik keluar handphoneku. Pukul 08.15 WITA. BAGUS! Terlambat ini namanya. Disaat genting gini, berpacu dengan waktu, eh, ternyata keadaan yang gak mendukung. Gini deh jadinya. Aku mencoba berdiri sesekali di atas motor sambil tetap mempertahankan keseimbangannya.

"Aduuuhhh, goblok banget gua! Ada wisuda hari ini. Napa gua make milih jalan ini tadi yak..." sesalku lirih.

Barulah 30 menit kemudian aku bisa keluar dari kemacetan itu. Dengan sedikit berlari, kunaiki tangga menuju lantai tiga, tempat bagian administrasi jurusanku berada. Kulihat dua sosok separuh baya sedang berdiri di depan admin. Kusipitkan mataku seakan berusaha memperbaiki fokus mataku ini. Ternyata itu adalah Pak De' dan Pak Makmur.

"Pak De', stase di bagian mana sekarang?" sapaku pada pria paruh baya yang sebenarnya tentara ini.
"Kardio. Kamu dimana?" sapanya kembali.
"Aku di Interna pak. Sudah ada Kak Atifah?" tanyaku kembali.
"Belum ada tuh, tadi aku udah telpon ke HP nya tapi dia bilang baru berangkat." jawab sosok pria yang kadang saya panggil kakak juga sih.
"Ternyata..." keluhku kemudian. "Pak De' lagi urus surat kan? 
"Iya, semua kelompok sepertinya belum ada suratnya untuk masuk ke bagian stasenya masing-masing." jawabnya sembari mengepulkan asap rokok dari mulutnya.

Syukurlah. Paling tidak aku bersyukur ada Pak De' disini sebagai teman ngobrol. Asyik mengobrol tak terasa moodku rada enakan. Memang Pak De' ini walaupun sudah memiliki anak tiga tapi tetap saja enak dan nyambung kalau diajak ngobrol dengan orang-orang yang lebih muda darinya. Tak terasa, sudah lima belas menit berbincang dengannya. Asyik juga yah ternyata.

Sembari mengobrol, pikiranku tiba-tiba tak lagi fokus. Pandanganku teralih pada sosok yang sedang berjalan menuju ruang praktek. Kucoba memperjelas. Tidak bisa. Akhirnya aku hanya bisa kutatap lekat-lekat meski dari kejauhan. Jilbab biru tua. Sepertinya dibentuk seperti hijab. Aku mungkin tak terlalu tahu sih. Kemeja lengan panjang dengan warna yang senada dibalut dengan rok warna hitam dengan taburan warna kuning yang menyamping. Cara berjalannya menawan. Belum sempat aku menelisik lebih jauh, sosok itu berbelok dan hilang di balik pintu.

Tak cukup lama, sosok itu datang kembali ke arahku. Jarak 5 meter barulah aku agak mendapatkan gambaran. Kemeja lengan panjang dari bahan blue jins, dipadu dengan balutan rok dari bahan linen dengan motif bunga menyamping berwarna kuning. Ada renda seperti benang-bengang tipis yang menjuntai ke bawah yang semakin mempercantik si pemakainya. Kuturunkan pandanganku sedikit, kulihat kaos kaki putih menyelimuti kakinya ditemani dengan sepasang sepatu flat warna abu-abu yang mengkilap. Cocok sekali dengan kakinya.

Kali ini kualihkan pandanganku ke wajahnya kali ini. Detak jantungku tiba-tiba menguat. Aku kenal wajah ini. Entah sejak kapan senyuman itu dibentuk dari bibirnya. Dan entah sejak kapan pula pandangan bola matanya beradu denganku. Ia tersenyum, teduh. Berjalan dengan anggun dibalut pakaian kasual seperti itu tapi tetap tertutup. Sungguh menawan. Kubalas senyumannya dengan rekahan dan tatapan yang sama. Berharap ia pun merasa seperti yang kurasa. Kemudian berlalu.

Sejurus aku tahu ternyata ia keluar dari kelasnya dengan tujuan mengambil kursi di bagian administrasi. Ia menentengnya separuh berlari. Entah tergesa karena apa. Walau ia tak melihat, aku tetap memberinya senyuman. Berharap hatinya dapat menduga aku berlaku demikian. Aku pun berharap jua hatinya tersenyum membalas. Seketika semua kekesalanku pagi itu sirna. Semua lenyap dan terganti dengan kerinduan. Kapan lagi aku dapat berjumpa dengannya...Perempuan pagi pemberi senyum. :)

***
Read full post »

Selasa, 27 Agustus 2013

Aku Ingin Lari...

4 komentar
...
"Terkadang aku merasa kebahagiaan ini milik dunia, bukannya milikku..."

***

Wuuuussshhhh. Terdengar jelas suara dengung di kedua telingaku. Angin itu seperti menyeruak masuk di celah-celah helm yang kupakai ini. Ia seakan memburu, memenuhi pendengaranku. Kupacu sekali lagi motor yang kukendarai. Pada speedometer kulihat jelas, jarumnya menunjuk ke angka 100. Aku tak peduli lagi. Kusalip beberapa mobil di depanku. Satu persatu motorpun aku lambung. Badanku terasa mengawang, menghantam angin yang seakan ingin menerbangkanku. Aku tercekat, menahan napas. Aku hampir terhimpit di antara di antara dua truk besar yang sedang melaju. Aku menoleh ke belakang. Sekilas kulihat sopir truk itu menunjuk-nunjuk ke arahku. Mulutnya terbuka seperti mengumpatku. Aku tak peduli. Kini, pikiranku sangat kacau. Aku ingin berteriak. Aku ingin lari. Ya, aku ingin lari dari kehidupan dan kenyataan ini. Kata-kata yang mereka ucapkan tadi masih sangat jelas terekam di otakku. Bahkan dari bibir manisnya, aku tak menyangka. Aku tahu. Aku sadar. Karena sepertinya kebahagiaan bukanlah milik orang jelek seperti diriku ini. 

***
Read full post »
 

Copyright © Garis Satu Kata Design by Free CSS Templates | Blogger Theme by BTDesigner | Powered by Blogger