Rabu, 11 September 2013

Karena Senyuman

0 komentar
...
"Entah mengapa pagi ini jadi begitu indah. Mungkin karena senyummu adalah sebuah hal paling bermakna dalam hidupku."

***

"Huuuuufffffft" hembusan nafasku kali ini mungkin terdengar kesal.
Kulihat layar handphoneku sekali lagi.
"Aduuuh, sial amat sih! Ngapain juga gua yang disuruh urus surat sih?!" logat Jakarta keluar dari mulutku jika aku sedang badmood.
Kulempar HP itu ke kasur. Sedikit kubanting sepertinya.
Tak lama kemudian.
"Drrrrrtttttt, drrrrrtttttt" handphoneku bergetar kembali.
Sejenak aku sedikit malas mengambil kembali handphone itu sejak kulempar kesal.
Tapi, lekat-lekat rasa penasaranku menyeruak.
"Jangan-jangan sms dari mama! Dia kan mesti tau kalau uang bulananku udah menipis." sergahku cepat.
Kuambil cepat handphone jadul itu. Kulihat di layarnya. 1 message

Masbroooo, jangan lupa yah. Nanti sebelum ke rumah sakit, singgah dulu di kampus. Ambil surat sama Kak Tifah di admin. Ok? Tolong yah.

Pengirim: Dian

"SIIIAAAALLLLL!!!" teriakku.
"Males banget gua!"
"Kan gua bukan KETUA!!" marahku seorang diri.

Kubuyarkan pandangan ke dinding kamar kost ku yang berukuran 3 kali 3 ini. Kulihat jam dinding di salah satu sisi. Jam setengah delapan rupanya. Kubuka kaos hitam yang kupakai tidur tadi malam. Setengah telanjang, kulangkahkan kakiku ke tempat jemuran. Kuambil handuk. Seraya melilitkan di pinggangku, aku berpikir sejenak.

"Haaaahhhh" desahku.
"Semoga abis mandi mood jadi rada enakan." gumamku dalam hati.

----------

Pukul 7.45 WITA. Cepat juga aku mandi ya. Dengan sedikit tergesa kucari-cari pakaian yang cocok untuk kupakai hari ini. Celana kain, oke. Kemeja lengan panjang, oke. Seeett, seeeettt. tak begitu lama, akupun telah rapi. Kuselempangkan tas di bahu kiriku. Sejenak aku memeriksa.

"Ada yang kelupaan gak yah?" tanyaku sendiri.
Cek per cek...
"Jas, ada. Laporan, ada. Note sama pulpen, ada." rogohku ke dalam tas memastikan.
"Eh, ID Card ada gak yah?"
Kutelusupkan tanganku lebih dalam.
"Lho? Kok gak ada sih?" cemasku muncul.
Tapi...
"Alhamdulillah, ternyata udah nyantol di jas, hahaha."

----------

PERFECT. Sekarang aku terjebak macet. Perasaan pastinya sudah gak karuan. Kalau ada yang namanya telur dadar yang dibuat dengan cara dikocok, mood ku pagi ini mungkin telur dadar yang dibuat dengan cara diaduk, banting, injak, serta dilempar-lempar. Pikiran mumet ruet. Kualihkan pandangan mencari hal-hal yang bisa sejenak melupakanku dengan kekesalan yang gak penting ini. Lihat ke kanan. Lihat ke kiri. Nihil. Hanya rentetan mobil yang menunggu giliran untuk maju dan beberapa pengendara sepeda motor yang sama sialnya seperti diriku. 

Masih bertengger di atas motor mio kesayanganku ini, kutarik keluar handphoneku. Pukul 08.15 WITA. BAGUS! Terlambat ini namanya. Disaat genting gini, berpacu dengan waktu, eh, ternyata keadaan yang gak mendukung. Gini deh jadinya. Aku mencoba berdiri sesekali di atas motor sambil tetap mempertahankan keseimbangannya.

"Aduuuhhh, goblok banget gua! Ada wisuda hari ini. Napa gua make milih jalan ini tadi yak..." sesalku lirih.

Barulah 30 menit kemudian aku bisa keluar dari kemacetan itu. Dengan sedikit berlari, kunaiki tangga menuju lantai tiga, tempat bagian administrasi jurusanku berada. Kulihat dua sosok separuh baya sedang berdiri di depan admin. Kusipitkan mataku seakan berusaha memperbaiki fokus mataku ini. Ternyata itu adalah Pak De' dan Pak Makmur.

"Pak De', stase di bagian mana sekarang?" sapaku pada pria paruh baya yang sebenarnya tentara ini.
"Kardio. Kamu dimana?" sapanya kembali.
"Aku di Interna pak. Sudah ada Kak Atifah?" tanyaku kembali.
"Belum ada tuh, tadi aku udah telpon ke HP nya tapi dia bilang baru berangkat." jawab sosok pria yang kadang saya panggil kakak juga sih.
"Ternyata..." keluhku kemudian. "Pak De' lagi urus surat kan? 
"Iya, semua kelompok sepertinya belum ada suratnya untuk masuk ke bagian stasenya masing-masing." jawabnya sembari mengepulkan asap rokok dari mulutnya.

Syukurlah. Paling tidak aku bersyukur ada Pak De' disini sebagai teman ngobrol. Asyik mengobrol tak terasa moodku rada enakan. Memang Pak De' ini walaupun sudah memiliki anak tiga tapi tetap saja enak dan nyambung kalau diajak ngobrol dengan orang-orang yang lebih muda darinya. Tak terasa, sudah lima belas menit berbincang dengannya. Asyik juga yah ternyata.

Sembari mengobrol, pikiranku tiba-tiba tak lagi fokus. Pandanganku teralih pada sosok yang sedang berjalan menuju ruang praktek. Kucoba memperjelas. Tidak bisa. Akhirnya aku hanya bisa kutatap lekat-lekat meski dari kejauhan. Jilbab biru tua. Sepertinya dibentuk seperti hijab. Aku mungkin tak terlalu tahu sih. Kemeja lengan panjang dengan warna yang senada dibalut dengan rok warna hitam dengan taburan warna kuning yang menyamping. Cara berjalannya menawan. Belum sempat aku menelisik lebih jauh, sosok itu berbelok dan hilang di balik pintu.

Tak cukup lama, sosok itu datang kembali ke arahku. Jarak 5 meter barulah aku agak mendapatkan gambaran. Kemeja lengan panjang dari bahan blue jins, dipadu dengan balutan rok dari bahan linen dengan motif bunga menyamping berwarna kuning. Ada renda seperti benang-bengang tipis yang menjuntai ke bawah yang semakin mempercantik si pemakainya. Kuturunkan pandanganku sedikit, kulihat kaos kaki putih menyelimuti kakinya ditemani dengan sepasang sepatu flat warna abu-abu yang mengkilap. Cocok sekali dengan kakinya.

Kali ini kualihkan pandanganku ke wajahnya kali ini. Detak jantungku tiba-tiba menguat. Aku kenal wajah ini. Entah sejak kapan senyuman itu dibentuk dari bibirnya. Dan entah sejak kapan pula pandangan bola matanya beradu denganku. Ia tersenyum, teduh. Berjalan dengan anggun dibalut pakaian kasual seperti itu tapi tetap tertutup. Sungguh menawan. Kubalas senyumannya dengan rekahan dan tatapan yang sama. Berharap ia pun merasa seperti yang kurasa. Kemudian berlalu.

Sejurus aku tahu ternyata ia keluar dari kelasnya dengan tujuan mengambil kursi di bagian administrasi. Ia menentengnya separuh berlari. Entah tergesa karena apa. Walau ia tak melihat, aku tetap memberinya senyuman. Berharap hatinya dapat menduga aku berlaku demikian. Aku pun berharap jua hatinya tersenyum membalas. Seketika semua kekesalanku pagi itu sirna. Semua lenyap dan terganti dengan kerinduan. Kapan lagi aku dapat berjumpa dengannya...Perempuan pagi pemberi senyum. :)

***
Read full post »

Selasa, 27 Agustus 2013

Aku Ingin Lari...

4 komentar
...
"Terkadang aku merasa kebahagiaan ini milik dunia, bukannya milikku..."

***

Wuuuussshhhh. Terdengar jelas suara dengung di kedua telingaku. Angin itu seperti menyeruak masuk di celah-celah helm yang kupakai ini. Ia seakan memburu, memenuhi pendengaranku. Kupacu sekali lagi motor yang kukendarai. Pada speedometer kulihat jelas, jarumnya menunjuk ke angka 100. Aku tak peduli lagi. Kusalip beberapa mobil di depanku. Satu persatu motorpun aku lambung. Badanku terasa mengawang, menghantam angin yang seakan ingin menerbangkanku. Aku tercekat, menahan napas. Aku hampir terhimpit di antara di antara dua truk besar yang sedang melaju. Aku menoleh ke belakang. Sekilas kulihat sopir truk itu menunjuk-nunjuk ke arahku. Mulutnya terbuka seperti mengumpatku. Aku tak peduli. Kini, pikiranku sangat kacau. Aku ingin berteriak. Aku ingin lari. Ya, aku ingin lari dari kehidupan dan kenyataan ini. Kata-kata yang mereka ucapkan tadi masih sangat jelas terekam di otakku. Bahkan dari bibir manisnya, aku tak menyangka. Aku tahu. Aku sadar. Karena sepertinya kebahagiaan bukanlah milik orang jelek seperti diriku ini. 

***
Read full post »

Sabtu, 10 Agustus 2013

Resensi - Aropy

4 komentar
Judul : Aropy (Berbanggalah Jadi Cewek Limited Edition!)
Penulis : Sayfullan
Penerbit : PING!!! (Diva Press)
Terbit : Juni 2013
Halaman : 184 hlm
Harga : Rp. 30.000
ISBN : 978-602-7933-79-8

SINOPSIS

Aropy, sebut saja dia cewek absurb ogah latah tren mode. Dia pun dapat julukan "Makhluk Aneh dari Planet Mars" dari temen-temennya yang super rese'. Tapi yaa, biarlah anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Semua itu nggak membuat dia patah semangat jadi seorang penyiar radio plus desainer keren yang sekolah di Paris.

Kalau soal cinta, nggak jauh-jauh dari kata ABSURD. Ya gitu deh, Niko yang katanya playboy, di hadapan Aropy jadi bukan siapa-siapa, bahkan dia dikerjain abis-abisan ampe pingin tobat jadi playboy. Nah, diapain aja coba ama si Aropy dan apa iya mereka jadian tapi LDR-an?

*****

Berbanggalah jadi cewek limited edition!


Remaja adalah masa yang paling berwarna dalam hidup. Suka, duka, benci, gokil, persahabatan, selisih dikit terus marah-marahan, sampai belajar bareng senantiasa memberikan kesan tersendiri pada masa transisi tersebut. Kehidupan remaja yang identik dengan kehidupan masa sekolah memberikan sebuah "cita rasa" khas dalam guratan kisah hidup masing-masing individu.

Tak lupa, cinta juga menghiasi masa-masa yang tak pernah terlupa ini.  Malu-malu tapi mau, dari temen berubah jadi pacar, yang terus berlanjut jadi sayang-sayangan, ya begitulah indahnya saat kata cinta  untuk pertama kali menyapa anak manusia yang mulai menyukai lawan jenisnya. Tapi apakah cinta masa remaja punya keunikan tersendiri? Mungkin keunikan dari orang yang berkisah cinta di sekolah? Kira-kira, seperti itulah tema kisah yang ingin diangkat Sayfullan dalam novelnya kali ini.

Novel ini bercerita tentang kisah Aropy, seorang remaja penyiar radio sekolah yang gemar make over baju semaunya dengan selera yang "beda". Buktinya saja, semua pakaian pembantu mamanya jadi sasaran bakat gokilnya itu. Ia juga termasuk remaja yang punya percaya diri tinggi meskipun terkadang terlalu kepedean dan sok artis sih. Bagaimana tidak, bagaimana bisa seorang remaja perempuan dengan badan semok, jidat selebar lapangan golf dan betis sebesar kaki gajah berjalan bak seorang model di atas karpet merah kalau bukan karena dia punya rasa percaya diri setinggi langit.

Kisah Aropy benar-benar dimulai saat Niko, cowok playboy di sekolahnya, mulai mengejar dirinya. Saat itu Niko sedang gundah dengan perasaannya sendiri terhadap Kayla, pacar kakaknya, Rano. Ia merasa hidupnya tidak berwarna dan ia mulai bosan dengan rutinitasnya. Entah kesambet setan dari mana, ia menyetujui saran dari Pepe, sahabat karibnya, untuk mengejar Aropy.

Akan tetapi, pengejaran terhadap Aropy tidak semudah yang Niko kira. Ia harus berhadapan dengan tantangan dari cewek itu yang tak lain ternyata telah bekerja sama dengan salah satu mantan Niko, Lea, untuk membuat cowok ganteng itu jera. Namun, apa yang terjadi? Atmosfer perasaan di antara mereka berubah. Apakah Niko jadi kecantol beneran sama Aropy? Konflik dan cerita apa saja yang mewarnai cerita mereka? Gimana sih cerita lengkap cewek semok dengan cowok super ganteng itu? Cek langsung di novel Aropy yah.

Sebagai pembaca, Well, I definitely had so much fun reading this book. Seperti yang saya tuliskan sebelumnya, ceritanya sederhana, namun tampil secara menarik. Gaya bahasa yang didukung dengan pemakaian diksi yang terkesan "gaul" membuat novel ini tidak terkesan boring. Hal ini saya rasakan, saya menghabiskan membaca novel ini kurang dari 3 jam. Penggambaran cerita yang sangat pas, kesan dan setting (seperti di kantin sekolah, ruang lab bahasa atau radio sekolah) yang banyak ditumbulkan penulis membuat pembaca seakan bernostalgia dengan kehidupan remajanya. Nilai plus lainnya, penulis dapat dengan mudahnya merangsang saraf-saraf tawa pembaca di beberapa bagian cerita dengan adanya percakapan yang nuansa humornya overdosis pada tokoh-tokoh dalam cerita.

Yang membuat novel ini asyik dan beda dengan novel-novel remaja lainnya adalah pemunculan tokoh utama yang unik. Ketika banyak novel menampilkan tokoh-tokoh utama dalam ceritanya dengan deskripsi yang memiliki tubuh tinggi, cantik, manis, dan yang serba indah, novel ini justru tampil sebaliknya. Anti-mainstream mungkin sepenggal kata yang tepat. Hadirnya tokoh utama, Aropy, yang dideskripsikan sebagai cewek gemuk, memiliki jidat jenong, betis gede, tapi punya rasa percaya diri tinggi, membuat pembaca menilai bahwa novel dengan tebal 184 halaman ini punya salah satu ciri inovasi tersendiri. Penulis seakan sadar dan ingin menyentuh fenomena dan dinamika unik dalam kehidupan remaja masa kini.

Cover yang eye catching juga mempercantik tampilan novel ini. Sebagai pembaca, saya sempat menduga bahwa novel ini bersetting di Paris, karena ada gambar Menara Eiffel terpampang cantik di depan. Eh, ternyata dugaan saya salah, hehe. Alur cerita yang digunakan dalam novel ini adalah alur maju. Penulis menyajikan cerita dengan apik sehingga alur cerita terasa mengalir. Penggambaran tokoh terkesan simple tapi tetap memukau. Belum lagi ditambah dengan penghadiran konflik yang tak terduga-duga, seperti saat Kayla memperkenalkan Aropy di depan orang tua Niko yang membuat cowok ganteng itu malu dan merah padam, membuat novel ini menjadi semakin menarik. Banyak kutipan novel ini yang menarik dan sarat akan makna, contohnya nih:

[...] PD aja dengan loe yang apa adanya, dengan style dan ciri khas loe. Pasti kecantikan dari dalam diri bakal terpancar. Yang penting percaya diri dan nyaman! (hlm. 18).
[...] Kalau mau jadi cewek limited edition. loe wajib bisa setia. Itu yang paling penting (hlm. 19).
Bukankah cinta itu membebaskan? Tidak mengikat? Asal Kayla bahagia, loe pasti juga akan bahagia! (hlm. 139)

Ada sedikit hal yang membuat saya sebagai pembaca menjadi bertanya-tanya. Saya merasa bingung dengan perubahan perasaan Aropy kepada Niko saat Aropy berusaha mengerjainya dengan menyuruh Niko naik ke atas loteng. Menurut saya Aropy terkesan "tiba-tiba" berubah pikiran menjadi baik. Padahal di awal jelas Aropy ingin balas dendam kepada Niko. Saya bingung, mengapa ia berubah sedemikian drastis menjadi baik. Penulis seharusnya lebih mengeksplore konflik internal diri Aropy saat itu sehingga ceritanya akan lebih berkesan.

Sebagai seorang pembaca saya merasa sangat kecewa setelah membaca novel ini untuk kali keduanya. Masih banyak typo saya temukan dalam novel ini. Sebagai contoh; pada halaman 6 baris keempat dari atas, kata "menanhan" seharusnya ditulis "menahan". Pada halaman 25 baris kesebelas dari atas, kata "diaminkan" seharusnya ditulis "dimainkan". Pada halaman 26 baris keenam dari bawah, kata "bias" seharusnya ditulis "bisa". Pada halaman 27 baris keempat dari bawah, kata "piker" seharusnya ditulis "pikir".

Ada juga penulisan yang berdempet seperti pada halaman 16 baris kelima dari bawah (...cewek yang perlu dihindaripara cowok). Saya juga sempat bertanya-tanya mengapa penulis menulis kata "absurd" tercetak miring pada halaman 65 sedangkan pada halaman 10 kata tersebut tidak tercetak miring. Jujur, ini memang sepele tapi sebagai pembaca, hal ini mengganggu. Penulis seharusnya teliti dan konsisten dalam penulisan ejaan.

Walaupun ini adalah novel teenlit tapi bukan berarti novel ini hanya bercerita tentang cinta saja. Banyak pesan yang sebenarnya ingin disampaikan penulis kepada pembaca. Lewat karakter Aropy penulis seakan menyadarkan kita bahwa kita seharusnya bangga dengan diri kita sendiri. Sudah sepatutnya kita bersyukur terhadap tubuh yang kita miliki. Penulis juga mengajarkan bahwa kita sudah sepatutnya percaya diri akan diri kita sendiri karena manusia memang dilahirkan dengan segala kekurangan, kelebihan dan keunikkannya.

Lewat karakter Aropy penulis juga membuat kita sadar bahwa kita tidak perlu menjadi siapa-siapa untuk membuktikan diri kita. Kita cukup percaya dengan apa yang ada pada diri kita dan nyamanlah dengan keadaan itu. Keunikan masing-masing individu itu sebenarnya sangat artistik. Itulah anugerah dari YME kepada kita makhluk-Nya, bukti bahwa sebenarnya tiap orang itu "indah" dengan segala apa yang dimilikinya.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangan dalam novel ini, novel ini sangat patut dibaca terutama untuk para remaja. Novel ini juga cocok sebagai teman yang sangat cocok untuk dibaca oleh para dewasa muda yang mungkin ingin bernostalgia dengan kehidupan sekolahnya dulu. Kesan ringan yang ditimbulkan penulisnya melalui tokoh dalam cerita akan membuat anda melihat kembali apa sebenarnya sisi unik dari diri anda.
Akhir kata, 3,5 of 5 star for Aropy by Sayfullan.
Read full post »

Minggu, 04 Agustus 2013

#coretanhidup : Tips Biar Gak Kalap Belanja Buku

8 komentar
Haloha, selamat pagi semesta :)

Kemarin saya sudah posting tulisan yang sedikit menyinggung tentang fenomena "kalap belanja buku" (read : penyakit baru saya), hahaha. Kali ini saya mau share beberapa tips atau ulasan yang menurut saya kece banget buat teman sekalian yang kebetulan mengalami fenomena ini. Berikut beberapa tips dan ulasan sebelum berbelanja buku, biar gak kalap...

1. Sadar! Luruskan Niat

Niat itu penting lho :)
Hahaha, kedengaran aneh banget ya? Ya, tapi itu memang benar. Perlu banyak kelapangan hati untuk menerima kondisi kita yang sebenarnya (eehh, ini kok jadi gini yah?). Jika ingin mengubah sesuatu yang ada dalam diri kita, entah itu kebiasaan, tingkah laku, ataupun pola hidup, pertama-tama kita harus sadar dulu dong, hehehe. Kita gak bakalan benar-benar bisa berubah, kalau kita sendiri masih ragu apakah kita benar ingin mengubah hal yang ada dalam diri kita atau tidak. Point pentingnya, kamu harus tahu kalau kamu memang benar ingin berubah.

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah sadar diri. Saya punya cara unik untuk tips yang satu ini. Hal yang perlu kamu lakukan hanyalah tatap wajahmu di cermin kemudian buka dompet kamu perlahan, lihatlah perlahan ke dalam dompetmu itu. Setelah melihat dengan seksama, menerawang ke segala sisi dompetmu, lihat kembali ke cermin, perhatikan ekspresimu :D. Kalau ceria, berarti aman...kalau cemberut, berarti warning, hati-hati belanjanya yah :D...dan kalau meringis #eh coba periksa jempol kaki kamu, siapa tau kejepit meja rias, hahaha.

Kadang kala kita sering lupa ketika berbelanja buku, terutama saya. Dengan sadar terhadap kondisi keuangan (read: dompet) kita, maka kita akan lebih awas dalam berbelanja buku.


2. Tentukan Budget

Ini contoh aja ya :D
Penyesuaian keinginan berbelanja buku dengan kemampuan keuangan yang kita miliki itu penting. Jika memang benar teman-teman, termasuk saya, punya kebiasaan yang rutin untuk berbelanja buku setiap bulan, maka menyediakan anggaran untuk kebiasaan itu menjadi hal yang sudah seharusnya dilakukan. Hal ini mungkin lebih ke arah manajemen keuangan kita sih, tapi ini ada kaitannya dengan fenomena "kalap buku".

Dengan membuat sebuah anggaran belanja besarnya tiap bulan, kita akan bisa melihat secara jelas berapa anggaran tiap kebutuhan kita. Konsistensi kita dilihat ketika kita berpegang teguh dengan apa yang telah kita tulis dalam anggaran sebelumnya. Kaitannya dengan fenomena "kalap buku" mana? Kita bisa ambil contoh seperti ini, katakan saja kita menyisihkan sebesar 150 ribu rupiah untuk membeli buku baru bulan Agustus. Mau tak mau kita hanya punya uang sebesar itu untuk beli buku baru. Jika kita menggunakan lebih, alhasil akan berimbas pada keperluan yang lain. Dengan menentukan budget belanja buku baru kita jadi lebih mudah menyesuaikan dengan mana buku yang bisa dibeli sesuai budget tersebut dan jumlah buku yang dapat dibeli.


3. List Itu Penting, Prioritas :)

Sebelum berbelanja buku, ada baiknya kita duduk dulu sebentar memikirkan buku apa yang ingin kita beli. Jika ingatan tak mampu menampung banyaknya judul buku yang ingin dibeli, ambil secarik kertas kemudian buatlah daftar / list buku-buku tersebut. Hal ini memberikan kemudahan bagi kita pastinya agar lebih mengefisiensikan waktu jalan ke toko buku, menentukan besar pengeluaran, dan menyesuaikan dengan keuangan kita. Hal ini pula juga menghindarkan kita dalam berpikir-pikir dalam memilih mana buku yang ingin dibeli, tentunya untuk menghindari "godaan" dari buku-buku baru yang lainnya itu.

Dengan adanya list atau daftar buku yang ingin dibeli, ini menunjukkan prioritas mana yang lebih dibutuhkan dan diinginkan. Secara tidak langsung kita dengan tidak sadar mensugesti diri kita agar tidak mengikuti kebiasaan "lapar mata" dalam melihat novel-novel baru.

Jika hal ini teratur dilakukan, pastinya penyakit kalap saat belanja buku dapat diminimalisir. Jangka panjang, dengan membuat sebuah list buku (sebelum belanja) atau kebutuhan lainnya juga mengajarkan kita untuk hidup hemat dan teratur, sadar akan kebutuhan.

Sebelum belanja buku, buat list dulu yuk :)

Yah, membuat list sebelum berbelanja buku adalah salah satu cara yang tepat dalam mengontrol kalapnya dalam belanja :D.


4. Tahan Diri Dong! Jangan tergoda!


Jangan pada laper mata kalau liat yang beginian yah :D
Sumber gambar disini

Terkadang ketika kita berusaha untuk melakukan sesuatu yang sangat penting tak disangka banyak godaan dan cobaan datang. Sama seperti kasus ini. Saat kita mau konsisten gak pengen kalap pas belanja buku terkadang kita khilaf. Melihat banyaknya buku baru banyak dipampang di toko buku, siapa sih bookaholic yg tahan.

Oleh karena itu kita harus kembali melihat ke awal. Kita harus konsisten dengan diri kita, harus kontrol diri terhadap "godaan". Jika tidak, semua yang akan direncanakan dan dilakukan akan sia-sia. Harus ada kesadaran dan kemampuan serta kemauan untuk menekan penyakit "lapar mata", hehehe.


5. Bawa Uang Secukupnya

Hal ini juga bisa menjadi salah satu trik yang unik. Jika kita membawa uang yang cukup atau dengan kata lain tidak terlalu banyak maka kemungkinan kita untuk membelanjakan buku yang sebenarnya tidak terlalu kita butuhkan saat itu akan menjadi lebih kecil.


6. Datang Saat Diskon

Datang pada saat diskon adalah surga bagi para pecinta belanja buku. Ini bisa jadi sebuah trik untuk mengakali kebiasaan kita yang "kalap saat belanja buku" agar keuangan kita gak kebobolan saat belanja. Disamping hemat, dengan adanya diskon bisa nambah banyak buku yang bisa dibeli kan? Bisa dibayangkan gak kalau misalkan kita sudah menentukan budget belanja buku kita bulan ini sebesar 200 ribu rupiah untuk 4 buku. Tapi kalau kita datang pas diskon kan bisa dapat 5-6 buku kan? Asyik kan? Hehehe.

Special Price. Sumber gambar disini

Diskon. Sumber gambar disini


Itu sedikit tips dari saya. Semoga bermanfaat yah.


#coretanhidup
Read full post »

Minggu, 28 Juli 2013

Resensi - My Perfect Sunset

7 komentar

Judul : My Perfect Sunset
Penulis : Kyria
Penerbit : Bentang Pustaka
Terbit : Februari 2013
Halaman : vi + 370 hlm; 20,5 cm
Harga : Rp. 58.000
ISBN : 978-602-7888-04-3

SINOPSIS

Tak pernah aku bermimpi akan bertemu denganmu, dengan cara seperti ini. Bagiku, dirimu bukanlah sosok yang kuharapkan untuk datang. Menghampiri, lalu menawariku sejuta harapan, mengajakku tidak bosan tertawa, dan setia menjadi sandaran sedu sedan tangisku.

Tetapi, di ujung sana, sosok yang sempurna menungguku dengan sabar. Menantiku merengkuhnya dengan beribu rasa rindu, memohonku dengan tulus untuk membuka pintu, dan mengharapkan sapaan "Sayang" kembali terucap dari bibirku.

Hatiku tak kuasa memilih, haruskah aku melupakanmu. Sekalipun kau yang mampu menyunggingkan senyum di wajahku, sekalipun kau yang menghapus air mata dari kedua pipiku, dan sekalipun kau yang mampu mewarnai hidupku.

Walau sejujurnya aku, seorang Indah, tidak ingin melepaskan sosok Satria ataupun Kevin. Egois memang. Meskipun kenyataan berkata bahwa untuk meraih sunset yang sempurna, kita harus memilih dan memutuskan.

*****

"Bertemu denganmu pasti bukanlah sebuah kebetulan, melainkan rencana Tuhan yang paling mengesankan."


Terkadang kita berpikir akan masa depan, tiga tahun ini aku akan seperti apa? Terkadang pula ada yang sudah memiliki target, satu tahun kedepan aku akan menikahinya, punya anak, dan hidup bahagia. Akan tetapi, sebenarnya kita tidak tahu bahwa apa yang sudah kita rancang dalam pikiran kita bukan selalu yang terbaik untuk kita. Karena terkadang apa yang kita inginkan bukan yang terjadi pada kehidupan kita.

Sama halnya dengan cinta, di lain sisi ia penuh dengan tanda tanya. Kita tidak pernah tahu apakah esok hari ia masih mencintaiku. Kita juga tak pernah tahu apakah hari esok masih dapat mencintainya. Dan kita juga tak pernah tahu apakah cinta yang kita jalani akan berakhir seperti yang kita harapkan. Cinta, ya seperti itulah itulah tema yang diangkat Kyria dalam novel berjudul My Perfect Sunset ini.

My Perfect Sunset menceritakan kisah Indah, seorang pegawai bank, yang bertemu dengan Satria, pemuda yang ternyata seorang petinju, dalam keadaan yang tidak terduga-duga. Satria menolong Indah  saat Indah hendak dirampok di sebuah gang kecil. Tak disangka pertemuan akan merubah hidup Indah dan kisah cintanya.

Masalah silih berganti datang dalam kehidupan Indah. Ia merasa sudah jenuh dan tidak nyaman lagi dengan pekerjaannya di kantor. Heru, supervisor di tempatnya selalu menekannya terutama jika Indah melakukan kesalahan. Indah seakan merasa ingin keluar dari rutinitas itu. Tak disangka puncak masalahnya datang. Ia mendapati Kevin sang kekasihnya bersama wanita lain, Karina. Jantungnya berdebar, hatinya terasa hancur.

Untuk beberapa saat masa depannya bersama Kevin yang telah direncanakannya seakan hilang. Di sisi lain Satria hadir dengan segala kebaikannya memberikan apa yang Indah inginkan pada saat itu. Indah pun kalut dengan perasaannya sendiri. Di satu sisi ia nyaman dengan segala kebaikan yang diberikan Satria tapi di lain sisi ia juga masih mengharapkan Kevin.

Penderitaan batin yang dirasakannya tidak sampai disitu. Ketika Indah telah merasa nyaman dengan Satria walau hubungan mereka belum jelas, masalah kembali melanda Indah. Kevin kembali kehidupannya. Indah bimbang. Ketika ia memutuskan untuk memberikan kesempatan kedua untuk Kevin, ia tersadar kalau sebenarnya ia juga mencintai Satria. Ada sedih, kebohongan, penghianatan, cinta yang tak bisa terucap, sayang yang tak tersampaikan, pengorbanan, perjuangan, kenangan, dan impian dalam setiap kisah Indah, Satria, Kevin dan Karina. Ada senyum dan ceria yang terbentuk, namun ada kalanya air mata tak terbendung. Pilu.

My Perfect Sunset betul-betul sangat berkesan. Novel ini sangat layak diberikan applause dan acungan jempol. Plot cerita sangat kuat dibangun oleh penulis, bahkan sejak awal. Tak hanya disitu, penghadiran konflik dalam novel ini benar-benar sangat superb. Kombinasi plot cerita dan konflik sangat terlihat rapi jika anda membaca novel ini, membuat saya sebagai pembaca merasa takjub, terheran-heran sendiri dengan apa yang terjadi pada saya saat membaca novel ini, dan membuat saya mati penasaran saat saya membaca dari satu halaman ke halaman berikutnya.

Penggambaran karakter tokoh sangat detail dan terkesan kuat. Hal ini membuat pembaca benar-benar meresapi perasaan tokoh dalam cerita. Pembaca seakan dapat merasakan derita yang dirasakan Indah saat ia sulit mengerti akan perasaannya pada Satria dan saat ia tak dapat mengutarakan perasaan yang sebenarnya pada Satria. Penulis benar- benar mengeksplore perasaan tokoh dalam cerita, seakan-akan senang sekali "mempermainkan hati" tokoh dalam cerita. Tak hanya disitu penggambaran setting juga pas sehingga deskripsi dalam cerita terasa nyata.

Alur cerita secara keseluruhan merupakan alur maju, tapi ada beberapa yang mengulas ke belakang. Penulis dengan apik membuat alur cerita menjadi begitu mengalir. Pemakaian diksi yang tepat, bahasa yang ringan serta kemampuan penulis menghidupkan ceritanya benar-benar menarik paksa imajinasi pembaca masuk ke dalam cerita. Alhasil, penulis membuat pembaca penasaran dan selalu menduga apa yang ada di halaman selanjutnya.

Kyria sangat cerdas dalam memberikan kejutan-kejutan tertentu yang memberikan sensasi tersendiri serta membuyarkan dugaan akan akhir pada beberapa bagian cerita. Seperti pada halaman 236-243 yang menceritakan tentang percakapan Indah dan Satria di telepon. Satria mengutarakan perasaan hatinya kembali, tapi miris, Indah seakan berat membalasnya, sulit mengatakan yang sesungguhnya bahwa ia mempunyai perasaan yang sama. Akhir percakapan mereka, Indah tertegun saat ia menoleh ke arah jendela. Ternyata ada Satria di depan pagar rumahnya. Ia disana selama percakapan itu terjadi. Satria tersenyum, ia melambaikan tangannya dan kemudian pergi.

Sebagai pembaca, saya merasa sangat takjub dengan My Perfect Sunset. Luar biasa, saya hampir tidak menemukan typo dalam novel ini. Iya, hampir, kecuali kesalahan penulisan di halaman 336 baris kedua dari atas. "Nmun, tangan Satria tampak gemetar saat hendak menulis". Kata "nmun" seharusnya ditulis "namun". Ada juga sedikit hal yang mengganggu saya. Kenapa penulis seakan sedikit membahas tentang sunset? Kan judulnya My Perfect Sunset, atau memang sengaja penulis ingin menimbulkan makna kiasan dari judul dengan isi cerita?

Jujur saja, saya sangat sulit menemukan kekurangan dalam novel dari Bentang Pustaka ini. Hanya saja quote atau kutipan tersendiri dari penulis sangat sedikit. Menurut saya hadirnya quote itu penting dan memberikan keindahan tersendiri dari setiap bagian novel itu. Hadirnya quote juga dapat memberikan nilai plus dalam sebuah tulisan. Tapi di lain sisi saya juga berpikir mungkin Kyria sengaja melakukan hal ini. Mungkin ia menginginkan penikmat tulisannya menjadi pembaca yang cerdas, yang menciptakan quote-nya sendiri dari keindahan tulisannya.

Di lain sisi, saya hampir kesulitan menemukan pesan yang sebenarnya ingin disampaikan penulis dalam novel ini. Hal ini saya rasakan karena saya terlalu terbawa permainan imajinasi penulis. Akan tetapi, bukan berarti dalam novel ini tidak ada pesan. Setelah saya cermati, novel dengan tebal 370 halaman ini sangat sarat akan pesan dan nilai.

Pertama, saat scene Satria dipertemukan dengan ibu dan adiknya sehari sebelum pertandingan tinjunya. Sebagai pembaca, saya sangat terharu melihat adegan ini. Satria yang dulu selalu menyakiti dan telah meninggalkan ibunya kaget melihat sosok tua itu datang tanpa ada amarah sedikitpun. Satria juga tertegun melihat ibunya datang dengan kerinduan yang sangat. Ibu Satria melangkah dengan mata berkaca-kaca seraya mengusap lengan Satria dan menanyakan kabar anaknya itu. Kyria, lewat scene ini, seolah memflashback kehidupan pembaca dan membuat bercermin akan dirinya sendiri seraya bertanya "Apa yang sudah kita lakukan terhadap ibu kita agar membuatnya tersenyum bahagia?".

Kedua, penulis juga seolah mengajak kita termenung sejenak dan berpikir melihat kehidupan zaman sekarang lewat karakter Indah. Indah digambarkan sebagai sosok yang mandiri, ia bersikeras menolak orang tuanya untuk mengiriminya uang. Saya menilai bahwa penulis sangat jeli melihat fenomena seperti ini di setiap kehidupan. Penulis seolah mengkritik terhadap semua dewasa muda yang mungkin terlalu nyaman dengan ketidakproduktifannya atau yang mungkin terlalu takut berusaha karena terlalu banyak berpikir akan hal buruk yang sebenarnya hanya ada dalam pikirannya.

Ketiga, saat scene Satria dan Indah berada di atas bukit seraya menunggu sunset datang. Banyak kutipan menarik dan kaya akan nilai dan pesan, seperti:
[...] "Kau berjuang sekuat tenaga agar bisa melihat sunset-mu yang sempurna." (hlm. 170)
"Kau gadis yang sangat berani. Kau lebih kuat daripada yang kau kira, hanya saja kau tak menyadarinya. Kau adalah seorang gadis yang tak gentar menatap mata para perampok dan menolak untuk menyerah. Gadis yang luar biasa." (hlm. 171)
Sunset. Sumber gambar disini
...dan masih banyak lagi pesan yang disampaikan dalam novel ini. Banyak juga moment indah yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Penulis, lewat seluruh rangkaian cerita cinta dan berbagai konflik yang mewarnainya dalam novel ini, menanamkan bahwa sebuah cinta harus dibangun atas dasar kesetiaan, kepercayaan sebagai pondasinya, dan kejujuran sebagai mahligainya. Lewat novel ini juga Kyria seolah berpesan bahwa kesetiaan itu adalah hal yang paling penting, emas dari sebuah hubungan. Novel ini juga seolah memberitahukan kita untuk terus memiliki mimpi dan jangan menyerah dalam menggapainya, sunset yang sempurna.

Terlepas dari semua kelebihan dan kekurangan, novel ini sangat patut untuk dibaca atau mungkin dijadikan teman pengisi liburan atau weekend anda. Keindahan penulis membawa tema klasik, cinta, pasti akan memanjakan anda dan membuat anda berpikir ulang tentang cinta dan sunset-mu sendiri.
Akhir kata, 5 of 5 star for My Perfect Sunset by Kyria.


"Ini adalah sunset yang kuhadiahkan untukmu. Semoga kau bahagia dengan Kevin." (hlm. 172)

*****

Read full post »

Minggu, 21 Juli 2013

Resensi - #catatankaki : Love Changes People

0 komentar

Judul : #catatankaki - Love Changes People
Penulis : Endik Koeswoyo dan Sarah Karinda
Penerbit : de TEENS
Terbit : April 2013
Halaman : 228 hlm
Harga : Rp. 35.000
ISBN : 978-602-255-103-4

*****

[...] Cinta itu tetep dramatis, cinta itu selalu mempunyai dua akhir cerita, cerita bahagia atau berakhir dengan kisah duka. Uniknya lagi, kita gak bisa milih soal ending cerita soal cerita cinta, kita cuma bisa pingin. (hlm 12)

Cinta terkadang merupakan hal yang sangat sulit untuk diterka. Ia dapat datang tanpa mengenal tempat maupun waktu. Banyak cerita cinta dimulai hanya dengan saling mengejek, ada pula karena kedekatan dan saling mengagumi satu sama lainnya, bahkan untuk zaman sekarang ini ada cinta yang tumbuh dari interaksi di dunia maya. Untuk beberapa alasan yang tak dapat dijelaskan, cinta dapat memberikan segala bentuk keindahan yang tak dapat diverbalkan. Namun, saat cinta harus pergi luka yang ditoreh dapat sangat dalam dan menyisakan kenangan pahit.

Sama halnya dengan membangun cinta, banyak hal sulit untuk dimengerti. Membangun sebuah hubungan memerlukan banyak hal dan pertimbangan. Dibutuhkan kesesuaian, keberanian untuk mengungkapkan, serta kejujuran agar terlihat ketulusan di dalamnya. Namun, bagaimana jika seseorang yang merasa butuh akan kehadiran orang lain tapi ia takut mengambil resiko untuk membangun sebuah hubungan? Bagaimana jika ia merindukan sosok seseorang tapi ia takut melangkah lebih jauh karena ia tak mengenal orang tersebut? Ya, tema itulah yang diangkat Endik Koeswoyo dan Sarah Karinda dalam novel mereka yang berjudul #catatankaki.

Catatan Kaki menceritakan tentang kisah dua orang yang benar-benar berbeda gaya hidupnya, Tania Wulandari Soebagjo dan Bumi Setiawan. Tania, wanita single berumur 27 tahun, seorang senior account manager sebuah perusahaan terkemuka di Jakarta dan Bumi adalah seorang wartawan freelance yang sering meliput keindahan alam Indonesia. Kisah mereka berdua dimulai ketika Tania, yang punya hobi shopping mancanegara dan Bumi dipertemukan oleh hastag #catatankaki pada sebuah foto di Instagram. Keduanya kemudian saling bertegur sapa lewat twitter, BBM maupun instagram, sampai akhirnya mereka berdua bertemu. Pertemuan yang menjelaskan semua, menjelaskan satu sama lainnya tentang perasaan yang mereka rasakan.

Namun yang namanya cerita cinta pasti akan ada konflik di dalamnya. Begitu pula yang terjadi pada kisah Tania dan Bumi. Ketika dua bulan mereka menjalin keakraban yang saling mengisi, Galang (mantan kekasih Tania) hadir kembali di antara mereka. Riska, sahabat Tania, berusaha mengingatkan tapi memang Tania yang keras kepala, ia beragumen bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Di sisi lain, Bumi cemburu. Ia sadar betapa tidak ada apa-apanya dirinya jika dibandingkan dengan Galang, dan akhirnya ia kemudian lari dari perasaan. Ia pergi ke Pulau Buru untuk sengaja menyibukkan dirinya dan melupakan Tania sementara. Tania yang merasa melakukan something stupid langsung mengejar Bumi ke Pulau Buru tanpa pikir panjang.

Novel teenlit dari de Teens ini patut diacungi jempol untuk banyak alasan. Novel ini sangat unik dan terkesan pop banget. Pemakaian diksi yang tepat juga membuat novel ini terasa ringan, sangat santai, dan enak dibaca. Ditambah dengan alur cerita yang mengalir, novel ini terlihat hidup. Penulis menggunakan gaya bercerita dua sudut pandang karakter yang sangat memberikan kesan detail terhadap karakteristik Tania dan Bumi sehingga membuat pembaca benar-benar meresapi apa yang dirasakan tokoh tersebut dalam cerita. Tak hanya disitu, penulis juga mampu menonjolkan karakter penunjang secara proporsional pada beberapa scene

Quote indah sebagai judul bab juga patut dipuji. Kuatnya plot cerita dan deskripsi setting yang luar biasa detail juga semakin memberikan nilai plus pada novel ini. Hal itu terlihat jelas pada tiap babnya yang selalu mempunyai setting tempat yang berbeda-beda. Penulis dengan apik mengantarkan imajinasi pembaca mulai dari tempat-tempat indah di Indonesia seperti Pantai Senggigi di Lombok, Pulau Buru di Maluku sampai kemegahan surga belanja mancanegara seperti Orchard Road di Singapura, Madison Avenue di New York, Hongkong, Dubai, dan Champ Elysees di Paris. Tak ada salahnya jika novel ini disebut sebagai novel travelling. Novel ini juga sangat cocok bagi pembaca yang shopaholic.

Penggambaran konflik saat Tania berusaha mengejar Bumi di Pulau Buru untuk membuktikan cintanya benar-benar extraordinary dan memiliki kesan kuat di mata pembaca. Ending cerita juga menarik, tidak terduga. Penulis sangat apik menonjolkan karakter tokoh utama dengan sempurna saat scene ini. Penulis juga tidak melupakan bagian terpenting dari sebuah tulisan yaitu pesan. Ada beberapa kutipan unik dari novel ini yang menurutku merupakan sebuah pesan moral untuk pembaca :

[...] Kamu gak berhak bergaya di atas sebuah kepalsuan [...] (hlm 117)So, go to hell deh orang-orang yang sukanya membeli barang KW. Selain dia nggak menghargai kerja founder, menurutku itu fake sih. Nggak kaya kok pengen keliatan kaya. Kalau memang belum mampu ya belilah sesuai kemampuan. Dengan begitu, kamu akan terpacu untuk bekerja lebih keras supaya bisa membeli barang yang much better. (hlm 117)
"Kamu nggak percaya. Iya, masuk akal kok kalo kamu nggak percaya. Pasti aku juga laki-laki kesekian yang berusaha memasuki hatimu. Tapi setidaknya kamu tahu, bukan masalah kok bagiku, bukan masalah kamu juga punya perasaan yang sama atau enggak, yang jelas aku sudah memberanikan diri untuk bicara soal isi hatiku ini." (hlm 123)
[...] pacaran zaman sekarang itu sudah menjadi tren aneh. Bangga gitu ganti pacar dua kali? NOT! Tidak! Ganti pacar dua kali setelah aku itu tandanya bukan tipe setia. SEKIAN. (hlm 139)

Dibalik banyaknya nilai plus di atas, ada dua kekurangan yang membuat saya sebagai pembaca merasa sedikit kecewa. Pertama, menurut saya karakter Bumi kurang ditonjolkan di awal cerita. Terlebih lagi saat ia yang kemudian suka akan kehadiran Tania dalam hidupnya, itu kurang ditampilkan. Tania dengan jelas menyukai kesederhaan dan keluguan Bumi, sedangkan Bumi? Saya merasa kurang mendapatkan feel pada sosok Bumi pada awalnya.

Kekurangan kedua adalah masih adanya beberapa typo atau kesalahan penulisan dalam novel ini, seperti; pada halaman 13, kata "asalan" seharusnya ditulis "alasan"; pada halaman 76 penggunaan kata "dan lain sebagainya" berulang. Pada halaman 128 ada kesalahan penulisan, "Sebenarnya keputusanku untuk memilih destinasi ke India adalah hal pertama yang membuat Tania ternganga lebar.". Kata "Tania" disini seharusnya ditulis "Riska" karena pada saat itu yang sedang bercerita adalah Tania.

Akan tetapi, kedua kekurangan tersebut dapat terobati dengan tema yang unik, penyampaian cerita yang sangat rapi, diksi yang pas, serta penonjolan karakter yang luar biasa. Belum lagi ditambah dengan konflik dan penyelesaiannya yang apik serta cover novel yang eye-catching, jika saja tidak ada typo dalam novel ini mungkin novel ini terlihat lebih sempurna.

Buku keren ini saya dapat sebagai hadiah kuis FB dari de Teens :)

Penulis, lewat Tania dan Bumi, menanamkan bahwa cinta itu patut diusahakan dan diperjuangkan, janganlah terlalu pasrah dengan takdir. Novel ini juga memberitahukan bahwa sudah sepatutnya cinta dibangun atas dasar kepercayaan & kesetiaan. Terlepas dari semua kelebihan dan kekurangan, novel #catatankaki ini sangat patut untuk dibaca. Terlebih lagi bagi anda yang mencintai teenlit, novel ini bisa jadi sebuah koleksi menarik di rak buku anda. 3,5 of 5 star for Catatan Kaki by Endik Koeswoyo & Sarah Karinda.

"Aku butuh orang yang berjuang buat aku, bukan yang pasrah sama takdir." (hlm 215)
*****

 Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Berhadiah 10 Novel "Maaf, Aku Lagi Jatuh Cinta".
Read full post »

Rabu, 17 Juli 2013

#coretanhidup : Pengen Banget Buku Ini

0 komentar
Akhirnya, setelah sekian lama vacuum dan gak tau mau isi apa nih blog, satu ide muncul dalam pikiran yang ruwet ini, hehehe. Kali ini gua mau berbagi cerita tentang pengalaman, atau yang lebih tepatnya dilema kegalauan, atau apapun sebutannya ini, ntar kalian yang tafsirkan sendiri yah, hehehe.

By the way, teman-teman, kalian yang suka membaca, pernah gak kena sindrom kalap belanja kalau di toko buku? Hahaha, iya, itulah yang selalu (ulangi: SELALU) terjadi sama gua. Hal "ini" nempel di gua sejak 6 bulan yang lalu. Gua sebenernya berpikir, ini anugrah atau musibah. Kalau dompet tebel, gak masalah sih, fine aja bos..tapi kalau dompet lagi tipis, rasanya... ??!@#$$!!!! gak bisa diungkapin dengan kata-kata.

Alhasil, jalan-jalan ke toko buku menjadi jalan-jalan yang harus gua hindari kalau lagi tanggal tua. Sedih sih, tapi mesti dilakukan, kalau gak, gua gak bisa bayangin apa yang terjadi kalau uang bulanan gua habis -_-. Akhirnya...gua "puasa mata" dari yang namanya ngeliat buku bagus bin baru. Gimana gak gitu fren, ni mata kalau lagi di toko buku terus ngeliat buku baru berasa pengen beli semuanya (kebayang kan >_< ).

Yaaah, sebenarnya gua kena "sindrom kalap belanja buku" gak parah-parah amat sih. Kalapnya gua liat buku baru gak separah kayak orang yang gak makan-makan satu minggu terus ngeliat ayam goreng, hehehe. Di sisi lain, kalau gua jalan ke toko buku pasti gua bawa list buku yang pengen dibeli. Kebetulan gua juga lagi bokek, jadi masih banyak deh buku yang pengen gua punya, hehehe.

Ini dia wish list buku "idaman gua" untuk bulan ini. Mudah-mudahan gua cepet-cepet punya deh >_< .
Siapa tau teman-teman juga minat, cek aja yah, buku-buku ini keren menurut gua...

1. All You Can Eat by Christian Simamora


2. Nedera by Alexia Chen


3. Restart by Nina Ardianti


4. Unfriend You by Dyah Rinni


5. The Mocha Eyes by Aida M.A.



Yaaa, itu dia paling tidak 5 buah novel yang pengen banget gua punya, hahaha. Siapa tau teman-teman juga suka dengan buku yang di atas, berarti selera kita rada-rada mirip, hehehe.

#coretanhidup
Read full post »

Rabu, 10 Juli 2013

#coretanhidup : Puasa Pertama

2 komentar
Hiks, hiks, hiks.. (sedikit lebay yah :D)

Sedih juga rasanya awal puasa kali ini gak bisa bareng keluarga tercinta. Kegalauan menyertaiku yang notabenenya hidup sebagai perantau (tsaah :D). Yah, beginilah nasib klu orang yang merantau, hehehe. Hidup sendiri merupakan salah satu konsekuensi yang mesti kuambil sejak 4,5 tahun yang lalu demi angan masa depanku yang lebih baik. Jauh dari orang tua dan juga "orang yang disayangi" (ups, :D) pastinya udah jadi otomatis dong, gak bakalan bisa ditawar-tawar lagi. Rasa ingat kampung halaman dan masakan ortu merupakan memori terindahku dalam sebuah perantauan (menurutku sih :D). Kalau teman-teman, ada gak yang puasa pertamanya jauh dari keluarga? (klu ada kita senasib broo :D).

Any way, kembali lagi ke topik pertama kita tadi.....jengjengjeng>> "Puasa Pertama" :D.
Menurut teman-teman apa sih yang terlintas dalam benak kalian kalau mendengar dua kata ini "Puasa Pertama"?? Atau ada yang sudah membayangkan angan-angan tinggi tentang (mungkin) buka puasa bareng, kue-kue khas Ramadhan, petasan, hihihi, atau sampai ada yang membayangkan diskon Ramadhan di Mall? :D :D.

Yaaah, pastinya banyak banget pendapat maupun rencana aktivitas teman-teman tentang bagaimana moment puasa pertama. Ada juga mungkin yang punya target yang ingin dicapai di bulan Ramadhan kali ini. Saya juga punya segudang angan-angan sekaligus target sendiri dong di bulan puasa kali ini, hehehe. Karena sama-sama punya segudang rencana, kita saling mendoakan yah? :) semoga semua wish list teman-teman dalam Bulan Ramadhan kali ini tercapai... Aamiinn :)

(mulai jadi anak gaul deh :D)
Yaaak, sebenarnya gua pengen berbagi sebagian cerita deh..hmm, kayaknya satu kepingan puzzle dari hidup gua boleh dong diekspos dikit disini yak? hahaha :D. Yaak, langsung aja...gua mau sedikit keluarin imajinasi gua tentang gimana "ngenesnya" sekaligus "bedanya" gua dalam menjalani puasa pertama di bulan Ramadhan kali ini, hehehe

(kembali ke anak biasa-biasa aja deh :D)
Puasa pertama tanpa adanya keluarga tercinta, itulah yang sedang terjadi pada diriku yang malang ini. Rasa gejolak rindu berkecambuk dalam dada (hahaha :D). Aaaakkkkk, teringat bagaimana rasa opor ayam di sahur pertama khas buatan mama -_-

Yah, yang bisa dilakukan dengan kesendirian sahur pertama ini palingan cuman bisa mengenang bagaimana asyik puasa waktu jaman SD, SMP, dan SMA dulu... hihihi. Buka puasa pakai kolak pisang, biji salak (bukan biji salak beneran yah, cuman namanya aja yang sama :D), pacar cina...hmmm, yummy deh menu buka puasa dulu. Hihihi, emang kalau lagi puasa itu rasanya pengen banget yang namanya semua makanan pengen dirasa :D.

Aku sewaktu kecil juga paling suka banget sama yang namanya main petasan pas bulan puasa. Pulang tarawih, bareng teman-teman, kejar-kejaran, naik sepeda ke masjid juga pernah (aaahh, rindu masa-masa itu..). Emang kenangan menyenangkan itu paling asyik deh.. Belum lagi yang sore-sore balapan ke masjid buat ngaji, ketemu sama pak ustadz, hafalan surat pendek, dan ditambah kuis di akhir pengajian tentang hafalan surat, hukum tajwid atau pengetahuan puasa...yang jawabnya benar, pasti dapat kesempatan pulang duluan (hihihi :D).

Malamnya bareng teman-teman ke masjid.. tarawih bareng.. sambil ngisi agenda Ramadhan dan sekaligus ngeliat fenomena penceramah yang jadi "artis dadakan" gara-gara dimintai tanda tangan seusai ceramah :). Pulang tarawih yah, jalan sama temen-temen bareng (pas SD), dan juga.. nyari temen baru terutama yang cewe.. (pas SMP dan SMA..hahaha :D). Kalau diingat-ingat emang asyik bin gokil deh pengalaman puasa aku dulu waktu kecil. Sebenarnya banyak banget sih.. Dari cerita kagum sama temen pengajian, sampe cerita dapat juara lomba mengaji.. pengen deh rasanya "ditumplekin" disini, hehehe.

Singkatnya, puasa pertamaku kali ini dihiasi kesendirian tanpa keluarga. Tapi itu menyadarkanku sejenak tentang kenangan indah puasa pertama di waktu kecil, kenangan dimana yang membuat hidupku jadi lebih berwarna...

"Kenangan indah itu adalah kenangan yang tak terlupakan, yang bisa membuat kita tersenyum dan ceria ketika kita mengingatnya"

Klu teman-teman punya gak cerita unik waktu kecil terutama pas bulan puasa? share dooonnggg :D

eh, eh, eh... aku ampe lupa waktu nih :D.
Kebingungan cari inspirasi mau ngetik apa lagi, hehehe, ntar disambung lagi brooo :)

Akhir kata saya mohon maaf yah...
Saya juga mau ucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa, bagi yang menjalankan... :) 

#coretanhidup
Read full post »
 

Copyright © Garis Satu Kata Design by Free CSS Templates | Blogger Theme by BTDesigner | Powered by Blogger