Minggu, 20 Juli 2014

Perjalanan Kocak dan Luar Biasa Pria Tua 100 Tahun

1 komentar
#The100Yoman
Judul Buku : The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared
Penulis : Jonas Jonasson
Penerjemah : Marcalais Fransisca
Penerbit : Bentang Pustaka
Cetakan : Cetakan Pertama, Mei 2014
ISBN : 978-602-291-018-3
Harga : 59.000

Blurb

Allan Karlsson hanya punya waktu satu jam sebelum pesta ulang tahunnya yang keseratus dimulai. Wali kota akan hadir. Pers akan meliput. Seluruh penghuni Rumah Lansia juga ikut merayakannya. Namun ternyata, justru yang berulang-tahunlah yang tidak berniat datang ke persta itu.

Melompat lewat jendela kamarnya, Allan memutuskan untuk kabur. Dimulailah sebuah perjalanan luar biasa yang penuh dengan kegilaan. Siapa sangka, petualangannya itu menjadi pintu yang mengungkapkan kehidupan Allan sebelumnya.
Sebuah kehidupan -tanpa terduga- Allan memainkan peran kunci di balik peristiwa penting pada abad kedua puluh. Membantu menciptakan bom atom, berteman dengan Presiden Amerika dan tiran Rusia, bahkan membuat pemimpin komunis Tiongkok berutang budi padanya! Siapa, sih, Allan sebenarnya?

*****

“Segala sesuatu berjalan seperti apa adanya, dan apa pun yang akan terjadi, pasti terjadi.”

Mungkin inilah sebaris kalimat yang terlintas ketika Allan Karlsson tanpa pikir panjang melompat dari jendela kamarnya. Ia lebih memilih jalan “mati” yang lain daripada terjebak dalam rangkaian kebosanan di Rumah Lansia dan meniup kue ulang tahunnya yang keseratus. Ya, dirinya nekat melarikan diri dari acara ualng tahunnya sendiri yang dihadiri langsung oleh Walikota tepat satu jam sebelum acara tersebut dimulai.

Tanpa perencanaan apa-apa, Allan terus melangkahkan kakinya (berlomba dengan rasa sakit di lututnya) hingga sampai di Terminal Bus Malmkoping. Siapa sangka, aksi gila kakek 100 tahun itu tak sampai disitu. Begitu ia memutuskan untuk menaiki bus ke arah Stragnas, ia secara tak sengaja juga mencuri sebuah koper beroda besar yang tadi dititipkan seorang pemuda kurus berjaket yang bertuliskan “Never Again” kepadanya. Pikirnya, mungkin dalam koper itu ia dapat memperoleh baju ganti dan sepasang sepatu.

Alhasil, ternyata, tindakan nekat Allan mencuri koper itu justru memberikan salah satu cerita petualangan yang sangat kocak di usianya yang telah seabad ini. Sebuah perjalanan yang sangat berbeda dari pertualangannya semasa muda. Mulai dari pertemuannya dengan seorang pria tua pencuri, kemudian Allan menjadi incaran kelompok gangster, dikejar polisi, menjadi bahan perbincangan media, sampai dicurigai sebagai pembunuh. Lucunya, Allan sama sekali tak pusing dan tak merasa dirinya terlibat masalah.

Hal mencenangkan justru terkuak dengan sendirinya pada petualangannya kali ini. Allan Karlsson pernah terlibat dalam beberapa peristiwa penting semasa perang dunia ke-2. Mulai dari pertentangan komunis, sosialisme, liberalisme sampai kejadian-kejadian yang mengantarkannya bertemu dengan Harry Truman, Stalin, Mao Tse-tung dan saudara Einstein. Allan bahkan pernah mendaki Himalaya dan hampir mati. Tak ada yang menyangka bahwa dirinya punya andil dalam sejarah dunia.

*

Novel yang kocak dan keren! Tema yang berbeda dari yang lain. Dengan cara bercerita yang maju mundur, penulis mengajak pembaca “menerka” ulang sejarah lewat kaca mata Allan. Tak heran jika melihat kenyataan bahwa Jonas Jonasson adalah seorang jurnalis. Tak ayal, juga dengan penggambaran deskriptif yang sangat detail, sesekali pembaca terasa menikmati “keberadaannya” di Swiss, Swedia, Iran, Korea Utara, Perancis, Cina, hingga Rusia. Di sisi lain, pembaca seakan  merasakan rangkaian demi rangkaian peristiwa maupun konflik yang hadir. Begitu mengalir dan terkesan unik.

Penggambaran tokoh Allah yang terkesan tak tertarik pada politik juga merupakan sebuah ide brilian yang mendukung penulis dalam memutar ulang sejarah perang dunia ke-2 lewat perspektifnya. Plot terasa kuat ketika Jonas memberikan twist di beberapa sisi dan menimbulkan sensasi komedi yang meledak. Contohnya saja saat Allan meledakkan rumahnya. Benar-benar tak disangka-sangka :D

Cover novel yang hadir minimalis memberikan stimulus seperti ada “rahasia” dalam novel. Kombinasi yang pas!

Terlepas dari semuanya, novel terjemahan ini sangat patut mendapatkan tempat di rak buku anda. Mengapa? Salah satunya karena pada beberapa bagian dan akhir novel, negara Indonesia disebutkan. Apa itu? Yuk cari tahu :D




Read full post »

Minggu, 13 Juli 2014

Resensi Fantasy: Love doesn't conquer all, faith does.

0 komentar
Fantasy
Judul Buku : Fantasy
Penulis : Novellina A.
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : Cetakan I, April 2014
Tebal Buku : 312 hlm
ISBN : 978-602-03-0355-0

Blurb

Butuh tujuh tahun bagi Davina untuk memberanikan diri menginjak kota Tokyo, mengejar kembali apa yang telah hancur saat ia membiarkan Awang pergi mengejar impian. Perjalanan itu bukan semata untuk memenangkan kembali cintanya, namun ia membawa benih mimpi sahabatnya, Armitha: mimpi untuk berada di satu panggung kompetisi piano bersama Awang untuk membuktikan siapa yang terhebat di antara keduanya.

Fantasy berarti mimpi, imajinasi. Hingga sejauh apa Davina, Armitha, dan Awang melalui jalan mimpi yang tak pernah mudah? Inilah saatnya cinta, persahabatan, kesetiaan, dan kepercayaan teruji. Dari Surabaya, Tokyo, Singapura, Paris, Berlin, hingga Wina, mereka berlari menyambut mimpi, mencoba membuktikan bahwa mimpi tidak terlalu jauh untuk digapai selama mereka selalu melangkah untuk meraihnya.

***

Ketika cinta, persahabatan, dan mimpi dipertaruhkan, dimana takdir mempertemukan mereka pada persimpangan, mana yang harus dipilih? Apakah harus merelakan meninggalkan cinta demi impian? Apakah persahabatan di atas segala-galanya? Ataukah justru ketiganya dapat beriringan hanya saja kita yang salah menginterpretasikan sehingga yang terlihat mata hanyalah ketidaksinambungan? Mungkin inilah sebagian hal yang ingin didiskusikan oleh Novellina dalam novel pertamanya ini.

Fantasy bercerita tentang persahabatan tiga orang remaja, Davina, Armitha, dan Awang, yang kemudian tandas di tengah jalan akibat perhelatan antara cinta, kepercayaan, dan impian. Awalnya, Davina dan Armitha adalah sepasang sahabat. Anehnya, karakter keduanya tak sama. Davina ialah seorang perempuan cantik, tinggi, dan blesteran (seperempat Belanda) yang tak punya perhatian terhadap penampilan. Rambutnya cenderung tak rapi dan tak pernah pusing jika pergi kemana-mana hanya dengan memakai kaos oblong dan jeans. Sedangkan Armitha adalah perempuan indo, cantik, bermata tajam (lebih sering dibilang judes) yang memiliki hobi memasak, menjahit, tapi tak pernah suka membaca serta mengerjakan PR. Armitha lebih memperhatikan penampilan dibandingkan Davina, itu terlihat dengan kesungguhannya dalam berpakaian yang selalu menunjukkan keselarasan dalam memilih model dan warna (senada). Tetapi, justru perbedaan itulah yang membuat mereka dekat dan saling melengkapi.

Pertemuannya dengan Awang terjadi akibat aksi nekat remaja laki-laki berbadan besar itu yang meminta Davina untuk memperkenalkannya pada Armitha. Ya, Awang menyukai Armitha sejak awal. Baginya Armitha adalah sebuah misteri yang sangat menggiurkan untuk dipecahkan. Pribadi Armitha yang terbuka dalam hal emosilah yang menyebabkan Awang menyukainya. Armitha terlihat apa adanya, kira-kira itulah yang ditafsirkan Awang dalam pikirnya.

Pembawaan Awang yang supel dan gampang bergaul, yang mampu membuat orang selalu merasa nyaman di dekatnya, membuat dirinya menjadi dekat dengan Armitha dan Davina. Mereka sadar bahwa Awang tak selalu tampil selengean, ada suatu pribadi dalam dirinya yang mampu diandalkan, setia kawan.

Persahabatan mereka bergulir sampai suatu ketika Davina mendapati Awang bermain piano di perpustakaan sekolah. Komposisi yang didengar Davina begitu sedih dan menyayat hati. Seketika Davina melihat hal yang lain dalam diri Awang. Kharisma dan ketampanannya terpancar. Davina jatuh hati, ia begitu terpesona. Dan tanpa ia sadar, ternyata dirinya sejak saat itu menyimpan perasaan pada Awang.

Dilema terjadi saat Armitha mulai membalas perasaan Awang. Davina mendapati mereka sedang bermain piano. Awang menatap Armitha dengan tatapan mendamba, sedang Armitha membalasnya dengan keceriaan. Pemandangan penuh kebahagiaan tetapi Davina tak mampu menerima itu. Hatinya sakit, dadanya sesak. Apakah ia harus mengalah pada perasaannya sendiri? Yang ia tahu saat itu hanya pergi dari tempat itu.

Apakah yang akan terjadi pada Davina? Apakah ia menjauh dan memutuskan persahabatan dengan Armitha? Ataukah justru Awang juga menyimpan perasaan yang sama terhadap Davina?

*

Kiranya perlu memberikan sebuah apresiasi yang besar pada Novellina karena kesuksesannya menjebak pembaca dalam labirin rasa yang ada dalam Fantasy. Sebagai novel pertama, Fantasy tergolong memukau dan menyorot banyak perhatian pembaca. Temanya sangat unik, musik klasik. Alhasil pembaca dapat mengenal beberapa contoh komposisi klasik seperti karya Mozart, Beethoven, Stravinsky dan lain sebagainya. Kelihaian penulis dalam meramu informasi ini seakan-akan menyihir para pembaca untuk berprasangka bahwa penulis sepertinya termasuk salah seorang pianis.

Dengan sudut pandang orang pertama (yang berpindah-pindah antara Davina dan Armitha) memberi kesan yang dalam pada penggambaran karakter tokoh utama tersebut. Emosi sangat terlihat. Tak hanya di situ, detail penggambaran setting menandakan bahwa penulis total dalam melakukan riset penyusunan novel ini. Hal itu terlihat jelas saat imajinasi pembaca ditarik paksa pergi menjelajahi Surabaya, Tokyo, Singapura, Paris, Berlin hingga Wina.

Novellina tak hanya bercerita menggunakan gaya bahasa yang terkesan pop tetapi juga menggunakan bahasa metafora yang terkesan dramatik. Hal ini menimbulkan kesan yang khas, yang romantis, mellow, dalam tubuh Fantasy. Hal ini pulalah yang membuat karakter masing tokoh menjadi lebih kuat, emosi menjadi lebih nyata. Komposisi bercerita dalam novel juga seimbang, antara narasi dan dialog.

Penulis mampu membuat kejutan-kejutan di akhir konflik. Sangat tidak terduga. Seperti memberikan sedikit sentuhan twist, yang mengecoh dugaan pembaca akan akhir dari sebuah masalah dalam cerita. Hal ini mengingatkan saya pada beberapa karya lain seperti novel My Perfect Sunset dan A Truth About Forever. Penulis dengan apik meramu plot dan membuatnya menjadi kompleks, saling bertautan antara cinta, persahabatan, mimpi, kepercayaan dan ketulusan. Sejenak menjadikan, membaca Fantasy seperti memainkan sebuah komposisi. Pengejewantahan karakter, konflik dan rangkaian cerita yang meloncat-loncat terlihat sebagai suatu kesatuan yang bertahap. Seperti seorang pianis membawakan sebuah sonata, melalui first movement, second movement, dan last movement.

Dari segi fisik, cover terlihat tetap eye catching dengan desain grafiti judul yang terlihat keren. Perpaduan warna font dan dasar cover yang bisru gelap tergolong biasa, tetapi ketika disatukan dengan keseluruhan 'isi' cerita, semuanya terlihat jelas. Warna gelap seakan menggambarkan kedalaman dan keluasan dari impian. Dan kitalah, masing-masing bintang yang bertaburan di dalamnya. Kita bisa saja bersinar, bisa tidak, semua tergantung pada keyakinan dan kepercayaan kita pada mimpi itu.

Secara pesan, karya Novellina terbilang menginspirasi. Hal ini terlihat dari penggambaran realitas rasa cinta dan kasih sayang yang disajikan dalam dimensi yang berbeda. Novellina ingin mengajak pembaca untuk mencoba mengerti bahwa cinta tak sesederhana dari apa yang terlihat. Ia mengajak pembaca untuk menelisik lebih dalam ikatan dan kaitan dari cinta, keyakinan, takdir, dan persahabatan. Rangkaian yang mendewasakan.

Pesan-pesan lainnya juga banyak ditemukan dalam kutipan kata-kata dalam novel, maupun hanya quote-quote yang menyentuh.

Bagiku, sebuah mimpi bukanlah sesuatu yang tidak penting. Mimpi adalah inti dari kehidupan manusia. Aku memulai hidupku dari sebuah mimpi (hal. 171)
Mungkin, jalan terbaik untuk tidak merasakan kesedihan adalah dengan tidak memikirkannya, menjauh dari kenangan, bahkan jika perlu meninggalkan semuanya untuk memulai hidup baru (hal. 121)
Tidak ada yang lebih menyedihkan selain saat seseorang kehilangan harapan. (hal. 133)
Terkadang tatapan mata mampu mengatakaan sejuta kejujuran daripada yang dapat diucapkan oleh lidah. (hal.106)
Merantai kaki seseorang karena ketakutan kita bukanlah cinta melainkan keegoisan. (hal. 126)


Kekurangan dari novel ini, hanya saja masih terdapat beberapa kesalahan penulisan.

Terlepas dari semua kelebihan dan kekurangannya, novel ini sangat patut mendapatkan tempat di rak buku pribadi anda. Dengan cara yang tak biasa, penulis mencoba memberikan perspektif yang lain akan perjuangan dalam meraih mimpi dan cinta. Fantasy, 4,5 of 5 star.

"You are my Fantasy in D minor, my ending from my search of happiness"
(hal. 308)


Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Resensi Novel Fantasy by Novellina A.

Read full post »

Minggu, 15 Juni 2014

Review (Bukan) Salah Waktu

0 komentar

Judul Buku: (Bukan) Salah Waktu
Penulis: Nastiti Denny
Penyunting: Fitria Sis Nariswari
Perancang Sampul: Citra Yoona
Penerbit: Pustaka Populer Bentang
Cetakan: Pertama, Desember 2013
Tebal Buku: viii + 248 halaman
ISBN: 978-602-7888-94-4

-----

Manusia punya banyak pandangan terhadap masa lalu. Ada yang memposisikannya sebagai pelajaran, pengalaman, luka bahkan sebagai kesalahan yang kerap menimbulkan penyesalan entah sampai kapan. Bagaimana dengan pandangan bahwa masa lalu lebih baik menjadi "rahasia" semata? Hanya diketahui oleh dirinya, tak perlu diketahui oleh orang lain bahkan masa depannya. Lalu ketika hal itu dianggap sudah rapi tersimpan tapi tiba-tiba terkuak dan mengancam kehidupannya, apa yang harus dilakukan? Ketika penerimaan belum terucap dalam hati perihal kejadian yang telah terjadi, apakah waktu bisa membimbing kita memaafkannya? Ataukah diri kita yang sudah seharusnya mengalah dan menerimanya?

Mungkin itu adalah sebagian dari hal yang ingin didiskusikan Nastiti Denny dengan pembaca melalui novelnya. Sebagai novel pemenang naskah pilihan "Wanita dalam Cerita", karya ini memikat sejak awal. Tendensi yang dibangun dengan sebuah sentakan yang tak biasa, mimpi buruk yang dialami oleh Sekar akibat trauma psikis pertengkaran kedua orang tuanya, mampu membuat pembaca untuk terus bertanya ada apa di halaman selanjutnya.

Sekar ialah sosok wanita karir yang memutuskan untuk resign dari pekerjaannya dan memilih untuk menjadi istri rumahan yang baik. Keputusan sulit yang diambil demi harapan rumah tangga yang lebih baik, rumah tangga yang tak seperti ayah dan ibunya. Di saat Sekar mulai berusaha dengan perubahan aktivitasnya, rahasia tentang perceraian kedua orang tuanya secara tak sengaja diketahui oleh Prabu, suaminya. Perhelatan pun terjadi, menyebabkan kerenggangan hubungan di antara mereka. Belum selesai dengan itu, Bram dan Larasati hadir di tengah kehidupan mereka. Menghadirkan kenyataan tentang masa lalu Prabu. Masa lalu yang membawa kondisi rumah tangga mereka di ujung tanduk.

(+)
Dengan POV orang ketiga, penulis piawai membawa ide cerita tentang kehidupan rumah tangga urban masa sekarang. Penulis mampu memberikan dimensi yang berbeda tentang beberapa permasalahan yang ditemukan dalam sebuah rumah tangga. Hal lainnya, dengan gamblang penulis menghadirkan sebuah eksplorasi yang luas dari sosok wanita modern melalui tokoh Sekar. Hal tersebutlah yang membuat Bukan Salah Waktu terkesan begitu dekat dengan pembaca.

Deskripsi yang detail (setting, latar, suasana, emosi) begitu memanjakan imajinasi pembaca. Hal ini serta merta didukung oleh pemakaian diksi (yang tepat) yang disajikan penulis, membuat alur cerita terasa mengalir dan ringan dibaca. Hal ini pula yang menghilangkan kekhawatiran akan proporsi narasi dan dialog yang tak seimbang dalam novel ini.

Plot cerita terasa kuat akibat banyaknya kejutan-kejutan konflik yang banyak. Membuat pembaca menerka-nerka dan penasaran pada halaman selanjutnya.

Design cover yang simple namun tetap eye catching membuat pesona tersendiri. Kehadiran blurb yang padat dan jelas terlihat mampu merepresentasikan (Bukan) Salah Waktu secara sekilas. Kombinasi yang pas antara keduanya dan sangat sinergis dengan cerita.

(-)
Gambaran fisik terhadap tokoh utama (Sekar, Prabu) kurang jelas. Hal ini menjadi tanda tanya ketika sosok Bram justru digambarkan secara fisik, jelas.

Penyelesaian dari konflik yang cenderung lemah dan terlihat menghilang. Entah sengaja (apa mungkin karena gaya penulis), dengan menimpang konflik yang satu dengan konflik yang lebih besar lainnya.

Masih terdapatnya kesalahan penulisan dan kesalahan informasi, seperti apakah pekerjaan ayah Prabu di perusahaan minyak atau di badan pertanahan?


Terlepas dari kekurangan dan kelebihannya, novel ini sangat cocok untuk para dewasa muda.

(jumlah: 495 kata)
-----


Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Review Novel (Bukan) Salah Waktu

Read full post »

Senin, 12 Mei 2014

Resensi Sang Patriot - Harga Diri adalah Harga Mati! Merdeka!

3 komentar

Judul : Sang Patriot - Sebuah Epos Kepahlawanan
Penulis : Irma Devita
Penerbit : Inti Dinamika Publishers
Cetakan, Terbit : Cetakan I, Februari 2014
Tebal : xii + 268 hlm
Harga : 
ISBN : 978-602-14969-0-9

Blurb

Sesosok jasad terbujur kaku di meja yang sengaja diletakkan di pelataran mushalla. Terbaring dalam hening. Tampak agung walau tersungkur bergenang darah mengering dari luka menganga di wajah yang bola matanya raib tercabut dari tempatnya.... Tubuh berperawakan sedang namun berisi itu menjadi saksi bisu kekejaman tangan-tangan yang pernah mendera, penuh lubang peluru dan cabikan bayonet. Tulang kepala berambut ikalnya retak, terdera popor senapan. Satu... dua... tiga... jari-jari tangan sang jasad tak lagi lengkap, hilang sebagian. Jari-jari itu biasanya lincah memetik ukulele, melantunkan nada merdu.

*****

Harga diri adalah sesuatu yang teramat berharga. Jauh di atas segalanya. Apa guna hidup enak tapi tetap ditindas? Harta dan jabatan tak ada arti jika kita semata-mata tidak diakui. Hanya dijadikan sapi perah yang kemudian disedot susunya kemudian dibunuh jika tak bisa memberikan apa-apa lagi. Bukankah sebenarnya seluruh manusia sejak lahir adalah makhluk merdeka di muka bumi?

Kemerdekaan dan perjuangan, mungkin inilah yang hendak disampaikan oleh Irma Devita dalam novel berjudul Sang Patriot, Sebuah Epos Kepahlawanan. 

Novel ini berawal dari kisah Hasan dan Amni, dua orang tua sederhana Soerdji. Mereka adalah pribadi sederhana yang tinggal dengan penghasilan pas-pasan. Hasan adalah seorang pedangang keliling di pasar.

Soerdji lahir dengan kharisma yang luar biasa. Pancaran kecerdasan dan jiwa kepemimpinan terlihat semenjak masa kecil. Pembawaannya yang baik hati membuat dirinya mudah bergaul dan disenangi banyak teman. Salah satu keinginannya adalah bersekolah. Ia sangat bersemangat sekali bersekolah terutama setelah diajari baca tulis oleh kakaknya.

Soerdji tumbuh menjadi pribadi yang tampan. Sampai suatu ketika ia dipertemukan oleh Rukmini, seorang anak seorang guru. Mereka bertemu di pasar dengan skema yang tak terduga-duga. Alhasil, Rukmini terpaku pada pandangan pertama, bukan hanya karena ketampanannya tapi karena lirikan nakalnya yang terbilang tak biasa untuk ukuran perempuan seperti Rukmini, perempuan yang tak pernah dekat dengan laki-laki sebelumnya.

Nasib baik menjodohkan mereka. Rukmini bahagia bukan main kepalang. Perjalanan rumah tangga mereka sangat harmonis. Soerdji sangat romantis dan penyayang terhadap istrinya itu. Tak jarang ia memuji kecantikan perempuan ayu itu.

Bagaimana kelanjutan kisah cinta antara keduanya? Bagaimana kisah perjuangan Soerdji dalam membela tanah air? Apakah Rukmini merestui keinginan suaminya untuk membela negara? ...silahkan baca novelnya..


KELEBIHAN

Cover
Dibalut dengan warna merah dan jingga yang lebih dominan membuat Sang Patriot terlihat eye catching. Potret bagian belakang seorang pejuang yang sedang menatap bangunan yang disekelilingnya tampak hancur memperkuat nuansa yang sengaja ditimbulkan dari judul novel sendiri. Perjuangan dan patriotisme. Di bagian lain, hamparan langit dan awan putih yang bergulung semakin mendukung kharisma prajurit tempo dulu yang membawa samurai. Sangat memukau. Penempatan judul yang pas semakin mempercantik penampilan. Warna emas dari teks judul juga sangat serasi dengan kombinasi warna merah yang menyiratkan kesan keberanian. Benar adanya, jika dinilai, dari cover ini saja nuansa cerita sudah tercium dengan sangat jelas.

Untuk ukuran soft cover, model dan bentuk yang digunakan dari sampul novel ini tergolong baik. Bentuk cover yang sengaja dilipat ke dalam memberikan kesan yang nyaman saat dipegang dan dibaca. Beberapa pembaca akan merasa puas dan tidak khawatir dengan cover yang rusak sisi-sisinya sebagaimana kebanyakan novel yang bentuk covernya biasa saja.

Lahirnya Novel (Ide dan Moment)
Ide cerita yang sengaja dipilih oleh Irma Devita tergolong tidak biasa. Sebuah novel yang berkisah tentang sejarah. Jarang penulis yang menuliskan ini. Terbilang langka untuk ukuran zaman sekarang. Sejak masa Pram, dulu. Meskipun lahirnya novel ini merupakan keinginan pribadi sendiri yang semata-mata didorong atas keinginan memenuhi janji, secara tidak langsung memberikan sebuah nuansa yang baru dalam kepenulisan novel yang mengulik sejarah. Sumbangan yang tidak biasa. Sumbangan untuk bangsa yang mungkin lupa akan asal usul paham yang mereka sering koarkan.

Sang Patriot tak semata-mata potret sejarah yang kemudian ditulis ulang dalam bentuk fiksi. Kehadiran novel ini seakan benar-benar menyiratkan momentum dan kritik terhadap kondisi bangsa sekarang. Tepat bisa dikatakan seperti itu. Hal itu dikarenakan Sang Patriot lahir saat pesta demokrasi masih menguar di bumi Indonesia. Memberikan kesan yang berbeda di tengah kondisi politik bangsa yang mungkin sangat jauh dari nasionalisme modern dan kemerdekaan sejati. Sebagian pembaca yang menuntaskan novel ini mungkin akan mengira cerita di dalamnya merupakan teguran halus terhadap kondisi Indonesia. Tak salah, tak juga benar. Memang, Indonesia sudah merdeka secara pengakuan, tapi dalam praktik? Masih jauh. Jauh, karena masih banyak kemiskinan di tengah koruptor yang merajalela. Jauh, karena masih banyak penindasan di tengah permainan keadilan. Kesadaran akan harga diri dan kejujuran masih minim dalam hati masyarakat masa kini.

Cara Belajar Sejarah yang Unik
Hadirnya novel ini sebenarnya adalah solusi berbeda dari belajar sejarah yang kebanyakan orang enggan mengetahuinya karena disajikan oleh banyak buku dan arsip dengan sangat kaku. Kombinasi permainan alur serta konflik cerita yang diramu oleh penulis membuat siapa saja "ringan" mencermati satu demi satu kisah perjuangan Letkol Mochamad Sroedji (masa 1942-1949) dalam mempertahankan tanah air. Alhasil, dengan menjadikannya sebuah novel, Irma Devita secara tidak langsung ikut turut andil dalam proses perkembangan pembelajaran sejarah Indonesia. Dengan terbitnya novel ini, pembelajaran dapat dilakukan dengan cara baru, tidak hanya dengan membaca buku pelajaran sekolah saja.

Alur Cerita
Novel dengan tebal 268 halaman ini menggunakan alur cerita maju mundur. Cerita dibawakan dengan apik, meskipun harus beberapa kali mengulak masa lalu. Mulai dari masa-masa Soerdji bersekolah, membangun keluarga dengan Rukmini, bergabung di PETA, sampai kehidupan di sekitarnya dibawakan dengan rapi dan runtut. Dari naratif yang disajikan oleh penulis mampu membuat sejarah menjadi ringan untuk dibaca.

Membaca Sang Patriot sejenak mengingatkan saya kepada cerpen Firasat karya Dee dalam kumpulan tulisannya yang berjudul Rectoverso. Irma Devita terbilang sukses merekam sejarah Jawa pada masa itu. Kebudayaan dan kecenderungan masyarakat yang terbilang masih kental dan percaya terhadap ramalan, tanda-tanda serta firasat-firasat dituturkan dengan rasa gamblang. Begitu jujur sehingga pembaca yang menikmati alurnya merasa ada keterikatan kebenaran yang kuat antara firasat-firasat (atau ramalan zaman kerajaan dulu) yang dirasakan tokoh dengan keadaan dalam cerita.

Puitis dan Romantisme
Sang Patriot tak selalu bicara tentang perjuangan. Irma Devita menghadirkan sisi yang berbeda dari nuansa patriotisme yaitu kisah cinta. Pada beberapa bagian, pembaca akan terasa tersentuh dan mungkin malu untuk beberapa pengambaran (deskripsi) emosi yang ditampilkan penulis. Nuansa romantis dalam percintaan antara Rukmini dan Soerji yang jelas berbeda dengan penampilan percintaan masa kini, ditampilkan seakan-akan hampir sama dengan kondisi saat peristiwa sesungguhnya berlangsung. Malu-malu, rasa cinta yang dalam, dan kesetiaan yang lebih tampak dalam perbuatan, dihadirkan dengan sederhana, apa adanya namun terkesan nyata. Pada beberapa bagian, pembaca mungkin akan merasakan romantisme puitis yang menyentuh. Hal ini mungkin akan mengingatkan beberapa pembaca yang suka dengan aliran romantisme dalam novel sejenak teringat dengan kisah-kisah yang dihadirkan dalam novel Habibie dan Ainun.
Dua pasang mata yang bertemu berbicara lebih banyak daripada kata-kata. Saat itu, seolah dunia berhenti berputar dan berporos hanya pada keduanya, Rukmini dan lelaki tampan pemetik ukulele. (hal. 19)

Penokohan
Untuk kriteria ini, novel Sang Patriot dapat dikatakan sangat mengagumkan. Tokoh yang dihadirkan sangat banyak. Walaupun Letkol Mochamad Sroedji sebagai tokoh sentral, masih banyak tokoh yang tak kalah penting yang dihadirkan oleh penulis. Sebut saja, Rukmini, Hasan, Amni, Letkol dr. RM Soebandi, Kolonel Sungkono dan masih banyak yang lainnya. Inilah tingkat kesulitan dalam novel terbitan Inti Dinamika Publishers ini. Kehadiran tokoh dalam cerita (sekalipun yang figuran) jikalau bukan karena riset yang terbilang cukup lama, mengumpulkan informasi yang lumayan banyak dari arsip-arsip sejarah, tak akan mungkin bisa terjadi. Belum lagi keahlian mengkolaborasikan beberapa sumber yang mungkin sama atau justru berbeda. Penulis dengan rapi, bersinambung dan sangat terkait satu sama lain, mampu menyajikannya dengan sangat baik. Maka tak ada salahnya jika pada sisi ini Sang Patriot sangat patut untuk dipuji.

Konflik dan Setting
Pembaca dibuat penasaran bahkan untuk pertama. Hal itu dikarenakan prolog yang disajikan dengan oleh Irma Devita dapat dikatakan sebuah "propaganda" terbilang sukses. Hawa mencekam, thriller dan misteri yang terkesan dari rangkaian kalimat itu berhasil menyihir pembaca untuk terus melanjutkan bacaannya hingga halaman terakhir. 

Pada beberapa bagian, penulis dengan sangat apik menggambarkan konflik dalam cerita. Operasi gerilya, penyerbuan tangsi-tangsi militer Belanda, peristiwa pengungsian keluarga Soerdji juga mampu menegangkan saraf pembaca. Kesinergisan cara bercerita penulis pada bagian-bagian ini patut diberi acungan jempol. Sangat proposional dan juga menggugah, baik secara emosi, imajinasi dan pesan moral.

Alhasil, pada bagian-bagian yang konflik terkesan nyata (sebagai contoh penyergapan tiba-tiba Belanda di Karang Kedawung) tak mungkin ada jika tak didukung dengan penggambaran setting yang sempurna. Kesesuaian logika cerita, kejutan-kejutan konflik dan dailog terbilang rapi pada bagian ini. Kepiawaian Irma Devita, dalam hal ini, berhasil membuat konflik puncak yang meninggalkan kesan melekat di pikiran pembaca.

Pesan 
Cinta kasih sejati, persahabatan, pengorbanan, itulah beberapa nilai yang akan didapat dari novel karya seorang praktisi hukum ini. Melalui kisah cinta dan kesetiaan yang ditunjukkan oleh Rukmini kepada Soerdji pembaca akan mengerti sejauh mana bahwa cinta dan kesetiaan tak hanya berasa dari kata-kata saja. Tindakan sebagai bukti nyata ialah yang sebenar-benarnya. Rukmini rela meninggalkan impiannya untuk melanjutkan sekolahnya demi menunjang keinginan suaminya untuk berjuang membela tanah air. Sebuah pengorbanan yang tulus dari seorang perempuan. Perempuan yang benar-benar mencintai suaminya. Perempuan yang rela hidup sengsara bersama suaminya di kala perang berkecambuk dimana-mana.

Kisah antara Letkol Mochamad Sroedji dengan Letkol dr. RM Soebandi mungkin dapat dijadikan salah satu bukti nyata sejarah dimana persahabatan memang ada yang sejati. Saling menopang, saling menguatkan di masa-masa sulit dalam perjuangan. Secara tersirat sebenarnya ini adalah pesan yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca masa kini. Dimana era individualistik merebak sejalan perkembangan teknologi. Banyak yang lupa hakikat manusia yang sebenarnya karena terlalu dimanja oleh keringanan yang ditawarkan teknologi. Semata, bukankah manusia makhluk sosial yang tak akan bisa hidup tanpa bantuan sesamanya? Di lain sisi, hal ini juga berhubungan dengan tidak baiknya penghianatan. Jikalau persahabatan adalah kesetiaan, maka tak lain penghianatan adalah kebalikannya.

Novel yang unik dan bernuansa sastra. Banyak novel yang selalu menyelipkan potongan kata puitis tapi jarang ditemukan yang menyisipkan puisi utuh di dalamnya. Memang tepat jika Sang Patriot disisipkan puisi di dalamnya. Novel ini adalah novel sejarah dan hal itu identik dengan puisi karena banyak kalangan yang menghargai dan mengabadikannya jerih payah perjuangan dalam puisi. 

Kenanglah aku secara sederhana saja,
jasaku tak seberapa dibanding rakyat yang sengsara
yang rela berkorban harta benda
tanpa pangkat maupun tanda jasa

cukup kalian kenang cintaku yang besar pada negara
setia pada janji suci untuk tetap merdeka
sejukkanlah pusaraku cukup dengan doa
doa tulus untuk kami para syuhada

(potongan puisi Sajak Sang Pejuang - Irma Devita)


KEKURANGAN

Narasi dan Dialog Tidak Seimbang
Mungkin ini adalah salah satu argumen yang bisa didapatkan dalam novel ini. Narasi dan dialog tidak berimbang. Hal inilah yang kemungkinan besar menyebabkan plot pada awal cerita (bab-bab awal) terasa tidak kuat. Kekuatan emosi dari pembaca yang seharusnya tergugah akibat jalan cerita menjadi tak keluar. Kesan yang timbul, pembaca merasa lelah karena komposisi dialog yang seharusnya membangkitkan nuansa perasaan sangatlah kurang. Kehadiran dialog yang seharusnya mampu mengaduk-aduk emosi pembaca seakan ditarik oleh narasi. Alhasil, tidak bisa. Kehadiran dialog sangat penting untuk memberi "kehidupan" dalam sebuah novel.

Kombinasi narasi dan dialog mulai terlihat nampak pada tengah novel. Saat konflik-konflik mulai dibangun, nuansa sedih, mencekam, haru, takut sampai penasaran barulah terasa nyata. Hal itu serta merta membuat alur terasa nyata dan mengalir. Ppembaca barulah merasakan seperti apa persitegangan dengan penjajah, operasi gerilya, sampai penyiksaan pejuang dan rakyat jelata.

Bahasa dan Footnote
Sebagai novel yang berkisah pada zaman penjajahan Belanda, otomatis banyak istilah dan penggunaan bahasa diluar bahasa Indonesia seperti bahasa Jawa dan istilah-istilah pada zaman penjajahan. Sayangnya penulis luput untuk menyertakan catatan kaki untuk beberapa istilah-istilah maupun bahasa yang tidak dimengerti artinya. Memang di dalam novel ini disertakan daftar istilah pada bagian akhir, tetapi bagi sebagian pembaca itu terkesan merepotkan jika harus melihat ke bagian akhir kemudian meneruskan bacaannya (bolak-balik).

Emosi yang Agak Kurang
Kemampuan penulis dalam mendeskripsikan setting, dalam hal ini suasana dan tempat, terbilang sangat apik. Nilai informatif bahkan waktu kejadian sangat jelas. Tetapi, pada beberapa bagian emosi dari karakter-karakter tokoh masih kurang dieksplorasi. Hal itu terlihat dari penggambaran ekspresi sikap (perbuatan) dan wajah (mimik) yang terlihat kurang. Sebagai contoh perasaan Rukmini yang kemudian teringat dengan cita-citanya dahulu ketika ia telah bersuami Soerdji. Jikalau penulis menambahkan dialog dan penggambaran ekspresi pada bagian ini, maka terlihat jelaslah ekspresi kesedihan dan konflik batin yang didera oleh Rukmini.


***

Bumi Manusia dan Sang Patriot (dok. pribadi)

Sang Patriot, sebagai novel yang berbicara tentang sejarah, pastinya membuat banyak dari pembaca (yang menyukai roman sejarah) langsung tergugah untuk mengaitkannya dengan karya Pramoedya Ananta Toer. Sebut saja salah satu maha karya Pram yaitu Bumi Manusia (Tetralogi Pulau Buru). Walaupun sama-sama dikatakan novel/roman yang mengulas sejarah (pada masa itu), ada beberapa perbedaan mendasar dari kedua tubuh tulisan itu. Hal pertama yang sangat terlihat adalah perbedaan "masa" dari kedua penulis tersebut yang sangat memberikan dampak besar pada goresan penanya. Hal lainnya juga, Irma Devita cenderung lugas dan mengedepankan detail "benar" dari sejarah dalam tulisannya. Ini bisa ditemukan dari penggunaan tanggal dan tempat yang jelas (rekam sejarah) dan nama-nama para tokoh dalam cerita. Berbeda dengan Pram yang tidak terlalu objektif. Pram memasukkan sejarah dalam fiksi kemudian menyajikan ulang (dengan tubuh berbeda) tanpa menghilangkan nilai dari sejarah itu sendiri. Mungkin, Irma Devita memiliki kecenderungan pengungkapan jujur sejarah yang kurang lebih berasal dari background pendidikannya sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia hukum.


Terlepas dari segala kelebihan dan kekurangan, novel ini sangat patut mendapatkan tempat di rak buku pribadi anda. Kesederhanaan dalam goresan pena Irma Devita dapat membuat para pembaca mendalami kisah sejarah yang dituturkan. Tak hanya sekadar menyaksikan rekaman sejarah tapi jauh memaknai setiap keputusan-keputusan masing pejuang dalam mempertaruhkan nyawa mereka. Irma Devita terbilang berhasil menghadirkan Sang Patriot kembali dalam era yang terbilang lupa akan nilai nasionalisme akibat terlalu tenggelam dalam liberalisme dan egoisme. Sang Patriot ialah sumbangan yang berisi bagi masa kini.
3,5 of 5 star for Sang Patriot.




Read full post »

Kamis, 19 Desember 2013

Resensi CineUs: Meraih Mimpi, Sulitkah?

34 komentar

Judul : CineUs
Penulis : Evi Sri Rezeki
Penerbit : teen@noura
Cetakan, Terbit : Cetakan I, Agustus 2013
Halaman : xvi + 288 hlm
Harga : Rp. 48.500
ISBN : 978-602-7816-56-5

Blurb

Demi menang di Fesival Film Remaja, Lena rela melakukan apa saja. Bukan hanya demi misi mengalahkan mantan pacarnya yang juga ikut berkompetisi, tetapi karena dia pun harus mempertahankan Klub Film sekolahnya. Soalnya klub kecilnya itu kurang didukung oleh pihak sekolah. Padahal salah satu kreativitas siswa bikin film, kan!

Untung ada satu orang yang bikin hari-hari Lena jadi lebih seru. Si cowok misterius yang kadang muncul dari balik semak-semak. Apaaa? Eh, dia bukan hantu lho ... tapi dia memang punya tempat persembunyian ajaib, mungkin di sanalah tempat dia membuat web series terkenal favorit Lena. Nah siapa tahu cowok itu bisa membantu Lena biar menang di festival.

Kisah Lena ini seperti film komedi-romantis yang seru. Jadi, selamat nonton, eh, baca! :)

*****

Mengejar mimpi bukanlah hal yang mudah. Mempertahankannya juga seperti itu. Terkadang banyak dari kita yang terlalu cepat berhenti meraih mimpi. Ada juga yang berhenti bahkan ketika mimpinya tinggal selangkah lagi. Apakah meraih mimpi itu sulit? Iya sulit, bagi mereka yang tak ingin memperjuangkannya. Sulit bagi mereka yang hanya ingin semuanya tercapai secara cepat, instant, tanpa merasakan proses perjuangannya. Padahal mimpilah yang sebenarnya membuat kita hidup sampai detik ini. Mimpi jugalah yang membawa kita untuk terus berkeinginan menjadi lebih baik. Hidup tanpa mimpi bagaikan hidup tanpa tujuan.

Novel ini menceritakan kisah tiga sekawan Lena, Dania dan Dion yang memperjuangkan mimpi mereka untuk menjadi seorang sineas. Mimpi itu membawa mereka untuk memperjuangkan nasib Klub Film. Namun, tak ada jalan yang selamanya mulus. Begitupulah yang dirasakan mereka, kehadiran Klub Film di Sekolah Cerdas Pintar tidak mendapat sambutan antusias dari siswa-siswinya. Upaya membagikan pamflet nobar film perdana Klub Film yang dilakukan Lena dan Dania tak memberikan hasil yang memuaskan. Parahnya kertas pamflet itu dijadikan kertas coret-coretan dan dibuat pesawat kertas oleh teman sekelasnya.

Penderitaan tak sampai disitu. Acara nobar film perdana Klub Film hanya dihadiri oleh dua orang dari majalah sekolah. Lena, Dania, dan Dion pun mengulur waktu penayangan, namun tetap saja tidak ada lagi yang datang. Keesokan harinya mereka dikagetkan dengan pemberitaan di majalah sekolah yang menyebut klub mereka sebagai klub pembuat film picisan.

Kerja keras Lena, Dania, dan Dion mulai menampakkan hasil. Satu tahun sudah semenjak disetujui oleh wakasek bidang kemahasiswaan, anggota Klub Film bertambah 7 orang dari kelas X. Tetapi cobaan masih saja mengikuti di belakang. Adit, mantan pacar Lena, kembali mengusik ketenangan. Ia menantang Lena untuk taruhan dalam kompetisi skenario dan film pendek di Festival Film Remaja. Barang siapa yang kalah harus mencuci kaki pemenang dan menjadi penggulung kabel selama setahun. Lena geram, ia berpikir harus memperjuangkan harga dirinya. Ia merasa harus membuktikan bahwa dirinya bukan perempuan sampah seperti yang dikatakan Adit. Lena akhirnya menerima tantangan itu. Ia juga berpikir dengan memenangkan kompetisi ini Klub Film akan lebih dikenal prestasinya.

Rizki, pria misterius, datang ke dalam kehidupan pribadi Lena yang seakan menggetarkan hatinya. Rizki sangat jago animasi. Lena melihat ini sebuah kesempatan baik jika Rizki bergabung dengan Klub Film. Ia berpikir dengan bergabungnya Rizki di Klub Film kesempatan menang mereka di Festival Film Remaja akan semakin besar. Namun hal yang tidak diingikan terjadi. Romi tidak setuju dengan kehadiran anggota baru. Ia keluar dari klub dan menyabotase basecamp dengan alasan telah menerima persetujuan dari Wakasek untuk menggunakan tempat itu dan membuat klub baru.

Semenjak itu beragam masalah dan rintangan berdatangan. Mulai dari diobrak-abriknya basecamp rahasia, dicurinya skenario film, sampai peristiwa hilangnya Dion membuat Lena dan Dania seakan patah semangat. Bagaimanakah kelanjutan nasib Klub Film? Apakah kehadiran Rizki dapat meringankan beban Klub Film? Apakah Lena dan kawan-kawan dapat memenangkan kompetisi? Siapakah yang akan memenangkan taruhan itu? Lena ataukah Adit?


KELEBIHAN NOVEL 

Desain CoverEye Catching
CineUs
Desain cover novel remaja ini layak dipuji. Paduan warna biru muda yang terkesan cerah dengan warna putih dan beberapa warna lainnya sangat pas dan memberikan kesan eye catching. Ilustrasi gambar tiga sekawan yang sedang menatap siluet garis gedung-gedung yang berjejeran juga merupakan ide yang sangat brilian. Gambar tersebut memberi kesan bahwa mereka siap menghadapi kerasnya kehidupan kota demi menggapai impian. Hadirnya gambar handycam, segelas kopi, kertas, pensil dan penghapus benar-benar mempercantik cover ini. Keberadaan gambar-gambar tersebut memberikan kesan artistik karena barang-barang dalam gambar tersebut adalah barang-barang yang familiar dalam cerita novel ini.

Ide Cerita, Tema, Judul: Paduan Pas
Sebagai sebuah bacaan remaja, ide cerita dan tema yang mengangkat tentang perjuangan Lena, Dania, dan Dion untuk mempertahankan Klub Film harus diacungi jempol. Hadirnya tokoh yang membuat online video "web series" bisa dikatakan nilai plus yang mendukung ide tersebut. Ketika banyak teenlit yang terlalu banyak berkisah tentang pacaran, drama cinta, dan persahabatan semata, penulis mampu menghadirkan cerita tentang klub film yang bisa dikatakan masih sedikit di luar sana. Memang nuansa yang diangkat Evi dalam cerita masih berkisar cinta dan persahabatan, tapi Evi mampu menyajikannya dalam bentuk yang special. Ia mempolesnya dengan kolaborasi "pengetahuan", membumbuinya dengan perjuangan menggapai impian sehingga terkesan agak inspiratif dan menambahkan sisi kreatif dalam cerita. Evi seperti jeli melihat fenomena kehidupan remaja jaman sekarang sehingga ia menghadirkan sebuah cerita yang mengatakan bahwa remaja adalah waktunya berkreativitas dan menggapai impian.

Dari segi judul, CineUs, memberi kesan unik, singkat, padat, lugas, dan punya daya tarik. Belum lagi ditambah desain pada cover bagian bawah yang menampilkan alat take scene semakin memperjelas novel ini ada kaitannya dengan klub film. CineUs, membuat orang yang melihat judul ini akan langsung berpikir tentang cinema. Sebuah pemikiran yang tepat penulis memberi nama judul CineUs, sangat sesuai. Mengapa demikian? Karena terkadang ada novel yang memberi judul berbeda dari cerita di dalamnya.

Plot yang Kuat
Plot cerita terkesan kuat pada saat di tengah cerita, saat konflik-konflik mulai dibangun. Evi sangat apik dan lihai membuat "kisah-kisah yang hilang" (maksudnya kesan menggantung terhadap cerita masing-masing tokoh) yang memaksa pembaca untuk terus membuka dan membaca lembar demi lembar novel ini hingga habis. Belum lagi permainan konflik yang tidak terduga. Pertama, pembaca akan dibuat menduga penyebab terjadinya suatu konflik dalam cerita, tapi kemudian pembaca akan terkejut karena dugaannya salah terhadap penyebab konflik tersebut. Contohnya saja kisah Dion, yang tiba-tiba Ambo menjadi takut kehilangan dirinya. Contoh lainnya adalah konflik yang terjadi akibat pisahnya Romi dari Klub Film sampai memanfaatkan keluguan Dion sehingga membuat Lena, dkk memusuhi Dion. Konflik-konflik yang bertumpang tindih inilah salah satu kelebihan dari gaya bercerita yang ditampilkan Evi Sri Rezeki.

Secara keseluruhan novel ini menggunakan alur maju. Pemakaian gaya bahasa dan penggunaan kata yang tepat membuat novel ini terkesan ringan dan enak dibaca. Ini memberikan kesan mengalir pada beberapa titik cerita.

Sudut Pandang
Penulis menggunakan sudut pandang "aku" (Lena) sebagai orang pertama dalam bercerita. Bagi sebagian orang ini penggunaan sudut pandang orang pertama mempunyai tingkat kesulitan tersendiri. Seperti contoh ada cerita yang terlalu banyak fokus kepada tokoh "aku" sehingga "lupa", tidak melibatkan terlalu banyak tokoh lain dalam cerita tersebut. Beda halnya dengan novel ini. Penulis mampu menyajikan sudut pandang ini secara baik, bahkan membuat siapa pun yang membaca novel ini seakan menonton sebuah film. Hal itu ditandai dengan kepiawaian Evi menampilkan tokoh-tokoh penting lainnya dalam cerita.

Deskripsi emosi, tokoh, setting
Deskripsi emosi sangat baik dibawakan oleh penulis. Belum lagi hal itu didukung alur cerita yang rapi dan pemakaian bahasa yang tepat. Contohnya saja saat Lena dan Dania meratapi penyesalannya di kamar Dion ketika mereka mendapati video-video rekaman Dion tentang persahabatan mereka. Penggambaran karakter masing-masing tokoh cukup jelas, walau agak membingungkan di awal. Kelebihan dari penggambaran tokoh ini adalah penulis membawa kesan natural pada tokoh dalam cerita. Ia tidak menghadirkan tokoh "yang hanya nyata di cerita" tapi lebih ke realita yang sesungguhnya. Tampilannya terasa nyata dan apa adanya. Contohnya saja Rizki yang diceritakan seperti sosok yang baik, jago animasi, perhatian tapi gemuk, suka bolos dan ceplas ceplos.

Penggambaran setting, baik tempat dan waktu dapat dinilai sesuai. Adanya ilustrasi juga membantu dalam penggambaran setting atau latar cerita.

Ada Ilustrasi
Ilustrasi dalam novel CineUs

Inilah hal unik yang akan pembaca suka dalam novel CineUs. Adanya ilustrasi yang menggambarkan beberapa latar dan scene dalam cerita patut diberikan applause. Hal ini merupakan nilai plus yang unik. Mengapa? Karena jarang novel yang sengaja menyelipkan ilustrasi di dalamnya. Ilustrasi biasanya hanya sering dipakai di dalam buku antologi puisi dan juga terkadang dalam kumpulan cerpen (misalnya kumcer Milana karya Bernard Batubara dan kumpulan cerita Singgah). Dengan adanya ilustrasi, imaji pembaca seakan dibimbing untuk lebih merasa dan memaknai jalannya cerita.

Padat dan Informatif.
Di satu sisi, membaca CineUs seperti membaca tulisan-tulisan Riawani Elyta, penulis A Cup of TarapuccinoThe Coffe Memory, yang selalu terkesan padat, berisi, berwawasan dan informatif. Membaca novel terbitan Teen Noura ini bukan sekedar membaca cerita remaja saja. Penulis seakan peduli dengan hal-hal yang kreatif. Pembaca akan disuguhkan berbagai istilah dan pengetahuan tentang film dan web series seperti skenario, storyboard, editingbudgetingwebisode, Adobe Premiere Pro CSshaky handle dan lain sebagainya yang pengertiannya langsung dijelaskan di dalam novel. Di dalam novel dengan tebal 288 halaman ini juga ditampilkan potongan skrip film yang akan diajukan Klub Film (Lena, dkk) dalam mengikuti ajang Festival Film Remaja. Betul-betul kaya informasi.

Berbeda dengan novel teenlit pada biasanya yang hanya mengangkat tema cinta monyet dan persahabatan, CineUs menghadirkan sosok Dion, tokoh yang diceritakan menderita ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Hal ini membuat novel ini semakin sarat pesan moral. Pada halaman 104 penulis menyematkan tinjauan sekilas tentang penyakit ADHD. Evi seperti membuat pola baru dalam dunia tulisan. Memproporsionalkan antara cerita yang digemari remaja dengan isi bacaan. Dengan adanya tokoh Dion, Evi seperti peduli dan seakan menghadiahkan buku ini untuk semua penyandang ADHD.
"Film ini dipersembahkan untuk Dion dan untuk semua anak penderita ADHD. You never walk alone." (hlm.177)

Seperti Sajak
Inilah sebuah keunikan yang akan ditemukan (lagi) oleh pembaca dalam novel ini. Kemampuan penulis dalam mendeskripsikan sesuatu ada kalanya secara lugas, namun ada kalanya secara tersirat. Uniknya, kemampuan Evi mendeskripsikan latar terlihat seperti berpuisi. Evi seperti sengaja mengajak kita menyentuh jemari-jemari syair yang sebenarnya ada bebas di alam sekitar kita lewat tulisannya. Seperti kalimat di bawah ini.
Malam ini angin menggigiti tulang. Barangkali, hati yang lelah mencari telah membuat semesta berang. Dikirimkannya sekumpulan awan. Gelap menjajah langit malam. Rintik-rintik berjatuhan. Kenapa kesedihan identik dengan hujan? (hlm 261-262) 

Banyak Quote
Banyak sekali quote yang sarat makna dalam novel ini, beberapa diantaranya sebagai berikut.
"Tuan Putri, jangan pernah melibatkan urusan kamu sama orang lain! Jangan jadikan tujuan pribadi seolah-olah tujuan bersama!" (hlm. 92)
"Kalian enggak akan pernah jadi besar kalau enggak terima kritikan!" (hlm. 100)
Rasa marah adalah musuh besar logika. (hlm. 161)
"....Tindakan yang diambil dalam keadaan emosi akan sia-sia dan cenderung merugikan." (hlm. 171) 
"...kemenangan lahir dari proses, dari perjuangan! Kamu tahu, sebanyak apa pun kamu mencari pengakuan dari orang lain, kamu tidak akan pernah bisa memuaskan dirimu sendiri! Karena kepuasanmu bukan berasal dari hatimu sendiri!..." (hlm. 226) 
"Len, di dunia ini, ada dua hal yang pantas diperjuangkan. Yaitu impian dan cinta." (hlm, 242)
"...Kenapa enggak kejar impian dari sekarang? Kenapa harus tunggu kaya? Itu juga kalau kaya. Kalau enggak?" (hlm. 250)

Sarat Pesan Sosial dan Moral
Tulisan tanpa pesan, bagai tubuh tanpa jiwa. Penulis sadar itu. Tak hanya dari quote-quote penulis mengutarakan kekhawatirannya terhadap realita. Ia berpesan juga lewat karakter tokoh dalam cerita (contohnya Dania yang selalu cepat mengontrol dirinya). Lewat karakter Dania kita diajarkan menjadi sosok orang yang sabar. Lewat karakter Rizki yang cenderung tenang, kita diajarkan agar bersikap bijaksana dalam menghadapi sesuatu serta berpikir sebelum bertindak. Tak hanya itu lewat konflik dalam cerita (saat Dania dan Lena menemukan file rekaman tentang mereka bertiga di komputer Dion) penulis menghadirkan nilai sebuah ketulusan dari persahabatan. Kadang kita tak bisa melihatnya tapi kita bisa merasakannya. Jika kita sekali memberi waktu padanya, hal itu akan membuka tabirnya, sendiri. Ini yang seperti dialami Dania dan Lena.
Ya, kami kangen berat sama Dion. Tindakannya yang biasanya membuat kesal, mendadak jadi sangat lucu dan menyenangkan. Begitulah, ketika merasa kehilangan. Segalanya terlihat berbeda, atau barangkali cara pandang kita yang berubah. Entahlah. Yang pasti kami ingin Dion kembali. (hlm. 180)
Lewat cerita ini dan para tokoh yang ada di cerita (Dania, Lena, Dion, Rizki, dan Ryan), Evi seakan mengkritik para remaja sekarang. Yang mungkin lupa akan pentingnya mimpi dan masa depan. Yang mungkin terlalu banyak menghabiskan waktu di depan televisi, berfoya-foya tanpa memandang sebenarnya usia mereka ada masa emas untuk merintis sebuah karya. 



KEKURANGAN NOVEL

Seperti layaknya manusia di dunia ini, tak ada yang lepas dari kesalahan, novel ini juga punya beberapa sisi yang bisa dinilai sebagai kekurangan. Menghadirkan kekurangan dalam sebuah pembahasan bukanlah ajang melempar cercaan, cacian dan bukan ajang untuk menjelekkan karya tetapi lebih kepada bentuk apresiasi pembaca yang sebenarnya peduli terhadap tulisan. Hakikat penilaian lebih atau kurang sebenarnya sangat relatif dan subjektif, tak ada nilai absolut, karena bisa jadi kelebihan dinilai kekurangan, maupun sebaliknya. Berbeda pembaca, berbeda latar belakang, berbeda kesukaan, berbeda pula pemikirannya.

Bentuk Cover
Cover CineUs
Bentuk cover depan yang memiliki lembar terlipat kurang dapat dimaknai fungsinya secara fisik. Mungkin lembar terlipat di cover depan hanya ingin memberikan kesan unik  tetapi seperti dipaksakan. Bagi pembaca yang terbiasa menyampul buku sebelum membacanya, keberadaan lembar terlipat ini akan memberikan kerisihan tersendiri. Hal lainnya, cover depan terasa lebih tebal saat kita membaca lembar-lembar pertama novel. Jika keberadaan gambar kamera, segelas kopi, sketsa Lena & Rizki yang sedang duduk serta gambar-gambar lain yang terletak di bagian dalam lembar terlipat tetap ingin ditampilkan, gambar-gambar tersebut bisa diselipkan pada bagian dalam cover sebelum lembar kertas halaman novel. Hal ini sama seperti yang dilakukan dalam novel 12 Menit by Oka Aurora yang menempatkan beberapa foto scene kegiatan Marching Band Bontang pada balik cover novelnya. Gambar-gambar tersebut bisa juga hadir terkhusus setelah cover depan, semacam cover kedua (seperti pada novel Seandainya karya Widhy Puspitadewi atau novel The Mocha Eyes karya Aida M.A.). Atau juga bisa dimasukkan sebagai ilustrasi lainnya dalam novel ini. Ide-ide ini pastinya akan memberikan kesan yang lebih menggigit dan artistik dalam arti visual.

Sebagai pembaca, saya merasa janggal dan bertanya-tanya saat melihat sketsa tiga orang yang ada di depan cover novel. Apakah itu Dania, Rizki, dan Lena? Atau itu adalah Dania, Dion, dan Lena? Jika sketsa itu menggambarkan Dania, Rizki, dan Lena, agak janggal rasanya karena dari awal novel bercerita tentang perjuangan tiga sekawan yang memiliki kesamaan cita-cita menjadi seorang sineas. Jika sketsa itu menggambarkan Dania, Dion dan Lena, hal itu juga janggal. Mengapa? Karena sosok Dion dideskripsikan dalam cerita adalah berbadan gempal (gemuk) dengan tinggi yang lebih rendah dari Dania dan Lena. Jadi, apakah itu sketsa Rizki atau Dion?

Plot Awal: Kurang Greget
Plot cerita tidak dibangun kuat saat di awal cerita. Hal itu mengakibatkan alur cerita awal terutama bab pertama dan kedua terkesan datar dan membosankan. Belum lagi terlalu banyak kesan mengambang dari cerita ini antara lain, saat Lena mendapati potret Dion di bawah tempat tidur Diana, bagaimana kelanjutannya? Kedua, penulis juga memberikan kesan mengambang pada kisah Lena dan Rizki, ketiga kisah Adit dan Romi, apakah mereka akan terus mengganggu Lena sampai kapanpun. Keempat, bagaimana hubungan Dion dengan keluarganya. Bagaimana kisah Ryan?

Konflik Selesai Begitu Saja
Ada beberapa penyelesaian konflik dalam cerita yang jika dinilai terkesan kurang "wah" atau pas. Pertama pembaca akan diajak "mendaki" menuju puncak masalah, tetapi saat turun seperti dihempaskan jatuh. Ada beberapa penyelasaian konflik yang terkesan ngambang dan begitu saja. Ini membuat kesan konflik yang "diharapkan" menjadi datar saja. Contohnya masalah skenario yang tertukar.

Typo
Typo atau kesalahan penulisan merupakan salah satu penilaian minus pembaca terhadap sebuah novel atau karya tulisan lain. Sayangnya, kesalahan itu masih terdapat dalam novel ini. Berikut kesalahan penulisan yang saya dapatkan.
(1) Halaman 125, baris 13 dari atas. "Jangtungku terasa disengat aliran listrik.." (seharusnya ditulis jantung).
(2) Halaman 207, baris 1 dari  atas. "Setiap kali aku sewot mengahadapi tingkahnya,.." (seharusnya ditulis menghadapi).
(3) Halaman 209, baris 9-10 dari bawah. Rizki melirik kaca dekat setir sekilas, melihat kegelisanku. (seharusnya ditulis kegelisahan).
(4) Halaman 221, baris 3 dari bawah. Aku telalu letih untuk membalasnya. (seharusnya ditulis terlalu).

Ada yang Aneh
Tak ada seorang pun dari kami berniat mengejarnya. Kami hanya membatu. Perutku serasa ditusuk-tusuk ketika mengingat ekspresi Dion. Rasanya, aku familier dengan itu. Di mana aku pernah melihat ekspresi semacam itu? Aku tercekat, saat menyadari ekspresi milik siapa. Itu ekspresiku sendiri saat Adit mengakhiri hubungan kami dan menghakimiku. Ya Tuhan! (hlm. 159)
Potongan cerita di atas adalah salah satu potongan dalam novel CineUs yang menceritakan perginya Dion karena kesalahpahaman yang terjadi di antara tiga sekawan itu akibat akal busuk Romi. Yang menjadi pertanyaan dan dirasa sangat janggal adalah pada bagian "Di mana aku pernah melihat ekspresi semacam itu?"(pikir Lena). Bagaimana bisa Lena bisa "melihat" ekspresinya sendiri. Apakah dulu saat Adit mencampakkan dirinya, Lena sempat bercermin dulu untuk melihat bagaimana sedih ekspresinya? Ada baiknya mungkin jika kata melihat itu diganti atau kalimatnya yang diubah. Saran:
Tak ada seorang pun dari kami berniat mengejarnya. Kami hanya membatu. Tiba-tiba dadaku sesak, perutku serasa ditusuk ketika mengingat ekspresi Dion. Rasanya aku familier dengan itu. Pucat wajahnya, guratan alisnya yang tak mengerti, seperti menahan ledakan emosi, mata yang berkaca-kaca itu, dan luka di bibir akibat gigitannya sendiri. Aaahh, tidak. Aku pernah mengalaminya. Itu ekspresiku sendiri saat Adit mengakhiri hubungan kami dan menghakimiku. Ya Tuhan!

Kedua, dari sisi quote. Perhatikan dua kutipan ini.
"Jangan pernah menyeret siapa pun masuk ke dalam impian kamu! Jangan pernah! Kamu hanya akan menjadikan mereka tumbal dari obsesi busukmu!!!" (hlm. 227) 
Setinggi apa pun impianmu, kamu hanya butuh percaya. Seperti memercayai impianku. Sertakan orang-orang yang kau cintai dalam impianmu. Karena mereka adalah sumber kekuatan bagimu. (hlm. 280)
Kedua kutipan ini seperti bertolak belakang. Entah ini disengaja oleh penulis ataukah memang berlainan substansi makna (pesan yang disampaikan).

Ketiga, ada yang aneh tentang Rizki yang mencuri internet dari komputer sekolah. Bagaimana bisa seorang siswa mencuri internet dari komputer sekolah tanpa diketahui oleh guru? Apakah mencurinya saat malam? Apakah tidak ada satpamnya? Lalu masalah bunker. Jika memang peninggalan jaman dulu, bukannya tempat itu seharusnya ditutup? Apa pihak sekolah tidak melaporkannya pada pihak berwenang? Atau Pak Kandar malah menutupnya secara pribadi? Ini membingungkan karena tak mungkin jika dari pihak sekolah hanya Pak Kandar yang tahu. Pasti pendiri sekolah lah yang mengetahui lebih dulu dan pastinya mengingatkan.

Keempat, terkait pemenang di festival. Jika dicermati, agak aneh semua pemenang kategori film pendek berasal dari Bandung semua. Walaupun memang benar kenyataannya orang-orang Bandung piawai dalam membuat film (ditandai dengan festival penghargaan film Bandung beberapa waktu yang lalu), tetapi, dalam cerita, ini terlihat memberikan kesan "sempit" karena festival film remaja tersebut adalah ajang nasional.

Kelima. Jika kedudukan prolog mengantarkan kita pada awal pertama kali terbentuknya Klub Film, bukankah seharusnya epilog menjadi penutup cerita? Tapi yang dirasakan disini epilog yang tampil justru penggambaran cita-cita Lena yang ingin menjadi seorang sineas dari kecil. Padahal bagian ini seharusnya dicantumkan dalam penggambaran karakter sosok Lena dalam cerita. Ini seakan memperlihatkan bahwa penulis menulis epilog secara terburu-buru.


Terlepas dengan kelebihan maupun kekurangannya novel ini patut mendapatkan tempat di rak buku pribadi anda. Sebagai novel pertama dari seri S-ClubCineUs memberikan kesan berbeda di mata pembaca sebagai teenlit yang "berisi". Lewat novel ini kita seakan diingatkan kembali bahwa betapa pentingnya memperjuangkan mimpi dan merintisnya mulai dini. Novel ini sangat cocok untuk remaja masa kini yang mungkin terlalu mabuk dalam teknologi dan lupa akan tujuannya. Dengan gaya bercerita yang sederhana, natural, pembaca akan terasa diantarkan kembali menikmati perjuangan-perjuangan kecil mimpi dan kisah-kisah klub selama masa sekolah. 
Akhir kata, 4 of 5 star for CineUs by Evi Sri Rezeki.






Read full post »

Minggu, 01 Desember 2013

Resensi - 12 Menit

0 komentar

Judul : 12 Menit
Penulis : Oka Aurora
Penerbit : Noura Books
Terbit : Mei 2013
Halaman : 348 hlm
ISBN : 978-602-7816-33-6

SINOPSIS 

Elaine, sang pemain biola, yakin bahwa musik adalah segala-galanya. Namun ayahnya menentang, menganggapnya sia-sia.

Tara, berusaha menguasai nada-nada snare drum meski memiliki keterbatasan pendengaran. 
Tetapi luka masa lalunya terus menghantui.

Lahang, di tengah deritanya, berusaha memenuhi janji pada sang ayah. 
Namun dilema membuatnya ragu melangkah.

Rene bermimpi membawa mereka, tim marching band yang dilatihnya, menjadi juara.
Meskipun mereka hanya datang dari sebuah kota di pelosok negeri. 
Meskipun orang lain menganggap itu mustahil.

Mereka berlatih ribuan jam hanya demi 12 menit penentuan. Mereka bertekad membuktikan pada dunia. Bahwa mimpi harus kau percayai agar terwujud. Dreaming is believing. Dan bersama-sama mereka akan menyerukan, Vincero!

*****

Terkadang kita sebagai manusia perlu sejenak berpikir bahwa memang hidup itu adalah sebuah perjuangan. Perjuangan akan mimpi dan tujuan. Namun, beberapa manusia banyak yang lupa dengan hal itu. Sebagian dari mereka terkadang berhenti di tengah jalan. Sebagian berhenti bahkan sesaat kemenangan sebenarnya ada di depan mata. Dan, sebagian berhenti memperjuangkan hidup dan mimpi bahkan sebelum memulainya. Miris, namun itulah kenyataan. Tetapi, pernahkah kita berpikir untuk apa kita memperjuangkan hidup dan mimpi? Untuk siapa? Apakah kita punya alasan untuk memperjuangkan itu semua?

"Dalam dua belas minggu ke depan, kita akan habiskan ratusan jam, siang, dan malam, demi dua belas menit. Dua belas menit di Istora nanti." ..."Dua belas menit ini yang akan menentukan apakah kita akan juara. Dua belas menit ini yang menentukan apa yang akan kita kenang seumur hidup." (hlm. 83)

12 Menit menceritakan tentang perjuangan keras Marching Band Bontang Pupuk Kaltim demi meraih kemenangan dalam ajang Nasional Grand Prix Marching Band (GPMB). Sebuah perjuangan yang sangat besar dimana seluruh latihan selama ratusan bahkan ribuan jam dipertaruhkan hanya dua belas menit penampilan. Tak disangka, banyak pengorbanan, tetes keringat, peluh, resah, masalah, bahkan air mata demi dua belas menit yang akan mengubah segalanya. Oka Aurora menggambarkan secara memukau namun sederhana bagaimana kerja keras itu berusaha menggapai impiannya.

Rene, seorang mantan pemain Marching Band Phantom Regiment yang memiliki kemampuan dan pengalaman skala internasional. Bukan hanya sebutan, kemampuannya nyata dan diakui setelah kepulangannya dari Amerika, ia langsung membawa sebuah marching band di Jakarta menjadi juara GPMB selama tiga tahun berturut-turut. Kemampuan luar biasa ini membuat sebuah perusahaan besar meminta dirinya untuk melatih Marching Band Bontang Pupuk Kaltim.

Bagi diri Rene, melatih sebuah marching band sudah menjadi layaknya rutinitas biasa baginya. Namun, saat ia bertemu dengan anak-anak Bontang, ia terhenyak. Ia berpikir bahwa masalah terbesar mengajari anak-anak Bontang bukan terletak pada kemampuan teknik bermain musik, tapi terletak pada kepercayaan diri, mental mereka. Rene sempat ragu pada dirinya. Rene merasa anak-anak ini punya potensi yang sama dengan anak-anak Jakarta, bahkan mungkin lebih. Namun, anak-anak Bontang tidak sadar akan hal itu. Anak-anak itu selalu merasa tidak percaya diri, merasa "kecil" karena berasal dari kota kecil.

Masalah yang dihadapi Rene, tidak sampai disitu. Selain memperbaiki teknik bermain marching band dan memberikan motivasi bahwa siapa saja bisa jadi juara, ia dihadapkan juga pada berbagai masalah. Mulai dari kehilangan anggota tim inti sampai masalah pribadi anggotanya yang membuatnya mau tak mau ikut terlibat di dalamnya. Hal ini dilakukannya semata-mata demi membawa mereka menjadi juara.

Tara, remaja berkerudung yang sangat menyukai musik terutama bermain drum. Sejak kecil ia banyak memperoleh prestasi dari kesukaannya itu. Tetapi, semua berubah sejak kecelakaan yang menewaskan ayahnya. Ia trauma. Tara merasa bahwa ia yang menyebabkan kecelakaan tersebut. Akibat kecelakaan itu kemampuan mendengarnya berkurang, tinggal sekitar sepuluh persen saja. Akibat kecelakaan itu pula ia kehilangan kepercayaan diri, kehilangan kemampuan bermain drumnya. Kepergian ibunya ke luar negeri untuk kuliah juga memperberat bebannya. Satu-satunya yang diharap sebagai tempat bergantung dari mimpi buruknya hilang. Opa dan oma-nya lah yang senantiasa setia menghibur Tara. Ketika bersekolah kembali, ia mengenal Marching Band Bontang Pupuk Kaltim. Semangatnya kembali, tetapi kenangan masa lalunya masih menghantui. Didikan keras dari Rene, sempat membuat Tara goyah. Ia hampir menyerah.

Elaine, remaja berdarah Indonesia-Jepang ini terlahir dengan kejaiban. Cantik, pintar, berprestasi, dan berkemampuan musik yang tinggi. Elaine sangat mencintai musik dan itu adalah segala-galanya bagi dirinya. Namun, ayahnya tak mendukung bakatnya. Ayahnya, Josuke, menginginkan Elaine menjadi ilmuwan. Josuke berpikir bahwa musik hanyalah hura-hura. Dilema terjadi saat Elaine terpilih menjadi field commander. Josuke melarang keras Elaine ikut marching band lagi, terlebih saat Elaine membatalkan mengikuti Olimpiade Fisika demi GPMB.

Lahang, anak seorang pemuka suku Dayak yang hidup serba kekurangan. Meski hidup dengan serba kekurangan, tak pernah mengurangi semangatnya dalam latihan marching band. Hal itu terlihat dari gigihnya menempuh perjalanan yang jauh dan penuh bahaya, masuk hutan, demi mengikuti latihan tiga kali seminggu di stadion. Karena ia memiliki tujuan melihat Monas sebagai pencapaian mimpinya dan juga sekaligus mimpi almarhum ibunya. Tetapi, Lahang ragu ketika ayahnya jatuh sakit. Ia dilema. Di satu sisi ia tak ingin meninggalkan ayahnya yang sakit, ia tak ingin melepas kepergian ayahnya tanpa ada di sisi beliau. Di lain sisi ia juga bimbang terhadap janjinya pada ayahnya untuk terus hidup dan menggapai mimpinya.

12 Menit merupakan cerita yang luar biasa. Novel ini patut diberikan acungan jempol. Plot cerita dibangun dengan kuat dan rapi. Alur cerita adalah alur maju mundur, tetapi berhasil disajikan oleh penulis sehingga terkesan mengalir. Hal ini membuat pembaca merasa penasaran untuk terus membaca dari satu halaman ke halaman selanjutnya. Pemakaian diksi yang tepat dan sederhana benar-benar mengimbangi tata bahasa dalam novel yang banyak menyinggung istilah-istilah marching band ini.

Dari segi cover, novel ini cukup menarik. Paduan warna biru yang dominan, gambar sebuah lemari kayu dan tulisan "12 MENIT" cukup membuat para penikmat novel pastinya bertanya-tanya tentang kisah yang ada di dalamnya. Jika saya tidak membaca endorsement dan sinopsisnya mungkin saya tidak tahu jika novel ini termasuk kategori novel inspirasi. Huruf yang dipakai dalam novel ini juga baik, sangat jelas, tidak memberi kesan jenuh walaupun novel ini sebenarnya cukup tebal untuk dibaca.

Novel ini mengambil latar Bontang, Kalimantan Timur. Di dalamnya juga terdapat penggambaran beberapa budaya lokal setempat seperti ritual Bemeliatn yang diyakini oleh suku Dayak dapat mengusir roh jahat yang bersemayam pada orang sakit. Penggambaran detail dan tokoh yang ada dalam novel tidak terlalu mencolok. Penulis seakan menggambarkannya dengan sederhana sehingga menimbulkan kesan yang apa adanya.

Kelebihan lainnya dari novel terbitan Noura ini yaitu tidak ditemukan typo ataupun kesalahan penulisan. Kalaupun ada, itu mungkin hanya satu seperti dua kata yang berdempet. Lewat novel ini, penulis juga memperkenalkan berbagai istilah dalam marching band, seperti cadet band, brass, battery, color guards, dan lain sebagainya. Cukup sulit memang memahaminya terlebih lagi untuk sebuah novel yang terkadang pembaca tidak ingin dipusingkan dengan istilah-istilah yang terlalu tinggi. Tetapi penulis sadar hal itu. Oleh karenanya ia sengaja menempatkan glosarium dalam novel ini.

Based true story, membuat novel ini terlihat nyata dan dinilai sangat cocok untuk dijadikan pelajaran. Bersama dengan penyampaian detail karakter dari tokoh dalam cerita membuat novel ini terkesan natural. Konflik yang ditimbulkan penulis dalam novel lebih banyak mengarah pada konflik internal (diri sendiri). Hal ini menguatkan bahwa penulis ingin membuat penikmat ceritanya memahami bahwa perjuangan yang paling sulit dlam hidup manusia adalah mengalahkan diri sendiri.

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sebuah bangsa sampai mereka mengubah keadaan mereka sendiri." ( QS Al Ra'd [13] : 11 )

Kutipan atau kata-kata mutiara adalah jiwa dari sebuah novel inspirasi. Oka Aurora paham sekali hal ini. Hal ini terlihat dengan banyaknya kata-kata mutiara dan kutipan menarik yang bertaburan di tiap lembar halaman novel ini. Beberapa kutipan menarik itu antara lain.

"Jangan pernah berhenti membuat keajaiban." (hlm 18)
"Anak-anak dari kota kecil juga bisa melakukan sesuatu yang besar." (hlm. 62)
"Berapa pun waktu yang diberikan tak seharusnya dihabiskan dengan ketakutan. Karena ketakutan tak kan pernah menyambung hidupmu. Yang akan menyambung hidupmu, hanya keberanian." (hlm. 104)
"Think like a champion. And fight like a champion." (hlm. 309)

Emosi pada beberapa bagian novel terasa sangat nyata walaupun bahasa yang digunakan penulis sederhana. Alhasil pada beberapa moment yang terjadi, imaji saya berasa mengawang membayangkan seperti apa adegan film 12 Menit ini. Untuk sebuah novel, ini adalah karya yang megah. Bagaimana tidak, penulis cukup apik menggabungkan beberapa kisah tokoh dalam cerita bernuansa inspiratif menjadi kesatupaduan, dan itu bukanlah hal yang mudah.

Akan tetapi, di satu sisi hal itu terlihat seperti kelemahan. Karena diadaptasi dari sebuah skenario film, sepertinya penulis kurang dapat memadukan berbagai kisah tokoh di beberapa bagian novel secara menyeluruh. Akibatnya pada beberapa bagian, novel terasa seperti potongan puzzle, "kotak-kotak". Tetapi, hal ini dapat ditutupi dengan keahlian penulis memainkan konflik dan penempatan anti klimaks dalam cerita yang membuat cerita lebih menyentuh.

Sebagai sebuah novel perdana, novel ini sangat luar biasa. Sebuah novel yang berkisah tentang kerasnya perjuagan dan bagaimana konsistensi kita melewati rintangan demi mencapai mimpi, novel 12 Menit cocok jika disandingkan dengan beberapa novel inspirasi lainnnya seperti Sang Pemimpi dan Sepatu Dahlan.

Akhir kata, bagi anda yang percaya bahwa tak ada yang lebih mempesona dari perjuagan menggapai mimpi, novel 12 Menit ini sangat layak memperoleh tempat di jejeran koleksi buku pribadi anda. Oka hanya menceritakan salah satu contohnya. Dan bagi anda mantan pemain marching band, silahkan flash back kisah anda dalam novel ini. Mungkin anda menemukan "kisah anda" di dalam sana.

Perjuangan terberat dalam hidup manusua adalah perjuagan mengalahkan diri sendiri. Buku ini adalah bagi semua yang memenangkannya.

4,5 of 5 star for 12 Menit by Oka Aurora.






Read full post »

Sabtu, 10 Agustus 2013

Resensi - Aropy

4 komentar
Judul : Aropy (Berbanggalah Jadi Cewek Limited Edition!)
Penulis : Sayfullan
Penerbit : PING!!! (Diva Press)
Terbit : Juni 2013
Halaman : 184 hlm
Harga : Rp. 30.000
ISBN : 978-602-7933-79-8

SINOPSIS

Aropy, sebut saja dia cewek absurb ogah latah tren mode. Dia pun dapat julukan "Makhluk Aneh dari Planet Mars" dari temen-temennya yang super rese'. Tapi yaa, biarlah anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Semua itu nggak membuat dia patah semangat jadi seorang penyiar radio plus desainer keren yang sekolah di Paris.

Kalau soal cinta, nggak jauh-jauh dari kata ABSURD. Ya gitu deh, Niko yang katanya playboy, di hadapan Aropy jadi bukan siapa-siapa, bahkan dia dikerjain abis-abisan ampe pingin tobat jadi playboy. Nah, diapain aja coba ama si Aropy dan apa iya mereka jadian tapi LDR-an?

*****

Berbanggalah jadi cewek limited edition!


Remaja adalah masa yang paling berwarna dalam hidup. Suka, duka, benci, gokil, persahabatan, selisih dikit terus marah-marahan, sampai belajar bareng senantiasa memberikan kesan tersendiri pada masa transisi tersebut. Kehidupan remaja yang identik dengan kehidupan masa sekolah memberikan sebuah "cita rasa" khas dalam guratan kisah hidup masing-masing individu.

Tak lupa, cinta juga menghiasi masa-masa yang tak pernah terlupa ini.  Malu-malu tapi mau, dari temen berubah jadi pacar, yang terus berlanjut jadi sayang-sayangan, ya begitulah indahnya saat kata cinta  untuk pertama kali menyapa anak manusia yang mulai menyukai lawan jenisnya. Tapi apakah cinta masa remaja punya keunikan tersendiri? Mungkin keunikan dari orang yang berkisah cinta di sekolah? Kira-kira, seperti itulah tema kisah yang ingin diangkat Sayfullan dalam novelnya kali ini.

Novel ini bercerita tentang kisah Aropy, seorang remaja penyiar radio sekolah yang gemar make over baju semaunya dengan selera yang "beda". Buktinya saja, semua pakaian pembantu mamanya jadi sasaran bakat gokilnya itu. Ia juga termasuk remaja yang punya percaya diri tinggi meskipun terkadang terlalu kepedean dan sok artis sih. Bagaimana tidak, bagaimana bisa seorang remaja perempuan dengan badan semok, jidat selebar lapangan golf dan betis sebesar kaki gajah berjalan bak seorang model di atas karpet merah kalau bukan karena dia punya rasa percaya diri setinggi langit.

Kisah Aropy benar-benar dimulai saat Niko, cowok playboy di sekolahnya, mulai mengejar dirinya. Saat itu Niko sedang gundah dengan perasaannya sendiri terhadap Kayla, pacar kakaknya, Rano. Ia merasa hidupnya tidak berwarna dan ia mulai bosan dengan rutinitasnya. Entah kesambet setan dari mana, ia menyetujui saran dari Pepe, sahabat karibnya, untuk mengejar Aropy.

Akan tetapi, pengejaran terhadap Aropy tidak semudah yang Niko kira. Ia harus berhadapan dengan tantangan dari cewek itu yang tak lain ternyata telah bekerja sama dengan salah satu mantan Niko, Lea, untuk membuat cowok ganteng itu jera. Namun, apa yang terjadi? Atmosfer perasaan di antara mereka berubah. Apakah Niko jadi kecantol beneran sama Aropy? Konflik dan cerita apa saja yang mewarnai cerita mereka? Gimana sih cerita lengkap cewek semok dengan cowok super ganteng itu? Cek langsung di novel Aropy yah.

Sebagai pembaca, Well, I definitely had so much fun reading this book. Seperti yang saya tuliskan sebelumnya, ceritanya sederhana, namun tampil secara menarik. Gaya bahasa yang didukung dengan pemakaian diksi yang terkesan "gaul" membuat novel ini tidak terkesan boring. Hal ini saya rasakan, saya menghabiskan membaca novel ini kurang dari 3 jam. Penggambaran cerita yang sangat pas, kesan dan setting (seperti di kantin sekolah, ruang lab bahasa atau radio sekolah) yang banyak ditumbulkan penulis membuat pembaca seakan bernostalgia dengan kehidupan remajanya. Nilai plus lainnya, penulis dapat dengan mudahnya merangsang saraf-saraf tawa pembaca di beberapa bagian cerita dengan adanya percakapan yang nuansa humornya overdosis pada tokoh-tokoh dalam cerita.

Yang membuat novel ini asyik dan beda dengan novel-novel remaja lainnya adalah pemunculan tokoh utama yang unik. Ketika banyak novel menampilkan tokoh-tokoh utama dalam ceritanya dengan deskripsi yang memiliki tubuh tinggi, cantik, manis, dan yang serba indah, novel ini justru tampil sebaliknya. Anti-mainstream mungkin sepenggal kata yang tepat. Hadirnya tokoh utama, Aropy, yang dideskripsikan sebagai cewek gemuk, memiliki jidat jenong, betis gede, tapi punya rasa percaya diri tinggi, membuat pembaca menilai bahwa novel dengan tebal 184 halaman ini punya salah satu ciri inovasi tersendiri. Penulis seakan sadar dan ingin menyentuh fenomena dan dinamika unik dalam kehidupan remaja masa kini.

Cover yang eye catching juga mempercantik tampilan novel ini. Sebagai pembaca, saya sempat menduga bahwa novel ini bersetting di Paris, karena ada gambar Menara Eiffel terpampang cantik di depan. Eh, ternyata dugaan saya salah, hehe. Alur cerita yang digunakan dalam novel ini adalah alur maju. Penulis menyajikan cerita dengan apik sehingga alur cerita terasa mengalir. Penggambaran tokoh terkesan simple tapi tetap memukau. Belum lagi ditambah dengan penghadiran konflik yang tak terduga-duga, seperti saat Kayla memperkenalkan Aropy di depan orang tua Niko yang membuat cowok ganteng itu malu dan merah padam, membuat novel ini menjadi semakin menarik. Banyak kutipan novel ini yang menarik dan sarat akan makna, contohnya nih:

[...] PD aja dengan loe yang apa adanya, dengan style dan ciri khas loe. Pasti kecantikan dari dalam diri bakal terpancar. Yang penting percaya diri dan nyaman! (hlm. 18).
[...] Kalau mau jadi cewek limited edition. loe wajib bisa setia. Itu yang paling penting (hlm. 19).
Bukankah cinta itu membebaskan? Tidak mengikat? Asal Kayla bahagia, loe pasti juga akan bahagia! (hlm. 139)

Ada sedikit hal yang membuat saya sebagai pembaca menjadi bertanya-tanya. Saya merasa bingung dengan perubahan perasaan Aropy kepada Niko saat Aropy berusaha mengerjainya dengan menyuruh Niko naik ke atas loteng. Menurut saya Aropy terkesan "tiba-tiba" berubah pikiran menjadi baik. Padahal di awal jelas Aropy ingin balas dendam kepada Niko. Saya bingung, mengapa ia berubah sedemikian drastis menjadi baik. Penulis seharusnya lebih mengeksplore konflik internal diri Aropy saat itu sehingga ceritanya akan lebih berkesan.

Sebagai seorang pembaca saya merasa sangat kecewa setelah membaca novel ini untuk kali keduanya. Masih banyak typo saya temukan dalam novel ini. Sebagai contoh; pada halaman 6 baris keempat dari atas, kata "menanhan" seharusnya ditulis "menahan". Pada halaman 25 baris kesebelas dari atas, kata "diaminkan" seharusnya ditulis "dimainkan". Pada halaman 26 baris keenam dari bawah, kata "bias" seharusnya ditulis "bisa". Pada halaman 27 baris keempat dari bawah, kata "piker" seharusnya ditulis "pikir".

Ada juga penulisan yang berdempet seperti pada halaman 16 baris kelima dari bawah (...cewek yang perlu dihindaripara cowok). Saya juga sempat bertanya-tanya mengapa penulis menulis kata "absurd" tercetak miring pada halaman 65 sedangkan pada halaman 10 kata tersebut tidak tercetak miring. Jujur, ini memang sepele tapi sebagai pembaca, hal ini mengganggu. Penulis seharusnya teliti dan konsisten dalam penulisan ejaan.

Walaupun ini adalah novel teenlit tapi bukan berarti novel ini hanya bercerita tentang cinta saja. Banyak pesan yang sebenarnya ingin disampaikan penulis kepada pembaca. Lewat karakter Aropy penulis seakan menyadarkan kita bahwa kita seharusnya bangga dengan diri kita sendiri. Sudah sepatutnya kita bersyukur terhadap tubuh yang kita miliki. Penulis juga mengajarkan bahwa kita sudah sepatutnya percaya diri akan diri kita sendiri karena manusia memang dilahirkan dengan segala kekurangan, kelebihan dan keunikkannya.

Lewat karakter Aropy penulis juga membuat kita sadar bahwa kita tidak perlu menjadi siapa-siapa untuk membuktikan diri kita. Kita cukup percaya dengan apa yang ada pada diri kita dan nyamanlah dengan keadaan itu. Keunikan masing-masing individu itu sebenarnya sangat artistik. Itulah anugerah dari YME kepada kita makhluk-Nya, bukti bahwa sebenarnya tiap orang itu "indah" dengan segala apa yang dimilikinya.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangan dalam novel ini, novel ini sangat patut dibaca terutama untuk para remaja. Novel ini juga cocok sebagai teman yang sangat cocok untuk dibaca oleh para dewasa muda yang mungkin ingin bernostalgia dengan kehidupan sekolahnya dulu. Kesan ringan yang ditimbulkan penulisnya melalui tokoh dalam cerita akan membuat anda melihat kembali apa sebenarnya sisi unik dari diri anda.
Akhir kata, 3,5 of 5 star for Aropy by Sayfullan.
Read full post »
 

Copyright © Garis Satu Kata Design by Free CSS Templates | Blogger Theme by BTDesigner | Powered by Blogger