Rabu, 18 Desember 2013

Pesakitan Niskala

0 komentar
Pernahkah kamu merasakan sakit yang terdalam? Seakan berasal dari palung jiwa yang paling hitam. Aku pernah menikmatinya sekali. Saat mata menatap nanar langit-langit di kamar dan telinga mendengar lagu samar-samar. Aku tak mengerti apa yang yang terjadi dengan kedua inderaku. Hanya hidung yang masih setia menghela napas dan mengembuskannya pelan.

Aku hidup tapi seakan terpasung. Terpaku bukan terantai. Berlubang memerah darah segar. Hatiku hancur kala langkahmu telah bersanding. Mengingatnya, buncahan kekecewaan meledak bah tsunami Aceh di kamarku. Menghempaskan tubuhku oleng dimakan waktu. Aku masih tak bisa bebas dari belenggu ini.

Hampa seakan merasuk ke dalam sukma. Memaksa sesak memenuhi dada. Aku tercekat disiksa ingatan. Aku tak bisa bernapas. Seakan dinding ini menghimpit. Kebodohan ikut menyerapahiku mati. Aku bodoh terlalu percaya kepadamu.

Makassar, 2013.

Read full post »

Minggu, 15 Desember 2013

Bolehkah Kita Bertemu?

0 komentar
Dear kamu, 
Selamat menikmati hari...

Sengaja aku mulai dengan ucapan selamat menikmati hari, karena memang khayalku yang tak pernah berhenti membayangkanmu membuka jendela kamar dan menyapa hangatnya mentari dengan senyuman. Mengapa aku bisa membayangkan seperti itu? Iya, karena hampir tiap hari pula kamu menyapa banyak orang lewat tweetmu. Sekadar menyelipkan doa "Semoga harimu menyenangkan", sekadar santun menghibur bagi mereka yang dilanda kesedihan tadi malam.

Entah sejak kapan aku terlampau kagum dalam kemayaan. Entah pula sejak kapan aku jadi stalker seperti ini. Mulai dari ngecek akun twitter @KlubBuku_MKS, sepik-sepik mention tanya ini, tanya itu. Iya deh, aku ngaku. Aku kagum sama kamu. Aneh ya? Padahal belum pernah ketemu. Nanya nama aja belum. Hanya dari tweet-tweetmu lah, aku mengenalmu. Seringkali aku mencoba menerka karakter dan kesukaanmu dari tweetmu yang berbalas dengan para followersmu. Entah mengapa aku suka dengan hal itu.

Kamu suka baca kan? Aku juga baru-baru ini menyukai membaca. Mungkin kita jodoh kali ya? *eh* hahaha, bercanda ya. Kamu suka puisi? Aah, kalau iya, pengen banget deh denger kamu baca puisi. Gak bisa aku bayangin deh bagaimana anggunnya. Gimana ya rasanya kalau kita saling berbalas puisi? Mungkin saya yang pingsan duluan. Kegemaranmu selain baca apa? Aah, pengen rasanya mengenal sosok seperti kamu, yang senantiasa melihat dunia melalui buku. Aku merasa kamu seperti langit. Luas, menaungi dan indah.

Tahukah kamu saat pertemuan Lenda Book dan Klub Buku Makassar di Mama Cafe yang lalu? Tak sengaja aku ke sana berharap semoga dapat membingkaimu dalam tatap mata. Meski hanya dari balik kaca, rasanya deg-degan juga. Sekadar mencari tahu, kaki bertingkah seolah bersandiwara menapak jejak ke arah toilet. Telinga mendukungnya. Walau lirih, aku mendengar suara merdu yang menyebut kata Klub Buku Makassar. Tak berapa lama aku berpaling. Kudapati disana sosok berkerundung, sederhana, namun menawan. Itukah dirimu?

Kapan ya kita bisa berkenalan langsung? Iya, walau hanya sekadar berbalas sapa, sekedar basa basi semata. Sekadar minum kopi bareng atau berbagi cerita tentang keluh kesah yang tak pernah ada habisnya. Paling tidak aku ingin melihat seperti apa dirimu, apakah sama dengan yang berada di alam imajiku ataukah lebih dari yang kubayangkan. Oh iya, nanti ada acara kopdar bareng ya? Aku pengen banget ikut acara itu. Nah, kebetulan, lewat surat ini aku mau kasi tahu, jangan kaget ya kalau nanti pas di acara kopdar itu tiba-tiba ada cowok cupu yang ngajak kenalan. Itu mungkin aku :)


Salam kenal, 
Dari yang diam-diam mengagumimu


(Surat ini telah diikutkan dalam KBMaward yang diadakan Klub Buku Makassar)

Read full post »

Klub Buku Makassar: Livetweet bersama Chatreen Moko

0 komentar
Sekitar lima hari yang lalu, Senin, 9 Desember 2013 pukul 20.00 WITA, di jejaring sosial Twitter, akun @KlubBuku_MKS menggelar acara livetweet bersama kak Chatreen Moko, penulis buku Broken Home  Broken Dreams. Livetweet yang diadakan Klub Buku Makassar ini termasuk salah satu tantangan #KBMaward minggu kedua dari klub buku itu sendiri. Apa itu #KBMaward? #KBMaward adalah sebuah event khusus dari KBM (semacam) penghargaan kepada followers yang aktif dan kreatif. Dalam #KBMaward, Klub Buku Makassar memberikan tantangan-tantangan berbeda tiap minggunya, ada hadiahnya juga lho. Untuk tahu lebih lengkap tentang #KBMaward cek aja favorites @KlubBuku_MKS di twitter ya.

Livetweet malam itu membahas tentang penulis dan bukunya, Broken Home ≠ Broken Dreams. Sebagai awalan, admin menerangkan bahwa buku Broken Home  Broken Dreams merupakan kumpulan cerita pendek tentang kisah-kisah broken home. Penulisnya sendiri adalah Chatreen Moko, biasa dipanggil Moko yang kini masih kuliah semester satu (masih muda kan?). Admin @KlubBuku_MKS juga menyebutkan sedikit alasan mengapa penulis akhirnya menulis buku ini. Penulis mengaku bahwa buku ini dibuat tak lain karena dorongan dari para follower akun @Broken_homeINDO yang dibuatnya.

Setelah admin @KlubBuku_MKS usai menerangkan aturan livetweet malam itu, ya udah pastinya bom mention membanjiri akun @KlubBuku_MKS. Tak sedikit dari para follower @KlubBuku_MKS yang langsung bertanya pada kak Moko tentang bukunya maupun tentang kesan pribadinya saat menulis buku tersebut. Nih, berikut tanya jawab seputar buku Broken Home  Broken Dreams yang dimoderatori oleh admin @KlubBuku_MKS :


1. Kesulitan-kesulitan apa yang kamu dapatkan ketika menggarap buku ini? @KlubBuku_MKS

Kesulitannya waktu menyeleksi dan proses editing naskah-naskah yang masuk, soalnya cukup banyak yang berpartisipasi.


2. Buku Broken  Home Broken Dreams itu termasuk buku fiktif atau berdasarkan fakta yang terjadi di sekitar? @SendalUkir

Buku Broken Home ≠ Broken Dreams itu true story. Ada kisah hidup saya dan beberapa followers @Broken_homeINDO


3. Kata orang broken home itu identik dengan kekerasan, kebrutalan, kenakalan. Apa dengan adanya buku ini bisa menghilangkan pemikiran orang-orang seperti itu? @SendalUkir

Yaps, semoga. Itu harapan saya! Dengan adanya buku Broken Home  Broken Dreams saya harap anggapan masyarakat terhadap anak broken home tidak lagi senegatif saat ini.


4. Berapa bulan nih, kamu kirim ke penerbit kemudian diterbitkan? Pernah ditolak penerbit? @KlubBuku_MKS

Cari penerbitnya sekitar sebulan. Iya, pernah mendapatkan penolakan dari pihak penerbit.


5. Buku Broken Home  Broken Dreams kan based true story, aku penasaran, gimana trik kamu nulis agar ceritanya menarik? @AsmaUmmu

Nulisnya pakai hati, supaya pembaca juga dapat feelnya khususnya yang "broken home" :D


6. Pernah ngerasain hilang ide pas nulis gak? @dhan88

Iya, pernah.


7. Apa kiat-kiat menulis ketika kehilangan ide menurut kamu? @KlubBuku_MKS

Beristirahat sejenak, tidak usah dipaksa buat nulis, cari inspirasi baru.


8. Kenangan broken home itu pastinya gak enak, gimana caranya kamu tetap tegar bahkan bisa menjadi inspirasi buat yang lain? @AsmaUmmu

Bangkit dari masalah dan keterpurukan, menginspirasi rekan-rekan yang senasib dengan saya itu sudah membuat saya "kuat dan tegar"


9. Kenapa mau menulis kakak? @AswanWiwi

Saat apa yang saya tulis bisa bermanfaat bagi orang lain, why not?


10. Menulis bisa membantu menyelesaikan masalah, menjadikan kita semakin cerdas. Menulis jodohnya membaca, kamu suka baca buku apa? @AsmaUmmu

Anehnya saya tidak terlalu maniak dalam membaca. Saya lebih suka membaca kisah-kisah atau artikel tentang kehidupan.


11. Broken home identik dengan broken love? Menurut kamu? @SendalUkir

Itulah yang harus dirubah, apalagi bagi mereka yang mengalaminya. Usahakan kedepannya tidak mengulangi kesalahan orang tua mereka.


12. Nah, ternyata @chatreenmoko bukan penggemar buku-buku. Lantas bagaimana cara kamu memperkaya tulisan? @KlubBuku_MKS

Yaps, saya bukan penggemar buku. Saya menulis lebih kepada fact of life, fakta-fakta kehidupan yang saya alami dan orang-orang di sekitar saya.


13. Ada bagian dari buku Broken Home  Broken Dreams yang paling berkesan? Yang mana? @gubukteduh

Bagian paling berkesan di buku Broken Home  Broken Dreams adalah kisah pertama dan terakhir. Dijamin nangis dan inspiring banget.


14. Siapa penulis inspirasi kamu? @AswanWiwi

Penulis inspirasi saya? Anehnya saya tidak punya x_x


15. Kesan tersendiri saat nulis? Terlebih lagi menceritakan kisah sedih bercampur haru milik orang lain. @gubukteduh

Kesan buat saya pribadi, saya lebih dewasa lagi, saya sadar ternyata masih ada yang lebih menderita dari saya.


***

Nah ini dia penampakan buku yang dari tadi dibicarakan :)

credit

Jadi, bagi teman-teman yang penasaran dengan buku Broken Home  Broken Dreams terbitan Mediakita, langsung aja cari di toko buku karena bukunya sudah tersebar di seluruh Indonesia. Siapa tahu teman-teman bisa menemukan makna ketegaran dan kesabaran menjalani masa sulit hidup dari kisah-kisah nyata yang ditulis oleh kak Moko. 

Jangan pernah menjadikan broken home sebagai alasan untuk menghancurkan mimpi-mimpi kamu sendiri. Jangan biarkan kata "broken home" menghalangi kamu dalam meraih cita-cita.
Dream, believe, and make it happen.


Chatreen Moko ( Penulis buku Broken Home  Broken Dreams )
akun twitter : @chatreenmoko

Read full post »

Kamis, 12 Desember 2013

Rindu Hujan Itu

2 komentar


Hari ini, semesta raya mempermainkanku
Seperti canda yang kadang membuatku malu, serupa cubitan sayang di pipi kiriku
Seperti teguran yang kadang membuatku rapuh, serupa tepukan di bahu kiriku
Perihal apakah ini, Tuhan?

Hari ini, semesta mempermainkanku
Mengirim tiga paras serupa dirimu, tiga senyum seindah milikmu
Mendengar sapa selembut suaramu, merasa sentuhan sehalus kulitmu
Inikah tanda? Jawab dari doaku, Tuhan?

Tak sadar mata menahan ledakan
Beradu lomba dengan kuncup hidung yang sedari tadi telah basah
Namun tak sama dengan lainnya, ada bibir mengulum senyum manis
Berteman hati yang tak henti berterima kasih

Kutitipkan setitik embun rindu ini pada awan
Berharap ia tumbuh besar dan beranak pinak
Esok kunikmati hujan sore hari
Bernaung pelangi yang sama, seperti pertama kita mengikrar janji

Aku rindu hujan itu
Serupa aku menikmati kepergianmu
Aku rindu kamu, perempuan hujanku
Entah kapan pelukku berbalas dekap hangatmu

Ayah, kini aku tahu bagaimana hatimu, menanti bertemu ibu, di sana.

Makassar, 2013

Read full post »

Selasa, 10 Desember 2013

Cinta dalam Kesedihan

0 komentar
Dalam sembab mata membendung buliran
Aku mencintaimu

Dalam isak tahan yang berburu hisap nafas
Aku mencintaimu

Dalam sedu memeluk rapuh dada
Aku mencintaimu

Aku mencintaimu
Perempuan berhijab hitam
Sesederhana aku menikmati sebuah kesedihan
Berkabung, merasa siksa batin

Aku mencintaimu

Makassar, 2013

Read full post »

Senin, 09 Desember 2013

Malu

0 komentar

Ialah aku penunggu di balik pintu. Perindu yang kerap malu.

Makassar, 2013.
Read full post »

Rabu, 04 Desember 2013

Semesta Malam Berbahagia

0 komentar
( 3 Desember )

Di ujung usianya
Malam berbahagia
Ia beri tenang di tengah temaram
Kelambu sutera penjaga mimpi

Di ujung hadirnya
Rembulan berbahagia
Ia beri bentuk terindahnya pada mata
Lampu terakhir sebelum pejam

Di ujung pijarnya
Bintang berbahagia
Ia beri kilau secantik berlian
Perhiasan-perhiasan malam perempuan

Di penghujung hidupnya
Semesta malam berbahagia
Melepas segala yang mereka punya
Sekedar santun, selagi mengantar nyawa

Tak ada tangis yang bermuara
Hanya indah yang terlihat mata, malam bahagia adanya
Perihal kedatangan manusia
Perempuan suci, pemilik dekap paling setia

Selamat berbahagia
Sebuah doa penutup malam
Sebuah harap pembuka fajar
Kupanjatkan, berkalung tulus paling khidmat

Selamat ulang tahun, kamu

Makassar, 2013

Read full post »

Senin, 02 Desember 2013

Sepucuk Surat untuk Kamu

0 komentar




Dear D...

Aku ingin membuat sebuah pengakuan. Pengakuan yang mungkin tiada artinya dalam hidupmu, namun mengambil makna dari sebagian hidupku. Pengakuan yang serupa daun pagi yang terhempas setengah sisinya. Seperti tak seimbang, karena tak seluruhnya sama, karena tak dua-duanya mungkin merasa.

Aku ingin memulainya dari sebuah pertemuan. Pertemuan, kala mataku membingkaimu dalam tatapan. Tatap itu terjadi kira-kira dua tahun silam. Memang, sudah lama. Aku melihatmu dari sebuah foto. Foto formal sederhana berukuran 3x4. Yang tampak hanya potongan setengah dirimu. Dengan kerudung hitam dan baju berwarna biru tua, kamu tampil begitu sederhana. Kuperhatikan lekat parasmu, meski tak cukup jelas. Garis wajah yang teduh, tak menampakkan sikap angkuh sekilas kutemukan di sana. Aku tersenyum tipis. Hatiku menggumam kala itu. "Seperti apa orangnya yah?"

Mataku kemudian mulai menyapa dalam tatap nyata. Temu yang sebenar-benarnya temu. Aku melihatmu secara langsung. Tanpa tirai, tanpa sekat, tanpa halang bayangan. Sosok perempuan berkerudung hitam, berkulit sawo matang namun cenderung putih dan bersih. Kupandangi beberapa lama, kubiarkan anganku beranak asa dalam semesta pikir. "Sama, masih tetap sama. Seperti di foto" batinku. Baju biru tua dan rok panjang hitam membuatmu terlihat apa adanya. Tak ada senyum maupun tawa, hanya diam yang bersandar di wajah. Lekat, kutatap rapat bersela jauh jarak. Kala itu aku mendekap doa dalam hati, "Semoga aku bisa mengenalnya nanti.".

Setahun berjalan, sesap, aku mencuri pandang di balik pundak teman. Sekedar melepas rindu akan rasa yang tak pernah dimengerti. Ini candu. Hingga akhirnya doaku terjamah. Sapa memperkenalkan kita. Waktu itu kita sedang rapat, entah tentang apa. Jam dinding menunjukkan pukul lima sore. Dalam ruang yang cukup luas itu namun sesak karena penuh nyawa, kamu berdiri, melangkah menuju pintu. Entah karena apa, lisanku berkata.

"Mau kemana? Kok cepet banget pulang?" tanyaku dengan nada melarang tapi diselingi senyum jua. 
"Iya kak, datang jemputanku." jawabmu dengan senyum kikuk. 
"Emangnya siapa yang jemput? Rapat belum selesai nih." tahanku.
"Ada bapakku kak." jawabmu, senyummu sopan.
Sejenak aku berpikir. "Oooo." sahutku dengan wajah serius.
"Kalau begitu salam buat bapak yah." ledekku. Kuselipkan senyum padamu. Kamu tersenyum. Sedikit tergesa kamu pakai sepatu flat itu. Sedikit berlari, lalu berlalu. Senyummu belum hilang.

Semenjak itu aku jarang bersapa denganmu. Mungkin karena kesibukan kuliah dan praktek yang membuat lupa atau sekedar suratan yang belum menyatakan kesempatan. Tetapi aku tetap bersyukur. Walau tanpa sapa, aku tetap senang saat menemukanmu tersenyum di tengah teman-temanmu. Senang menemukanmu, saat kamu tertawa oleh celoteh lelucon sahabatmu. Senang menemukanmu, saat seolah berbisik dengan para perempuan di sampingmu.

Hingga tanggal 31 Agustus 2013 semua jelas begini adanya. Barulah aku sadar, aku tak hanya sekedar kagum padamu. Lagi, takdir mempertemukan kita dalam sebuah acara halal bi halal. Malam itu, mataku malu. Kamu cantik sekali. Lebih cantik dari yang tercantik. Meski dalam bisu, aku merasa bahagia. Seakan memberi makan rindu yang tengah kelaparan, aku tak bisa berhenti melihatmu. Tepat di belakangmu, dua kursi ke kanan, aku disana membunuh rindu, sendiri. Menggila sendiri, tak bisa ditahan. Kupinjam android temanku, kutuliskan perasaanku lewat akun twitterku.


D...

Aku menyukai kesederhanaanmu, kala dulu. Namun kini, aku mencintai keanggunanmu. Entah mengapa berganti. Mungkin karena mereka sebenarnya sama, kamu. Kini, bermacam warna kerudung menghiasi parasmu. Tak jarang juga aneka warna pasmina memperindah mahkotamu. Kamu tampak lebih dewasa dan memukau. Pesonamu, aku tenggelam di sana dalam-dalam.

Lewat surat ini aku ingin mengaku bahwa aku telah jatuh hati padamu. Hatiku telah tertambat di setiap bayangan senyummu, di setiap jejak langkah kepergianmu yang sering kuperhatikan. Karena itu izinkanlah aku berterima kasih. Kehadiranmu sungguh bermakna dalam hidupku. Walau hanya berteman diam, bersanding sepi, tanpa aksara maupun kata yang terucap, aku tetap memuji Sang Ilahi, bersyukur.

Kamu telah membuatku membuka mata. Membangunkanku dari tidur lama yang kerap buta rasa dan dunia. Kehadiranmu sekali lagi membuatku menikmati indah kata sakral cinta. Membuatku kembali tahu bagaimana merasa rindu bahkan sebelum mencinta. Membuatku kembali sadar arti cinta yang sebenarnya, pembeda antara makna rasa dengan nafsu belaka.

Terima kasih D...
Aku mencintaimu.


Salam rindu yang paling hangat,
Dari yang diam-diam mencintaimu.

Read full post »

Minggu, 01 Desember 2013

Resensi - 12 Menit

0 komentar

Judul : 12 Menit
Penulis : Oka Aurora
Penerbit : Noura Books
Terbit : Mei 2013
Halaman : 348 hlm
ISBN : 978-602-7816-33-6

SINOPSIS 

Elaine, sang pemain biola, yakin bahwa musik adalah segala-galanya. Namun ayahnya menentang, menganggapnya sia-sia.

Tara, berusaha menguasai nada-nada snare drum meski memiliki keterbatasan pendengaran. 
Tetapi luka masa lalunya terus menghantui.

Lahang, di tengah deritanya, berusaha memenuhi janji pada sang ayah. 
Namun dilema membuatnya ragu melangkah.

Rene bermimpi membawa mereka, tim marching band yang dilatihnya, menjadi juara.
Meskipun mereka hanya datang dari sebuah kota di pelosok negeri. 
Meskipun orang lain menganggap itu mustahil.

Mereka berlatih ribuan jam hanya demi 12 menit penentuan. Mereka bertekad membuktikan pada dunia. Bahwa mimpi harus kau percayai agar terwujud. Dreaming is believing. Dan bersama-sama mereka akan menyerukan, Vincero!

*****

Terkadang kita sebagai manusia perlu sejenak berpikir bahwa memang hidup itu adalah sebuah perjuangan. Perjuangan akan mimpi dan tujuan. Namun, beberapa manusia banyak yang lupa dengan hal itu. Sebagian dari mereka terkadang berhenti di tengah jalan. Sebagian berhenti bahkan sesaat kemenangan sebenarnya ada di depan mata. Dan, sebagian berhenti memperjuangkan hidup dan mimpi bahkan sebelum memulainya. Miris, namun itulah kenyataan. Tetapi, pernahkah kita berpikir untuk apa kita memperjuangkan hidup dan mimpi? Untuk siapa? Apakah kita punya alasan untuk memperjuangkan itu semua?

"Dalam dua belas minggu ke depan, kita akan habiskan ratusan jam, siang, dan malam, demi dua belas menit. Dua belas menit di Istora nanti." ..."Dua belas menit ini yang akan menentukan apakah kita akan juara. Dua belas menit ini yang menentukan apa yang akan kita kenang seumur hidup." (hlm. 83)

12 Menit menceritakan tentang perjuangan keras Marching Band Bontang Pupuk Kaltim demi meraih kemenangan dalam ajang Nasional Grand Prix Marching Band (GPMB). Sebuah perjuangan yang sangat besar dimana seluruh latihan selama ratusan bahkan ribuan jam dipertaruhkan hanya dua belas menit penampilan. Tak disangka, banyak pengorbanan, tetes keringat, peluh, resah, masalah, bahkan air mata demi dua belas menit yang akan mengubah segalanya. Oka Aurora menggambarkan secara memukau namun sederhana bagaimana kerja keras itu berusaha menggapai impiannya.

Rene, seorang mantan pemain Marching Band Phantom Regiment yang memiliki kemampuan dan pengalaman skala internasional. Bukan hanya sebutan, kemampuannya nyata dan diakui setelah kepulangannya dari Amerika, ia langsung membawa sebuah marching band di Jakarta menjadi juara GPMB selama tiga tahun berturut-turut. Kemampuan luar biasa ini membuat sebuah perusahaan besar meminta dirinya untuk melatih Marching Band Bontang Pupuk Kaltim.

Bagi diri Rene, melatih sebuah marching band sudah menjadi layaknya rutinitas biasa baginya. Namun, saat ia bertemu dengan anak-anak Bontang, ia terhenyak. Ia berpikir bahwa masalah terbesar mengajari anak-anak Bontang bukan terletak pada kemampuan teknik bermain musik, tapi terletak pada kepercayaan diri, mental mereka. Rene sempat ragu pada dirinya. Rene merasa anak-anak ini punya potensi yang sama dengan anak-anak Jakarta, bahkan mungkin lebih. Namun, anak-anak Bontang tidak sadar akan hal itu. Anak-anak itu selalu merasa tidak percaya diri, merasa "kecil" karena berasal dari kota kecil.

Masalah yang dihadapi Rene, tidak sampai disitu. Selain memperbaiki teknik bermain marching band dan memberikan motivasi bahwa siapa saja bisa jadi juara, ia dihadapkan juga pada berbagai masalah. Mulai dari kehilangan anggota tim inti sampai masalah pribadi anggotanya yang membuatnya mau tak mau ikut terlibat di dalamnya. Hal ini dilakukannya semata-mata demi membawa mereka menjadi juara.

Tara, remaja berkerudung yang sangat menyukai musik terutama bermain drum. Sejak kecil ia banyak memperoleh prestasi dari kesukaannya itu. Tetapi, semua berubah sejak kecelakaan yang menewaskan ayahnya. Ia trauma. Tara merasa bahwa ia yang menyebabkan kecelakaan tersebut. Akibat kecelakaan itu kemampuan mendengarnya berkurang, tinggal sekitar sepuluh persen saja. Akibat kecelakaan itu pula ia kehilangan kepercayaan diri, kehilangan kemampuan bermain drumnya. Kepergian ibunya ke luar negeri untuk kuliah juga memperberat bebannya. Satu-satunya yang diharap sebagai tempat bergantung dari mimpi buruknya hilang. Opa dan oma-nya lah yang senantiasa setia menghibur Tara. Ketika bersekolah kembali, ia mengenal Marching Band Bontang Pupuk Kaltim. Semangatnya kembali, tetapi kenangan masa lalunya masih menghantui. Didikan keras dari Rene, sempat membuat Tara goyah. Ia hampir menyerah.

Elaine, remaja berdarah Indonesia-Jepang ini terlahir dengan kejaiban. Cantik, pintar, berprestasi, dan berkemampuan musik yang tinggi. Elaine sangat mencintai musik dan itu adalah segala-galanya bagi dirinya. Namun, ayahnya tak mendukung bakatnya. Ayahnya, Josuke, menginginkan Elaine menjadi ilmuwan. Josuke berpikir bahwa musik hanyalah hura-hura. Dilema terjadi saat Elaine terpilih menjadi field commander. Josuke melarang keras Elaine ikut marching band lagi, terlebih saat Elaine membatalkan mengikuti Olimpiade Fisika demi GPMB.

Lahang, anak seorang pemuka suku Dayak yang hidup serba kekurangan. Meski hidup dengan serba kekurangan, tak pernah mengurangi semangatnya dalam latihan marching band. Hal itu terlihat dari gigihnya menempuh perjalanan yang jauh dan penuh bahaya, masuk hutan, demi mengikuti latihan tiga kali seminggu di stadion. Karena ia memiliki tujuan melihat Monas sebagai pencapaian mimpinya dan juga sekaligus mimpi almarhum ibunya. Tetapi, Lahang ragu ketika ayahnya jatuh sakit. Ia dilema. Di satu sisi ia tak ingin meninggalkan ayahnya yang sakit, ia tak ingin melepas kepergian ayahnya tanpa ada di sisi beliau. Di lain sisi ia juga bimbang terhadap janjinya pada ayahnya untuk terus hidup dan menggapai mimpinya.

12 Menit merupakan cerita yang luar biasa. Novel ini patut diberikan acungan jempol. Plot cerita dibangun dengan kuat dan rapi. Alur cerita adalah alur maju mundur, tetapi berhasil disajikan oleh penulis sehingga terkesan mengalir. Hal ini membuat pembaca merasa penasaran untuk terus membaca dari satu halaman ke halaman selanjutnya. Pemakaian diksi yang tepat dan sederhana benar-benar mengimbangi tata bahasa dalam novel yang banyak menyinggung istilah-istilah marching band ini.

Dari segi cover, novel ini cukup menarik. Paduan warna biru yang dominan, gambar sebuah lemari kayu dan tulisan "12 MENIT" cukup membuat para penikmat novel pastinya bertanya-tanya tentang kisah yang ada di dalamnya. Jika saya tidak membaca endorsement dan sinopsisnya mungkin saya tidak tahu jika novel ini termasuk kategori novel inspirasi. Huruf yang dipakai dalam novel ini juga baik, sangat jelas, tidak memberi kesan jenuh walaupun novel ini sebenarnya cukup tebal untuk dibaca.

Novel ini mengambil latar Bontang, Kalimantan Timur. Di dalamnya juga terdapat penggambaran beberapa budaya lokal setempat seperti ritual Bemeliatn yang diyakini oleh suku Dayak dapat mengusir roh jahat yang bersemayam pada orang sakit. Penggambaran detail dan tokoh yang ada dalam novel tidak terlalu mencolok. Penulis seakan menggambarkannya dengan sederhana sehingga menimbulkan kesan yang apa adanya.

Kelebihan lainnya dari novel terbitan Noura ini yaitu tidak ditemukan typo ataupun kesalahan penulisan. Kalaupun ada, itu mungkin hanya satu seperti dua kata yang berdempet. Lewat novel ini, penulis juga memperkenalkan berbagai istilah dalam marching band, seperti cadet band, brass, battery, color guards, dan lain sebagainya. Cukup sulit memang memahaminya terlebih lagi untuk sebuah novel yang terkadang pembaca tidak ingin dipusingkan dengan istilah-istilah yang terlalu tinggi. Tetapi penulis sadar hal itu. Oleh karenanya ia sengaja menempatkan glosarium dalam novel ini.

Based true story, membuat novel ini terlihat nyata dan dinilai sangat cocok untuk dijadikan pelajaran. Bersama dengan penyampaian detail karakter dari tokoh dalam cerita membuat novel ini terkesan natural. Konflik yang ditimbulkan penulis dalam novel lebih banyak mengarah pada konflik internal (diri sendiri). Hal ini menguatkan bahwa penulis ingin membuat penikmat ceritanya memahami bahwa perjuangan yang paling sulit dlam hidup manusia adalah mengalahkan diri sendiri.

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sebuah bangsa sampai mereka mengubah keadaan mereka sendiri." ( QS Al Ra'd [13] : 11 )

Kutipan atau kata-kata mutiara adalah jiwa dari sebuah novel inspirasi. Oka Aurora paham sekali hal ini. Hal ini terlihat dengan banyaknya kata-kata mutiara dan kutipan menarik yang bertaburan di tiap lembar halaman novel ini. Beberapa kutipan menarik itu antara lain.

"Jangan pernah berhenti membuat keajaiban." (hlm 18)
"Anak-anak dari kota kecil juga bisa melakukan sesuatu yang besar." (hlm. 62)
"Berapa pun waktu yang diberikan tak seharusnya dihabiskan dengan ketakutan. Karena ketakutan tak kan pernah menyambung hidupmu. Yang akan menyambung hidupmu, hanya keberanian." (hlm. 104)
"Think like a champion. And fight like a champion." (hlm. 309)

Emosi pada beberapa bagian novel terasa sangat nyata walaupun bahasa yang digunakan penulis sederhana. Alhasil pada beberapa moment yang terjadi, imaji saya berasa mengawang membayangkan seperti apa adegan film 12 Menit ini. Untuk sebuah novel, ini adalah karya yang megah. Bagaimana tidak, penulis cukup apik menggabungkan beberapa kisah tokoh dalam cerita bernuansa inspiratif menjadi kesatupaduan, dan itu bukanlah hal yang mudah.

Akan tetapi, di satu sisi hal itu terlihat seperti kelemahan. Karena diadaptasi dari sebuah skenario film, sepertinya penulis kurang dapat memadukan berbagai kisah tokoh di beberapa bagian novel secara menyeluruh. Akibatnya pada beberapa bagian, novel terasa seperti potongan puzzle, "kotak-kotak". Tetapi, hal ini dapat ditutupi dengan keahlian penulis memainkan konflik dan penempatan anti klimaks dalam cerita yang membuat cerita lebih menyentuh.

Sebagai sebuah novel perdana, novel ini sangat luar biasa. Sebuah novel yang berkisah tentang kerasnya perjuagan dan bagaimana konsistensi kita melewati rintangan demi mencapai mimpi, novel 12 Menit cocok jika disandingkan dengan beberapa novel inspirasi lainnnya seperti Sang Pemimpi dan Sepatu Dahlan.

Akhir kata, bagi anda yang percaya bahwa tak ada yang lebih mempesona dari perjuagan menggapai mimpi, novel 12 Menit ini sangat layak memperoleh tempat di jejeran koleksi buku pribadi anda. Oka hanya menceritakan salah satu contohnya. Dan bagi anda mantan pemain marching band, silahkan flash back kisah anda dalam novel ini. Mungkin anda menemukan "kisah anda" di dalam sana.

Perjuangan terberat dalam hidup manusua adalah perjuagan mengalahkan diri sendiri. Buku ini adalah bagi semua yang memenangkannya.

4,5 of 5 star for 12 Menit by Oka Aurora.






Read full post »
 

Copyright © Garis Satu Kata Design by Free CSS Templates | Blogger Theme by BTDesigner | Powered by Blogger