Senin, 02 Desember 2013

Sepucuk Surat untuk Kamu

0 komentar




Dear D...

Aku ingin membuat sebuah pengakuan. Pengakuan yang mungkin tiada artinya dalam hidupmu, namun mengambil makna dari sebagian hidupku. Pengakuan yang serupa daun pagi yang terhempas setengah sisinya. Seperti tak seimbang, karena tak seluruhnya sama, karena tak dua-duanya mungkin merasa.

Aku ingin memulainya dari sebuah pertemuan. Pertemuan, kala mataku membingkaimu dalam tatapan. Tatap itu terjadi kira-kira dua tahun silam. Memang, sudah lama. Aku melihatmu dari sebuah foto. Foto formal sederhana berukuran 3x4. Yang tampak hanya potongan setengah dirimu. Dengan kerudung hitam dan baju berwarna biru tua, kamu tampil begitu sederhana. Kuperhatikan lekat parasmu, meski tak cukup jelas. Garis wajah yang teduh, tak menampakkan sikap angkuh sekilas kutemukan di sana. Aku tersenyum tipis. Hatiku menggumam kala itu. "Seperti apa orangnya yah?"

Mataku kemudian mulai menyapa dalam tatap nyata. Temu yang sebenar-benarnya temu. Aku melihatmu secara langsung. Tanpa tirai, tanpa sekat, tanpa halang bayangan. Sosok perempuan berkerudung hitam, berkulit sawo matang namun cenderung putih dan bersih. Kupandangi beberapa lama, kubiarkan anganku beranak asa dalam semesta pikir. "Sama, masih tetap sama. Seperti di foto" batinku. Baju biru tua dan rok panjang hitam membuatmu terlihat apa adanya. Tak ada senyum maupun tawa, hanya diam yang bersandar di wajah. Lekat, kutatap rapat bersela jauh jarak. Kala itu aku mendekap doa dalam hati, "Semoga aku bisa mengenalnya nanti.".

Setahun berjalan, sesap, aku mencuri pandang di balik pundak teman. Sekedar melepas rindu akan rasa yang tak pernah dimengerti. Ini candu. Hingga akhirnya doaku terjamah. Sapa memperkenalkan kita. Waktu itu kita sedang rapat, entah tentang apa. Jam dinding menunjukkan pukul lima sore. Dalam ruang yang cukup luas itu namun sesak karena penuh nyawa, kamu berdiri, melangkah menuju pintu. Entah karena apa, lisanku berkata.

"Mau kemana? Kok cepet banget pulang?" tanyaku dengan nada melarang tapi diselingi senyum jua. 
"Iya kak, datang jemputanku." jawabmu dengan senyum kikuk. 
"Emangnya siapa yang jemput? Rapat belum selesai nih." tahanku.
"Ada bapakku kak." jawabmu, senyummu sopan.
Sejenak aku berpikir. "Oooo." sahutku dengan wajah serius.
"Kalau begitu salam buat bapak yah." ledekku. Kuselipkan senyum padamu. Kamu tersenyum. Sedikit tergesa kamu pakai sepatu flat itu. Sedikit berlari, lalu berlalu. Senyummu belum hilang.

Semenjak itu aku jarang bersapa denganmu. Mungkin karena kesibukan kuliah dan praktek yang membuat lupa atau sekedar suratan yang belum menyatakan kesempatan. Tetapi aku tetap bersyukur. Walau tanpa sapa, aku tetap senang saat menemukanmu tersenyum di tengah teman-temanmu. Senang menemukanmu, saat kamu tertawa oleh celoteh lelucon sahabatmu. Senang menemukanmu, saat seolah berbisik dengan para perempuan di sampingmu.

Hingga tanggal 31 Agustus 2013 semua jelas begini adanya. Barulah aku sadar, aku tak hanya sekedar kagum padamu. Lagi, takdir mempertemukan kita dalam sebuah acara halal bi halal. Malam itu, mataku malu. Kamu cantik sekali. Lebih cantik dari yang tercantik. Meski dalam bisu, aku merasa bahagia. Seakan memberi makan rindu yang tengah kelaparan, aku tak bisa berhenti melihatmu. Tepat di belakangmu, dua kursi ke kanan, aku disana membunuh rindu, sendiri. Menggila sendiri, tak bisa ditahan. Kupinjam android temanku, kutuliskan perasaanku lewat akun twitterku.


D...

Aku menyukai kesederhanaanmu, kala dulu. Namun kini, aku mencintai keanggunanmu. Entah mengapa berganti. Mungkin karena mereka sebenarnya sama, kamu. Kini, bermacam warna kerudung menghiasi parasmu. Tak jarang juga aneka warna pasmina memperindah mahkotamu. Kamu tampak lebih dewasa dan memukau. Pesonamu, aku tenggelam di sana dalam-dalam.

Lewat surat ini aku ingin mengaku bahwa aku telah jatuh hati padamu. Hatiku telah tertambat di setiap bayangan senyummu, di setiap jejak langkah kepergianmu yang sering kuperhatikan. Karena itu izinkanlah aku berterima kasih. Kehadiranmu sungguh bermakna dalam hidupku. Walau hanya berteman diam, bersanding sepi, tanpa aksara maupun kata yang terucap, aku tetap memuji Sang Ilahi, bersyukur.

Kamu telah membuatku membuka mata. Membangunkanku dari tidur lama yang kerap buta rasa dan dunia. Kehadiranmu sekali lagi membuatku menikmati indah kata sakral cinta. Membuatku kembali tahu bagaimana merasa rindu bahkan sebelum mencinta. Membuatku kembali sadar arti cinta yang sebenarnya, pembeda antara makna rasa dengan nafsu belaka.

Terima kasih D...
Aku mencintaimu.


Salam rindu yang paling hangat,
Dari yang diam-diam mencintaimu.

Read full post »

Minggu, 01 Desember 2013

Resensi - 12 Menit

0 komentar

Judul : 12 Menit
Penulis : Oka Aurora
Penerbit : Noura Books
Terbit : Mei 2013
Halaman : 348 hlm
ISBN : 978-602-7816-33-6

SINOPSIS 

Elaine, sang pemain biola, yakin bahwa musik adalah segala-galanya. Namun ayahnya menentang, menganggapnya sia-sia.

Tara, berusaha menguasai nada-nada snare drum meski memiliki keterbatasan pendengaran. 
Tetapi luka masa lalunya terus menghantui.

Lahang, di tengah deritanya, berusaha memenuhi janji pada sang ayah. 
Namun dilema membuatnya ragu melangkah.

Rene bermimpi membawa mereka, tim marching band yang dilatihnya, menjadi juara.
Meskipun mereka hanya datang dari sebuah kota di pelosok negeri. 
Meskipun orang lain menganggap itu mustahil.

Mereka berlatih ribuan jam hanya demi 12 menit penentuan. Mereka bertekad membuktikan pada dunia. Bahwa mimpi harus kau percayai agar terwujud. Dreaming is believing. Dan bersama-sama mereka akan menyerukan, Vincero!

*****

Terkadang kita sebagai manusia perlu sejenak berpikir bahwa memang hidup itu adalah sebuah perjuangan. Perjuangan akan mimpi dan tujuan. Namun, beberapa manusia banyak yang lupa dengan hal itu. Sebagian dari mereka terkadang berhenti di tengah jalan. Sebagian berhenti bahkan sesaat kemenangan sebenarnya ada di depan mata. Dan, sebagian berhenti memperjuangkan hidup dan mimpi bahkan sebelum memulainya. Miris, namun itulah kenyataan. Tetapi, pernahkah kita berpikir untuk apa kita memperjuangkan hidup dan mimpi? Untuk siapa? Apakah kita punya alasan untuk memperjuangkan itu semua?

"Dalam dua belas minggu ke depan, kita akan habiskan ratusan jam, siang, dan malam, demi dua belas menit. Dua belas menit di Istora nanti." ..."Dua belas menit ini yang akan menentukan apakah kita akan juara. Dua belas menit ini yang menentukan apa yang akan kita kenang seumur hidup." (hlm. 83)

12 Menit menceritakan tentang perjuangan keras Marching Band Bontang Pupuk Kaltim demi meraih kemenangan dalam ajang Nasional Grand Prix Marching Band (GPMB). Sebuah perjuangan yang sangat besar dimana seluruh latihan selama ratusan bahkan ribuan jam dipertaruhkan hanya dua belas menit penampilan. Tak disangka, banyak pengorbanan, tetes keringat, peluh, resah, masalah, bahkan air mata demi dua belas menit yang akan mengubah segalanya. Oka Aurora menggambarkan secara memukau namun sederhana bagaimana kerja keras itu berusaha menggapai impiannya.

Rene, seorang mantan pemain Marching Band Phantom Regiment yang memiliki kemampuan dan pengalaman skala internasional. Bukan hanya sebutan, kemampuannya nyata dan diakui setelah kepulangannya dari Amerika, ia langsung membawa sebuah marching band di Jakarta menjadi juara GPMB selama tiga tahun berturut-turut. Kemampuan luar biasa ini membuat sebuah perusahaan besar meminta dirinya untuk melatih Marching Band Bontang Pupuk Kaltim.

Bagi diri Rene, melatih sebuah marching band sudah menjadi layaknya rutinitas biasa baginya. Namun, saat ia bertemu dengan anak-anak Bontang, ia terhenyak. Ia berpikir bahwa masalah terbesar mengajari anak-anak Bontang bukan terletak pada kemampuan teknik bermain musik, tapi terletak pada kepercayaan diri, mental mereka. Rene sempat ragu pada dirinya. Rene merasa anak-anak ini punya potensi yang sama dengan anak-anak Jakarta, bahkan mungkin lebih. Namun, anak-anak Bontang tidak sadar akan hal itu. Anak-anak itu selalu merasa tidak percaya diri, merasa "kecil" karena berasal dari kota kecil.

Masalah yang dihadapi Rene, tidak sampai disitu. Selain memperbaiki teknik bermain marching band dan memberikan motivasi bahwa siapa saja bisa jadi juara, ia dihadapkan juga pada berbagai masalah. Mulai dari kehilangan anggota tim inti sampai masalah pribadi anggotanya yang membuatnya mau tak mau ikut terlibat di dalamnya. Hal ini dilakukannya semata-mata demi membawa mereka menjadi juara.

Tara, remaja berkerudung yang sangat menyukai musik terutama bermain drum. Sejak kecil ia banyak memperoleh prestasi dari kesukaannya itu. Tetapi, semua berubah sejak kecelakaan yang menewaskan ayahnya. Ia trauma. Tara merasa bahwa ia yang menyebabkan kecelakaan tersebut. Akibat kecelakaan itu kemampuan mendengarnya berkurang, tinggal sekitar sepuluh persen saja. Akibat kecelakaan itu pula ia kehilangan kepercayaan diri, kehilangan kemampuan bermain drumnya. Kepergian ibunya ke luar negeri untuk kuliah juga memperberat bebannya. Satu-satunya yang diharap sebagai tempat bergantung dari mimpi buruknya hilang. Opa dan oma-nya lah yang senantiasa setia menghibur Tara. Ketika bersekolah kembali, ia mengenal Marching Band Bontang Pupuk Kaltim. Semangatnya kembali, tetapi kenangan masa lalunya masih menghantui. Didikan keras dari Rene, sempat membuat Tara goyah. Ia hampir menyerah.

Elaine, remaja berdarah Indonesia-Jepang ini terlahir dengan kejaiban. Cantik, pintar, berprestasi, dan berkemampuan musik yang tinggi. Elaine sangat mencintai musik dan itu adalah segala-galanya bagi dirinya. Namun, ayahnya tak mendukung bakatnya. Ayahnya, Josuke, menginginkan Elaine menjadi ilmuwan. Josuke berpikir bahwa musik hanyalah hura-hura. Dilema terjadi saat Elaine terpilih menjadi field commander. Josuke melarang keras Elaine ikut marching band lagi, terlebih saat Elaine membatalkan mengikuti Olimpiade Fisika demi GPMB.

Lahang, anak seorang pemuka suku Dayak yang hidup serba kekurangan. Meski hidup dengan serba kekurangan, tak pernah mengurangi semangatnya dalam latihan marching band. Hal itu terlihat dari gigihnya menempuh perjalanan yang jauh dan penuh bahaya, masuk hutan, demi mengikuti latihan tiga kali seminggu di stadion. Karena ia memiliki tujuan melihat Monas sebagai pencapaian mimpinya dan juga sekaligus mimpi almarhum ibunya. Tetapi, Lahang ragu ketika ayahnya jatuh sakit. Ia dilema. Di satu sisi ia tak ingin meninggalkan ayahnya yang sakit, ia tak ingin melepas kepergian ayahnya tanpa ada di sisi beliau. Di lain sisi ia juga bimbang terhadap janjinya pada ayahnya untuk terus hidup dan menggapai mimpinya.

12 Menit merupakan cerita yang luar biasa. Novel ini patut diberikan acungan jempol. Plot cerita dibangun dengan kuat dan rapi. Alur cerita adalah alur maju mundur, tetapi berhasil disajikan oleh penulis sehingga terkesan mengalir. Hal ini membuat pembaca merasa penasaran untuk terus membaca dari satu halaman ke halaman selanjutnya. Pemakaian diksi yang tepat dan sederhana benar-benar mengimbangi tata bahasa dalam novel yang banyak menyinggung istilah-istilah marching band ini.

Dari segi cover, novel ini cukup menarik. Paduan warna biru yang dominan, gambar sebuah lemari kayu dan tulisan "12 MENIT" cukup membuat para penikmat novel pastinya bertanya-tanya tentang kisah yang ada di dalamnya. Jika saya tidak membaca endorsement dan sinopsisnya mungkin saya tidak tahu jika novel ini termasuk kategori novel inspirasi. Huruf yang dipakai dalam novel ini juga baik, sangat jelas, tidak memberi kesan jenuh walaupun novel ini sebenarnya cukup tebal untuk dibaca.

Novel ini mengambil latar Bontang, Kalimantan Timur. Di dalamnya juga terdapat penggambaran beberapa budaya lokal setempat seperti ritual Bemeliatn yang diyakini oleh suku Dayak dapat mengusir roh jahat yang bersemayam pada orang sakit. Penggambaran detail dan tokoh yang ada dalam novel tidak terlalu mencolok. Penulis seakan menggambarkannya dengan sederhana sehingga menimbulkan kesan yang apa adanya.

Kelebihan lainnya dari novel terbitan Noura ini yaitu tidak ditemukan typo ataupun kesalahan penulisan. Kalaupun ada, itu mungkin hanya satu seperti dua kata yang berdempet. Lewat novel ini, penulis juga memperkenalkan berbagai istilah dalam marching band, seperti cadet band, brass, battery, color guards, dan lain sebagainya. Cukup sulit memang memahaminya terlebih lagi untuk sebuah novel yang terkadang pembaca tidak ingin dipusingkan dengan istilah-istilah yang terlalu tinggi. Tetapi penulis sadar hal itu. Oleh karenanya ia sengaja menempatkan glosarium dalam novel ini.

Based true story, membuat novel ini terlihat nyata dan dinilai sangat cocok untuk dijadikan pelajaran. Bersama dengan penyampaian detail karakter dari tokoh dalam cerita membuat novel ini terkesan natural. Konflik yang ditimbulkan penulis dalam novel lebih banyak mengarah pada konflik internal (diri sendiri). Hal ini menguatkan bahwa penulis ingin membuat penikmat ceritanya memahami bahwa perjuangan yang paling sulit dlam hidup manusia adalah mengalahkan diri sendiri.

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sebuah bangsa sampai mereka mengubah keadaan mereka sendiri." ( QS Al Ra'd [13] : 11 )

Kutipan atau kata-kata mutiara adalah jiwa dari sebuah novel inspirasi. Oka Aurora paham sekali hal ini. Hal ini terlihat dengan banyaknya kata-kata mutiara dan kutipan menarik yang bertaburan di tiap lembar halaman novel ini. Beberapa kutipan menarik itu antara lain.

"Jangan pernah berhenti membuat keajaiban." (hlm 18)
"Anak-anak dari kota kecil juga bisa melakukan sesuatu yang besar." (hlm. 62)
"Berapa pun waktu yang diberikan tak seharusnya dihabiskan dengan ketakutan. Karena ketakutan tak kan pernah menyambung hidupmu. Yang akan menyambung hidupmu, hanya keberanian." (hlm. 104)
"Think like a champion. And fight like a champion." (hlm. 309)

Emosi pada beberapa bagian novel terasa sangat nyata walaupun bahasa yang digunakan penulis sederhana. Alhasil pada beberapa moment yang terjadi, imaji saya berasa mengawang membayangkan seperti apa adegan film 12 Menit ini. Untuk sebuah novel, ini adalah karya yang megah. Bagaimana tidak, penulis cukup apik menggabungkan beberapa kisah tokoh dalam cerita bernuansa inspiratif menjadi kesatupaduan, dan itu bukanlah hal yang mudah.

Akan tetapi, di satu sisi hal itu terlihat seperti kelemahan. Karena diadaptasi dari sebuah skenario film, sepertinya penulis kurang dapat memadukan berbagai kisah tokoh di beberapa bagian novel secara menyeluruh. Akibatnya pada beberapa bagian, novel terasa seperti potongan puzzle, "kotak-kotak". Tetapi, hal ini dapat ditutupi dengan keahlian penulis memainkan konflik dan penempatan anti klimaks dalam cerita yang membuat cerita lebih menyentuh.

Sebagai sebuah novel perdana, novel ini sangat luar biasa. Sebuah novel yang berkisah tentang kerasnya perjuagan dan bagaimana konsistensi kita melewati rintangan demi mencapai mimpi, novel 12 Menit cocok jika disandingkan dengan beberapa novel inspirasi lainnnya seperti Sang Pemimpi dan Sepatu Dahlan.

Akhir kata, bagi anda yang percaya bahwa tak ada yang lebih mempesona dari perjuagan menggapai mimpi, novel 12 Menit ini sangat layak memperoleh tempat di jejeran koleksi buku pribadi anda. Oka hanya menceritakan salah satu contohnya. Dan bagi anda mantan pemain marching band, silahkan flash back kisah anda dalam novel ini. Mungkin anda menemukan "kisah anda" di dalam sana.

Perjuangan terberat dalam hidup manusua adalah perjuagan mengalahkan diri sendiri. Buku ini adalah bagi semua yang memenangkannya.

4,5 of 5 star for 12 Menit by Oka Aurora.






Read full post »

Minggu, 24 November 2013

Karena Cinta Tak Kenal Segalanya

2 komentar
Karena cinta tak kenal waktu
aku tak tahu jelas kapan pikir penuh akan parasmu

Karena cinta tak kenal tempat
aku tak tahu jelas dimana rindu ini pernah tertambat

Dan, karena cinta tak kenal segalanya
aku mencintaimu tanpa bisa berkata apa-apa

Makassar, 2013

Read full post »

Senin, 18 November 2013

#Sebabkamu

0 komentar
Cinta, galau, sedih, senang, dan berbagai macam luapan emosi biasanya dapat memicu "kreativitas" menulis seseorang. Yah, salah satunya adalah gua, yang lagi galau bercampur cinta (deeh, cinta campur galau gimana rasanya mas?). "Sindrom" yang baru-baru gua derita ini berdampak baik ke gua (menurut gua sih). Kemampuan gua ngetweet melankolis (kebanyakan orang bilang galau, huh! dasar gak tau seni) berkembang pesat.


Tak disangka, pucuk dicinta, ulam pun tiba. Pas banget, malamnya gua ngegalau, eh kebetulan om @1bichara muncul di timeline. Beliau lagi bersajak ria dengan para followersnya dengan hestek #sebabkamu. Ya udah, gua juga gak mau ketinggalan.


Terinspirasi dari om @1bichara yang jago banget bersajak dan sajak-sajak keren followersnya, jiwa muda gua menjadi terbakar! Membara! Bersemangat! (terbakar galaunya kalee, hahaha). Alhasil, inilah tweet-tweet sajak #sebabkamu amatiran asli buatan gua, :D
Enjoy!


#Sebabkamu ialah sajak, candu yang mampu membuatku tak pernah beranjak.

#Sebabkamu ialah hawa, yang kian terasa, rapuh di asa, namun indah karena cinta.

#Sebabkamu ialah kamu, sosok yang selalu kutunggu dalam setiap mimpiku.

#Sebabkamu ialah hujan, penyejuk diantara piluku yang kian lama kian memakan.

#Sebabkamu ialah masa lalu, sebuah cerita tentang rasa, rindu, dan sendu.

#Sebabkamu ialah rindu, yang kepergiannya menyisakan sendu.

#Sebabkamu ialah malam, selimut tenang untuk semua masaku yang kelam.

#Sebabkamu ialah teduh, tempat rinduku senantiasa berlabuh.



Read full post »

Kamis, 14 November 2013

Pilih-Pilih Dikit Bolehkan?

0 komentar
Halo semua :D

Udah lama banget nih gak pernah posting lagi di blog, ada deh kayaknya sekitar 2 bulan lamanya. Tapi setelah melewati berbagai macam aral rintangan yang menghadang selama itu, akhirnya gua bisa berteriak sekarang... "I'M BACK!!!" :D

Oke deh, cukup kayaknya yah untuk nangis harunya deh *eh. Kali ini postingan gua mungkin berasa kayak curhat gitu tapi masih berbau tips gitu. Jadi, Silahkan disimak :)

"Hidup ini mesti berbagi."

Yak, itu salah satu prinsip yang selalu gua anut dalam hidup gua. Selama itu adalah hal yang positif dan dapat dibagi manfaatnya, kenapa enggak? Iya kan? Egois banget hidup lu semua kawan kalau hidup lu cuman lu pake untuk memperkaya diri lu sendiri. Itu bakalan mempersempit wawasan dan kebahagiaan lu sendiri lho. 

Kali ini gua mau mau bagi pengalaman tentang kebiasaan gua memilih buku pada saat belanja di toko buku. Bagi gua pribadi, memilih buku untuk dibeli itu terbagi dari dua sisi penting. Pertama, pilih dari sinopsis dan dari banyaknya review recommended dari orang lain di jejaring sosial. Kedua, jika sudah dapat buku yang nyantol di hati, so pasti harus pilih dari segi fisik (kondisi) buku itu sendiri. So, check this out, sedikit cuap-cuap tentang kebiasaan gua saat membeli buku, moga bermanfaat yah :)


1. Usahakan beli yang masih bersegel.

Sebagai seorang konsumen yang tergolong pemilih, saya mengutamakan kualitas lho. Misalnya, masa sih kita semua mau membeli sesuatu dengan harga yang sama namun dengan kualitas berbeda? Kalau orang lain membayar dengan harga yang sama, kenapa saya gak boleh dapat kualitas yang sama? Atas dasar itulah, saya terbiasa membeli buku yang biasanya masih tersegel. Hmm, tapi untuk beberapa kondisi saya juga beli buku yang sudah gak bersegel sih (kondisi tertentu).


2. Periksa cover.

Bukunya mba Eka (Labirin Rasa) yang jadi contoh :)

Kondisi tersegel sebenarnya bukan jaminan untuk keutuhan fisik buku. Ketelitian pembeli diperlukan disini. Teliti kembali buku dan lihat baik-baik cover buku tersebut. Periksa dengan seksama, jangan sampai ada yang cacat seperti sobek, terkelupas, ataupun terlipat.


3. Periksa sudut-sudut buku.

Setelah mendapati cover buku dalam kondisi baik, jangan lupa periksa semua bagian dari buku tersebut. Periksa semua sisi dan sudut buku juga lho. Bandingkan kondisi hasil jilid buku yang satu dengan yang lainnya sebelum anda benar-benar membawa buku tersebut ke kasir. Usahakan pilihlah buku atau novel yang semua sisinya baik.

Lihat sisi atas :)

Sudut atasnya juga :)

Sudut bawah juga, jangan kelupaan :)

Sisi samping juga perlu diperhatikan. Biasanya kalau jilidnya jelek, bagian sini rusak gitu.

Alhasil buku yang kondisinya bagus, inilah salah satunya :)


4. Kalau buku sudah tidak tersegel lagi, gimana?

Jika buku yang mau dibeli sudah gak lagi tersegel, periksa kembali kondisi fisiknya plus buka semua halamannya, jangan sampai ada yang salah cetak atau robek. Kalian semua gak maukan membayar untuk sesuatu yang anda harap "barang bagus" tetapi ternyata "barang rusak" kan? 


Oke deh, sekian berbagi pengalama gua kali ini. Semoga bermanfaat bagi kawan semua. Mohon maaf juga kalau ada kata yang tak berkenan dalam penggunaan bahasa pada postingan ini karena semata-mata gua juga masih belajar, hehehe :D. Sampai jumpa lagi! :D
Akhir kata, selamat memilih-milih buku kesekaanmu :)

Teliti fisiknya saat membeli buku yah :)

Read full post »

Rabu, 11 September 2013

Karena Senyuman

0 komentar
...
"Entah mengapa pagi ini jadi begitu indah. Mungkin karena senyummu adalah sebuah hal paling bermakna dalam hidupku."

***

"Huuuuufffffft" hembusan nafasku kali ini mungkin terdengar kesal.
Kulihat layar handphoneku sekali lagi.
"Aduuuh, sial amat sih! Ngapain juga gua yang disuruh urus surat sih?!" logat Jakarta keluar dari mulutku jika aku sedang badmood.
Kulempar HP itu ke kasur. Sedikit kubanting sepertinya.
Tak lama kemudian.
"Drrrrrtttttt, drrrrrtttttt" handphoneku bergetar kembali.
Sejenak aku sedikit malas mengambil kembali handphone itu sejak kulempar kesal.
Tapi, lekat-lekat rasa penasaranku menyeruak.
"Jangan-jangan sms dari mama! Dia kan mesti tau kalau uang bulananku udah menipis." sergahku cepat.
Kuambil cepat handphone jadul itu. Kulihat di layarnya. 1 message

Masbroooo, jangan lupa yah. Nanti sebelum ke rumah sakit, singgah dulu di kampus. Ambil surat sama Kak Tifah di admin. Ok? Tolong yah.

Pengirim: Dian

"SIIIAAAALLLLL!!!" teriakku.
"Males banget gua!"
"Kan gua bukan KETUA!!" marahku seorang diri.

Kubuyarkan pandangan ke dinding kamar kost ku yang berukuran 3 kali 3 ini. Kulihat jam dinding di salah satu sisi. Jam setengah delapan rupanya. Kubuka kaos hitam yang kupakai tidur tadi malam. Setengah telanjang, kulangkahkan kakiku ke tempat jemuran. Kuambil handuk. Seraya melilitkan di pinggangku, aku berpikir sejenak.

"Haaaahhhh" desahku.
"Semoga abis mandi mood jadi rada enakan." gumamku dalam hati.

----------

Pukul 7.45 WITA. Cepat juga aku mandi ya. Dengan sedikit tergesa kucari-cari pakaian yang cocok untuk kupakai hari ini. Celana kain, oke. Kemeja lengan panjang, oke. Seeett, seeeettt. tak begitu lama, akupun telah rapi. Kuselempangkan tas di bahu kiriku. Sejenak aku memeriksa.

"Ada yang kelupaan gak yah?" tanyaku sendiri.
Cek per cek...
"Jas, ada. Laporan, ada. Note sama pulpen, ada." rogohku ke dalam tas memastikan.
"Eh, ID Card ada gak yah?"
Kutelusupkan tanganku lebih dalam.
"Lho? Kok gak ada sih?" cemasku muncul.
Tapi...
"Alhamdulillah, ternyata udah nyantol di jas, hahaha."

----------

PERFECT. Sekarang aku terjebak macet. Perasaan pastinya sudah gak karuan. Kalau ada yang namanya telur dadar yang dibuat dengan cara dikocok, mood ku pagi ini mungkin telur dadar yang dibuat dengan cara diaduk, banting, injak, serta dilempar-lempar. Pikiran mumet ruet. Kualihkan pandangan mencari hal-hal yang bisa sejenak melupakanku dengan kekesalan yang gak penting ini. Lihat ke kanan. Lihat ke kiri. Nihil. Hanya rentetan mobil yang menunggu giliran untuk maju dan beberapa pengendara sepeda motor yang sama sialnya seperti diriku. 

Masih bertengger di atas motor mio kesayanganku ini, kutarik keluar handphoneku. Pukul 08.15 WITA. BAGUS! Terlambat ini namanya. Disaat genting gini, berpacu dengan waktu, eh, ternyata keadaan yang gak mendukung. Gini deh jadinya. Aku mencoba berdiri sesekali di atas motor sambil tetap mempertahankan keseimbangannya.

"Aduuuhhh, goblok banget gua! Ada wisuda hari ini. Napa gua make milih jalan ini tadi yak..." sesalku lirih.

Barulah 30 menit kemudian aku bisa keluar dari kemacetan itu. Dengan sedikit berlari, kunaiki tangga menuju lantai tiga, tempat bagian administrasi jurusanku berada. Kulihat dua sosok separuh baya sedang berdiri di depan admin. Kusipitkan mataku seakan berusaha memperbaiki fokus mataku ini. Ternyata itu adalah Pak De' dan Pak Makmur.

"Pak De', stase di bagian mana sekarang?" sapaku pada pria paruh baya yang sebenarnya tentara ini.
"Kardio. Kamu dimana?" sapanya kembali.
"Aku di Interna pak. Sudah ada Kak Atifah?" tanyaku kembali.
"Belum ada tuh, tadi aku udah telpon ke HP nya tapi dia bilang baru berangkat." jawab sosok pria yang kadang saya panggil kakak juga sih.
"Ternyata..." keluhku kemudian. "Pak De' lagi urus surat kan? 
"Iya, semua kelompok sepertinya belum ada suratnya untuk masuk ke bagian stasenya masing-masing." jawabnya sembari mengepulkan asap rokok dari mulutnya.

Syukurlah. Paling tidak aku bersyukur ada Pak De' disini sebagai teman ngobrol. Asyik mengobrol tak terasa moodku rada enakan. Memang Pak De' ini walaupun sudah memiliki anak tiga tapi tetap saja enak dan nyambung kalau diajak ngobrol dengan orang-orang yang lebih muda darinya. Tak terasa, sudah lima belas menit berbincang dengannya. Asyik juga yah ternyata.

Sembari mengobrol, pikiranku tiba-tiba tak lagi fokus. Pandanganku teralih pada sosok yang sedang berjalan menuju ruang praktek. Kucoba memperjelas. Tidak bisa. Akhirnya aku hanya bisa kutatap lekat-lekat meski dari kejauhan. Jilbab biru tua. Sepertinya dibentuk seperti hijab. Aku mungkin tak terlalu tahu sih. Kemeja lengan panjang dengan warna yang senada dibalut dengan rok warna hitam dengan taburan warna kuning yang menyamping. Cara berjalannya menawan. Belum sempat aku menelisik lebih jauh, sosok itu berbelok dan hilang di balik pintu.

Tak cukup lama, sosok itu datang kembali ke arahku. Jarak 5 meter barulah aku agak mendapatkan gambaran. Kemeja lengan panjang dari bahan blue jins, dipadu dengan balutan rok dari bahan linen dengan motif bunga menyamping berwarna kuning. Ada renda seperti benang-bengang tipis yang menjuntai ke bawah yang semakin mempercantik si pemakainya. Kuturunkan pandanganku sedikit, kulihat kaos kaki putih menyelimuti kakinya ditemani dengan sepasang sepatu flat warna abu-abu yang mengkilap. Cocok sekali dengan kakinya.

Kali ini kualihkan pandanganku ke wajahnya kali ini. Detak jantungku tiba-tiba menguat. Aku kenal wajah ini. Entah sejak kapan senyuman itu dibentuk dari bibirnya. Dan entah sejak kapan pula pandangan bola matanya beradu denganku. Ia tersenyum, teduh. Berjalan dengan anggun dibalut pakaian kasual seperti itu tapi tetap tertutup. Sungguh menawan. Kubalas senyumannya dengan rekahan dan tatapan yang sama. Berharap ia pun merasa seperti yang kurasa. Kemudian berlalu.

Sejurus aku tahu ternyata ia keluar dari kelasnya dengan tujuan mengambil kursi di bagian administrasi. Ia menentengnya separuh berlari. Entah tergesa karena apa. Walau ia tak melihat, aku tetap memberinya senyuman. Berharap hatinya dapat menduga aku berlaku demikian. Aku pun berharap jua hatinya tersenyum membalas. Seketika semua kekesalanku pagi itu sirna. Semua lenyap dan terganti dengan kerinduan. Kapan lagi aku dapat berjumpa dengannya...Perempuan pagi pemberi senyum. :)

***
Read full post »

Selasa, 27 Agustus 2013

Aku Ingin Lari...

4 komentar
...
"Terkadang aku merasa kebahagiaan ini milik dunia, bukannya milikku..."

***

Wuuuussshhhh. Terdengar jelas suara dengung di kedua telingaku. Angin itu seperti menyeruak masuk di celah-celah helm yang kupakai ini. Ia seakan memburu, memenuhi pendengaranku. Kupacu sekali lagi motor yang kukendarai. Pada speedometer kulihat jelas, jarumnya menunjuk ke angka 100. Aku tak peduli lagi. Kusalip beberapa mobil di depanku. Satu persatu motorpun aku lambung. Badanku terasa mengawang, menghantam angin yang seakan ingin menerbangkanku. Aku tercekat, menahan napas. Aku hampir terhimpit di antara di antara dua truk besar yang sedang melaju. Aku menoleh ke belakang. Sekilas kulihat sopir truk itu menunjuk-nunjuk ke arahku. Mulutnya terbuka seperti mengumpatku. Aku tak peduli. Kini, pikiranku sangat kacau. Aku ingin berteriak. Aku ingin lari. Ya, aku ingin lari dari kehidupan dan kenyataan ini. Kata-kata yang mereka ucapkan tadi masih sangat jelas terekam di otakku. Bahkan dari bibir manisnya, aku tak menyangka. Aku tahu. Aku sadar. Karena sepertinya kebahagiaan bukanlah milik orang jelek seperti diriku ini. 

***
Read full post »

Sabtu, 10 Agustus 2013

Resensi - Aropy

4 komentar
Judul : Aropy (Berbanggalah Jadi Cewek Limited Edition!)
Penulis : Sayfullan
Penerbit : PING!!! (Diva Press)
Terbit : Juni 2013
Halaman : 184 hlm
Harga : Rp. 30.000
ISBN : 978-602-7933-79-8

SINOPSIS

Aropy, sebut saja dia cewek absurb ogah latah tren mode. Dia pun dapat julukan "Makhluk Aneh dari Planet Mars" dari temen-temennya yang super rese'. Tapi yaa, biarlah anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Semua itu nggak membuat dia patah semangat jadi seorang penyiar radio plus desainer keren yang sekolah di Paris.

Kalau soal cinta, nggak jauh-jauh dari kata ABSURD. Ya gitu deh, Niko yang katanya playboy, di hadapan Aropy jadi bukan siapa-siapa, bahkan dia dikerjain abis-abisan ampe pingin tobat jadi playboy. Nah, diapain aja coba ama si Aropy dan apa iya mereka jadian tapi LDR-an?

*****

Berbanggalah jadi cewek limited edition!


Remaja adalah masa yang paling berwarna dalam hidup. Suka, duka, benci, gokil, persahabatan, selisih dikit terus marah-marahan, sampai belajar bareng senantiasa memberikan kesan tersendiri pada masa transisi tersebut. Kehidupan remaja yang identik dengan kehidupan masa sekolah memberikan sebuah "cita rasa" khas dalam guratan kisah hidup masing-masing individu.

Tak lupa, cinta juga menghiasi masa-masa yang tak pernah terlupa ini.  Malu-malu tapi mau, dari temen berubah jadi pacar, yang terus berlanjut jadi sayang-sayangan, ya begitulah indahnya saat kata cinta  untuk pertama kali menyapa anak manusia yang mulai menyukai lawan jenisnya. Tapi apakah cinta masa remaja punya keunikan tersendiri? Mungkin keunikan dari orang yang berkisah cinta di sekolah? Kira-kira, seperti itulah tema kisah yang ingin diangkat Sayfullan dalam novelnya kali ini.

Novel ini bercerita tentang kisah Aropy, seorang remaja penyiar radio sekolah yang gemar make over baju semaunya dengan selera yang "beda". Buktinya saja, semua pakaian pembantu mamanya jadi sasaran bakat gokilnya itu. Ia juga termasuk remaja yang punya percaya diri tinggi meskipun terkadang terlalu kepedean dan sok artis sih. Bagaimana tidak, bagaimana bisa seorang remaja perempuan dengan badan semok, jidat selebar lapangan golf dan betis sebesar kaki gajah berjalan bak seorang model di atas karpet merah kalau bukan karena dia punya rasa percaya diri setinggi langit.

Kisah Aropy benar-benar dimulai saat Niko, cowok playboy di sekolahnya, mulai mengejar dirinya. Saat itu Niko sedang gundah dengan perasaannya sendiri terhadap Kayla, pacar kakaknya, Rano. Ia merasa hidupnya tidak berwarna dan ia mulai bosan dengan rutinitasnya. Entah kesambet setan dari mana, ia menyetujui saran dari Pepe, sahabat karibnya, untuk mengejar Aropy.

Akan tetapi, pengejaran terhadap Aropy tidak semudah yang Niko kira. Ia harus berhadapan dengan tantangan dari cewek itu yang tak lain ternyata telah bekerja sama dengan salah satu mantan Niko, Lea, untuk membuat cowok ganteng itu jera. Namun, apa yang terjadi? Atmosfer perasaan di antara mereka berubah. Apakah Niko jadi kecantol beneran sama Aropy? Konflik dan cerita apa saja yang mewarnai cerita mereka? Gimana sih cerita lengkap cewek semok dengan cowok super ganteng itu? Cek langsung di novel Aropy yah.

Sebagai pembaca, Well, I definitely had so much fun reading this book. Seperti yang saya tuliskan sebelumnya, ceritanya sederhana, namun tampil secara menarik. Gaya bahasa yang didukung dengan pemakaian diksi yang terkesan "gaul" membuat novel ini tidak terkesan boring. Hal ini saya rasakan, saya menghabiskan membaca novel ini kurang dari 3 jam. Penggambaran cerita yang sangat pas, kesan dan setting (seperti di kantin sekolah, ruang lab bahasa atau radio sekolah) yang banyak ditumbulkan penulis membuat pembaca seakan bernostalgia dengan kehidupan remajanya. Nilai plus lainnya, penulis dapat dengan mudahnya merangsang saraf-saraf tawa pembaca di beberapa bagian cerita dengan adanya percakapan yang nuansa humornya overdosis pada tokoh-tokoh dalam cerita.

Yang membuat novel ini asyik dan beda dengan novel-novel remaja lainnya adalah pemunculan tokoh utama yang unik. Ketika banyak novel menampilkan tokoh-tokoh utama dalam ceritanya dengan deskripsi yang memiliki tubuh tinggi, cantik, manis, dan yang serba indah, novel ini justru tampil sebaliknya. Anti-mainstream mungkin sepenggal kata yang tepat. Hadirnya tokoh utama, Aropy, yang dideskripsikan sebagai cewek gemuk, memiliki jidat jenong, betis gede, tapi punya rasa percaya diri tinggi, membuat pembaca menilai bahwa novel dengan tebal 184 halaman ini punya salah satu ciri inovasi tersendiri. Penulis seakan sadar dan ingin menyentuh fenomena dan dinamika unik dalam kehidupan remaja masa kini.

Cover yang eye catching juga mempercantik tampilan novel ini. Sebagai pembaca, saya sempat menduga bahwa novel ini bersetting di Paris, karena ada gambar Menara Eiffel terpampang cantik di depan. Eh, ternyata dugaan saya salah, hehe. Alur cerita yang digunakan dalam novel ini adalah alur maju. Penulis menyajikan cerita dengan apik sehingga alur cerita terasa mengalir. Penggambaran tokoh terkesan simple tapi tetap memukau. Belum lagi ditambah dengan penghadiran konflik yang tak terduga-duga, seperti saat Kayla memperkenalkan Aropy di depan orang tua Niko yang membuat cowok ganteng itu malu dan merah padam, membuat novel ini menjadi semakin menarik. Banyak kutipan novel ini yang menarik dan sarat akan makna, contohnya nih:

[...] PD aja dengan loe yang apa adanya, dengan style dan ciri khas loe. Pasti kecantikan dari dalam diri bakal terpancar. Yang penting percaya diri dan nyaman! (hlm. 18).
[...] Kalau mau jadi cewek limited edition. loe wajib bisa setia. Itu yang paling penting (hlm. 19).
Bukankah cinta itu membebaskan? Tidak mengikat? Asal Kayla bahagia, loe pasti juga akan bahagia! (hlm. 139)

Ada sedikit hal yang membuat saya sebagai pembaca menjadi bertanya-tanya. Saya merasa bingung dengan perubahan perasaan Aropy kepada Niko saat Aropy berusaha mengerjainya dengan menyuruh Niko naik ke atas loteng. Menurut saya Aropy terkesan "tiba-tiba" berubah pikiran menjadi baik. Padahal di awal jelas Aropy ingin balas dendam kepada Niko. Saya bingung, mengapa ia berubah sedemikian drastis menjadi baik. Penulis seharusnya lebih mengeksplore konflik internal diri Aropy saat itu sehingga ceritanya akan lebih berkesan.

Sebagai seorang pembaca saya merasa sangat kecewa setelah membaca novel ini untuk kali keduanya. Masih banyak typo saya temukan dalam novel ini. Sebagai contoh; pada halaman 6 baris keempat dari atas, kata "menanhan" seharusnya ditulis "menahan". Pada halaman 25 baris kesebelas dari atas, kata "diaminkan" seharusnya ditulis "dimainkan". Pada halaman 26 baris keenam dari bawah, kata "bias" seharusnya ditulis "bisa". Pada halaman 27 baris keempat dari bawah, kata "piker" seharusnya ditulis "pikir".

Ada juga penulisan yang berdempet seperti pada halaman 16 baris kelima dari bawah (...cewek yang perlu dihindaripara cowok). Saya juga sempat bertanya-tanya mengapa penulis menulis kata "absurd" tercetak miring pada halaman 65 sedangkan pada halaman 10 kata tersebut tidak tercetak miring. Jujur, ini memang sepele tapi sebagai pembaca, hal ini mengganggu. Penulis seharusnya teliti dan konsisten dalam penulisan ejaan.

Walaupun ini adalah novel teenlit tapi bukan berarti novel ini hanya bercerita tentang cinta saja. Banyak pesan yang sebenarnya ingin disampaikan penulis kepada pembaca. Lewat karakter Aropy penulis seakan menyadarkan kita bahwa kita seharusnya bangga dengan diri kita sendiri. Sudah sepatutnya kita bersyukur terhadap tubuh yang kita miliki. Penulis juga mengajarkan bahwa kita sudah sepatutnya percaya diri akan diri kita sendiri karena manusia memang dilahirkan dengan segala kekurangan, kelebihan dan keunikkannya.

Lewat karakter Aropy penulis juga membuat kita sadar bahwa kita tidak perlu menjadi siapa-siapa untuk membuktikan diri kita. Kita cukup percaya dengan apa yang ada pada diri kita dan nyamanlah dengan keadaan itu. Keunikan masing-masing individu itu sebenarnya sangat artistik. Itulah anugerah dari YME kepada kita makhluk-Nya, bukti bahwa sebenarnya tiap orang itu "indah" dengan segala apa yang dimilikinya.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangan dalam novel ini, novel ini sangat patut dibaca terutama untuk para remaja. Novel ini juga cocok sebagai teman yang sangat cocok untuk dibaca oleh para dewasa muda yang mungkin ingin bernostalgia dengan kehidupan sekolahnya dulu. Kesan ringan yang ditimbulkan penulisnya melalui tokoh dalam cerita akan membuat anda melihat kembali apa sebenarnya sisi unik dari diri anda.
Akhir kata, 3,5 of 5 star for Aropy by Sayfullan.
Read full post »

Minggu, 04 Agustus 2013

#coretanhidup : Tips Biar Gak Kalap Belanja Buku

8 komentar
Haloha, selamat pagi semesta :)

Kemarin saya sudah posting tulisan yang sedikit menyinggung tentang fenomena "kalap belanja buku" (read : penyakit baru saya), hahaha. Kali ini saya mau share beberapa tips atau ulasan yang menurut saya kece banget buat teman sekalian yang kebetulan mengalami fenomena ini. Berikut beberapa tips dan ulasan sebelum berbelanja buku, biar gak kalap...

1. Sadar! Luruskan Niat

Niat itu penting lho :)
Hahaha, kedengaran aneh banget ya? Ya, tapi itu memang benar. Perlu banyak kelapangan hati untuk menerima kondisi kita yang sebenarnya (eehh, ini kok jadi gini yah?). Jika ingin mengubah sesuatu yang ada dalam diri kita, entah itu kebiasaan, tingkah laku, ataupun pola hidup, pertama-tama kita harus sadar dulu dong, hehehe. Kita gak bakalan benar-benar bisa berubah, kalau kita sendiri masih ragu apakah kita benar ingin mengubah hal yang ada dalam diri kita atau tidak. Point pentingnya, kamu harus tahu kalau kamu memang benar ingin berubah.

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah sadar diri. Saya punya cara unik untuk tips yang satu ini. Hal yang perlu kamu lakukan hanyalah tatap wajahmu di cermin kemudian buka dompet kamu perlahan, lihatlah perlahan ke dalam dompetmu itu. Setelah melihat dengan seksama, menerawang ke segala sisi dompetmu, lihat kembali ke cermin, perhatikan ekspresimu :D. Kalau ceria, berarti aman...kalau cemberut, berarti warning, hati-hati belanjanya yah :D...dan kalau meringis #eh coba periksa jempol kaki kamu, siapa tau kejepit meja rias, hahaha.

Kadang kala kita sering lupa ketika berbelanja buku, terutama saya. Dengan sadar terhadap kondisi keuangan (read: dompet) kita, maka kita akan lebih awas dalam berbelanja buku.


2. Tentukan Budget

Ini contoh aja ya :D
Penyesuaian keinginan berbelanja buku dengan kemampuan keuangan yang kita miliki itu penting. Jika memang benar teman-teman, termasuk saya, punya kebiasaan yang rutin untuk berbelanja buku setiap bulan, maka menyediakan anggaran untuk kebiasaan itu menjadi hal yang sudah seharusnya dilakukan. Hal ini mungkin lebih ke arah manajemen keuangan kita sih, tapi ini ada kaitannya dengan fenomena "kalap buku".

Dengan membuat sebuah anggaran belanja besarnya tiap bulan, kita akan bisa melihat secara jelas berapa anggaran tiap kebutuhan kita. Konsistensi kita dilihat ketika kita berpegang teguh dengan apa yang telah kita tulis dalam anggaran sebelumnya. Kaitannya dengan fenomena "kalap buku" mana? Kita bisa ambil contoh seperti ini, katakan saja kita menyisihkan sebesar 150 ribu rupiah untuk membeli buku baru bulan Agustus. Mau tak mau kita hanya punya uang sebesar itu untuk beli buku baru. Jika kita menggunakan lebih, alhasil akan berimbas pada keperluan yang lain. Dengan menentukan budget belanja buku baru kita jadi lebih mudah menyesuaikan dengan mana buku yang bisa dibeli sesuai budget tersebut dan jumlah buku yang dapat dibeli.


3. List Itu Penting, Prioritas :)

Sebelum berbelanja buku, ada baiknya kita duduk dulu sebentar memikirkan buku apa yang ingin kita beli. Jika ingatan tak mampu menampung banyaknya judul buku yang ingin dibeli, ambil secarik kertas kemudian buatlah daftar / list buku-buku tersebut. Hal ini memberikan kemudahan bagi kita pastinya agar lebih mengefisiensikan waktu jalan ke toko buku, menentukan besar pengeluaran, dan menyesuaikan dengan keuangan kita. Hal ini pula juga menghindarkan kita dalam berpikir-pikir dalam memilih mana buku yang ingin dibeli, tentunya untuk menghindari "godaan" dari buku-buku baru yang lainnya itu.

Dengan adanya list atau daftar buku yang ingin dibeli, ini menunjukkan prioritas mana yang lebih dibutuhkan dan diinginkan. Secara tidak langsung kita dengan tidak sadar mensugesti diri kita agar tidak mengikuti kebiasaan "lapar mata" dalam melihat novel-novel baru.

Jika hal ini teratur dilakukan, pastinya penyakit kalap saat belanja buku dapat diminimalisir. Jangka panjang, dengan membuat sebuah list buku (sebelum belanja) atau kebutuhan lainnya juga mengajarkan kita untuk hidup hemat dan teratur, sadar akan kebutuhan.

Sebelum belanja buku, buat list dulu yuk :)

Yah, membuat list sebelum berbelanja buku adalah salah satu cara yang tepat dalam mengontrol kalapnya dalam belanja :D.


4. Tahan Diri Dong! Jangan tergoda!


Jangan pada laper mata kalau liat yang beginian yah :D
Sumber gambar disini

Terkadang ketika kita berusaha untuk melakukan sesuatu yang sangat penting tak disangka banyak godaan dan cobaan datang. Sama seperti kasus ini. Saat kita mau konsisten gak pengen kalap pas belanja buku terkadang kita khilaf. Melihat banyaknya buku baru banyak dipampang di toko buku, siapa sih bookaholic yg tahan.

Oleh karena itu kita harus kembali melihat ke awal. Kita harus konsisten dengan diri kita, harus kontrol diri terhadap "godaan". Jika tidak, semua yang akan direncanakan dan dilakukan akan sia-sia. Harus ada kesadaran dan kemampuan serta kemauan untuk menekan penyakit "lapar mata", hehehe.


5. Bawa Uang Secukupnya

Hal ini juga bisa menjadi salah satu trik yang unik. Jika kita membawa uang yang cukup atau dengan kata lain tidak terlalu banyak maka kemungkinan kita untuk membelanjakan buku yang sebenarnya tidak terlalu kita butuhkan saat itu akan menjadi lebih kecil.


6. Datang Saat Diskon

Datang pada saat diskon adalah surga bagi para pecinta belanja buku. Ini bisa jadi sebuah trik untuk mengakali kebiasaan kita yang "kalap saat belanja buku" agar keuangan kita gak kebobolan saat belanja. Disamping hemat, dengan adanya diskon bisa nambah banyak buku yang bisa dibeli kan? Bisa dibayangkan gak kalau misalkan kita sudah menentukan budget belanja buku kita bulan ini sebesar 200 ribu rupiah untuk 4 buku. Tapi kalau kita datang pas diskon kan bisa dapat 5-6 buku kan? Asyik kan? Hehehe.

Special Price. Sumber gambar disini

Diskon. Sumber gambar disini


Itu sedikit tips dari saya. Semoga bermanfaat yah.


#coretanhidup
Read full post »
 

Copyright © Garis Satu Kata Design by Free CSS Templates | Blogger Theme by BTDesigner | Powered by Blogger