Senin, 12 Mei 2014

Resensi Sang Patriot - Harga Diri adalah Harga Mati! Merdeka!

3 komentar

Judul : Sang Patriot - Sebuah Epos Kepahlawanan
Penulis : Irma Devita
Penerbit : Inti Dinamika Publishers
Cetakan, Terbit : Cetakan I, Februari 2014
Tebal : xii + 268 hlm
Harga : 
ISBN : 978-602-14969-0-9

Blurb

Sesosok jasad terbujur kaku di meja yang sengaja diletakkan di pelataran mushalla. Terbaring dalam hening. Tampak agung walau tersungkur bergenang darah mengering dari luka menganga di wajah yang bola matanya raib tercabut dari tempatnya.... Tubuh berperawakan sedang namun berisi itu menjadi saksi bisu kekejaman tangan-tangan yang pernah mendera, penuh lubang peluru dan cabikan bayonet. Tulang kepala berambut ikalnya retak, terdera popor senapan. Satu... dua... tiga... jari-jari tangan sang jasad tak lagi lengkap, hilang sebagian. Jari-jari itu biasanya lincah memetik ukulele, melantunkan nada merdu.

*****

Harga diri adalah sesuatu yang teramat berharga. Jauh di atas segalanya. Apa guna hidup enak tapi tetap ditindas? Harta dan jabatan tak ada arti jika kita semata-mata tidak diakui. Hanya dijadikan sapi perah yang kemudian disedot susunya kemudian dibunuh jika tak bisa memberikan apa-apa lagi. Bukankah sebenarnya seluruh manusia sejak lahir adalah makhluk merdeka di muka bumi?

Kemerdekaan dan perjuangan, mungkin inilah yang hendak disampaikan oleh Irma Devita dalam novel berjudul Sang Patriot, Sebuah Epos Kepahlawanan. 

Novel ini berawal dari kisah Hasan dan Amni, dua orang tua sederhana Soerdji. Mereka adalah pribadi sederhana yang tinggal dengan penghasilan pas-pasan. Hasan adalah seorang pedangang keliling di pasar.

Soerdji lahir dengan kharisma yang luar biasa. Pancaran kecerdasan dan jiwa kepemimpinan terlihat semenjak masa kecil. Pembawaannya yang baik hati membuat dirinya mudah bergaul dan disenangi banyak teman. Salah satu keinginannya adalah bersekolah. Ia sangat bersemangat sekali bersekolah terutama setelah diajari baca tulis oleh kakaknya.

Soerdji tumbuh menjadi pribadi yang tampan. Sampai suatu ketika ia dipertemukan oleh Rukmini, seorang anak seorang guru. Mereka bertemu di pasar dengan skema yang tak terduga-duga. Alhasil, Rukmini terpaku pada pandangan pertama, bukan hanya karena ketampanannya tapi karena lirikan nakalnya yang terbilang tak biasa untuk ukuran perempuan seperti Rukmini, perempuan yang tak pernah dekat dengan laki-laki sebelumnya.

Nasib baik menjodohkan mereka. Rukmini bahagia bukan main kepalang. Perjalanan rumah tangga mereka sangat harmonis. Soerdji sangat romantis dan penyayang terhadap istrinya itu. Tak jarang ia memuji kecantikan perempuan ayu itu.

Bagaimana kelanjutan kisah cinta antara keduanya? Bagaimana kisah perjuangan Soerdji dalam membela tanah air? Apakah Rukmini merestui keinginan suaminya untuk membela negara? ...silahkan baca novelnya..


KELEBIHAN

Cover
Dibalut dengan warna merah dan jingga yang lebih dominan membuat Sang Patriot terlihat eye catching. Potret bagian belakang seorang pejuang yang sedang menatap bangunan yang disekelilingnya tampak hancur memperkuat nuansa yang sengaja ditimbulkan dari judul novel sendiri. Perjuangan dan patriotisme. Di bagian lain, hamparan langit dan awan putih yang bergulung semakin mendukung kharisma prajurit tempo dulu yang membawa samurai. Sangat memukau. Penempatan judul yang pas semakin mempercantik penampilan. Warna emas dari teks judul juga sangat serasi dengan kombinasi warna merah yang menyiratkan kesan keberanian. Benar adanya, jika dinilai, dari cover ini saja nuansa cerita sudah tercium dengan sangat jelas.

Untuk ukuran soft cover, model dan bentuk yang digunakan dari sampul novel ini tergolong baik. Bentuk cover yang sengaja dilipat ke dalam memberikan kesan yang nyaman saat dipegang dan dibaca. Beberapa pembaca akan merasa puas dan tidak khawatir dengan cover yang rusak sisi-sisinya sebagaimana kebanyakan novel yang bentuk covernya biasa saja.

Lahirnya Novel (Ide dan Moment)
Ide cerita yang sengaja dipilih oleh Irma Devita tergolong tidak biasa. Sebuah novel yang berkisah tentang sejarah. Jarang penulis yang menuliskan ini. Terbilang langka untuk ukuran zaman sekarang. Sejak masa Pram, dulu. Meskipun lahirnya novel ini merupakan keinginan pribadi sendiri yang semata-mata didorong atas keinginan memenuhi janji, secara tidak langsung memberikan sebuah nuansa yang baru dalam kepenulisan novel yang mengulik sejarah. Sumbangan yang tidak biasa. Sumbangan untuk bangsa yang mungkin lupa akan asal usul paham yang mereka sering koarkan.

Sang Patriot tak semata-mata potret sejarah yang kemudian ditulis ulang dalam bentuk fiksi. Kehadiran novel ini seakan benar-benar menyiratkan momentum dan kritik terhadap kondisi bangsa sekarang. Tepat bisa dikatakan seperti itu. Hal itu dikarenakan Sang Patriot lahir saat pesta demokrasi masih menguar di bumi Indonesia. Memberikan kesan yang berbeda di tengah kondisi politik bangsa yang mungkin sangat jauh dari nasionalisme modern dan kemerdekaan sejati. Sebagian pembaca yang menuntaskan novel ini mungkin akan mengira cerita di dalamnya merupakan teguran halus terhadap kondisi Indonesia. Tak salah, tak juga benar. Memang, Indonesia sudah merdeka secara pengakuan, tapi dalam praktik? Masih jauh. Jauh, karena masih banyak kemiskinan di tengah koruptor yang merajalela. Jauh, karena masih banyak penindasan di tengah permainan keadilan. Kesadaran akan harga diri dan kejujuran masih minim dalam hati masyarakat masa kini.

Cara Belajar Sejarah yang Unik
Hadirnya novel ini sebenarnya adalah solusi berbeda dari belajar sejarah yang kebanyakan orang enggan mengetahuinya karena disajikan oleh banyak buku dan arsip dengan sangat kaku. Kombinasi permainan alur serta konflik cerita yang diramu oleh penulis membuat siapa saja "ringan" mencermati satu demi satu kisah perjuangan Letkol Mochamad Sroedji (masa 1942-1949) dalam mempertahankan tanah air. Alhasil, dengan menjadikannya sebuah novel, Irma Devita secara tidak langsung ikut turut andil dalam proses perkembangan pembelajaran sejarah Indonesia. Dengan terbitnya novel ini, pembelajaran dapat dilakukan dengan cara baru, tidak hanya dengan membaca buku pelajaran sekolah saja.

Alur Cerita
Novel dengan tebal 268 halaman ini menggunakan alur cerita maju mundur. Cerita dibawakan dengan apik, meskipun harus beberapa kali mengulak masa lalu. Mulai dari masa-masa Soerdji bersekolah, membangun keluarga dengan Rukmini, bergabung di PETA, sampai kehidupan di sekitarnya dibawakan dengan rapi dan runtut. Dari naratif yang disajikan oleh penulis mampu membuat sejarah menjadi ringan untuk dibaca.

Membaca Sang Patriot sejenak mengingatkan saya kepada cerpen Firasat karya Dee dalam kumpulan tulisannya yang berjudul Rectoverso. Irma Devita terbilang sukses merekam sejarah Jawa pada masa itu. Kebudayaan dan kecenderungan masyarakat yang terbilang masih kental dan percaya terhadap ramalan, tanda-tanda serta firasat-firasat dituturkan dengan rasa gamblang. Begitu jujur sehingga pembaca yang menikmati alurnya merasa ada keterikatan kebenaran yang kuat antara firasat-firasat (atau ramalan zaman kerajaan dulu) yang dirasakan tokoh dengan keadaan dalam cerita.

Puitis dan Romantisme
Sang Patriot tak selalu bicara tentang perjuangan. Irma Devita menghadirkan sisi yang berbeda dari nuansa patriotisme yaitu kisah cinta. Pada beberapa bagian, pembaca akan terasa tersentuh dan mungkin malu untuk beberapa pengambaran (deskripsi) emosi yang ditampilkan penulis. Nuansa romantis dalam percintaan antara Rukmini dan Soerji yang jelas berbeda dengan penampilan percintaan masa kini, ditampilkan seakan-akan hampir sama dengan kondisi saat peristiwa sesungguhnya berlangsung. Malu-malu, rasa cinta yang dalam, dan kesetiaan yang lebih tampak dalam perbuatan, dihadirkan dengan sederhana, apa adanya namun terkesan nyata. Pada beberapa bagian, pembaca mungkin akan merasakan romantisme puitis yang menyentuh. Hal ini mungkin akan mengingatkan beberapa pembaca yang suka dengan aliran romantisme dalam novel sejenak teringat dengan kisah-kisah yang dihadirkan dalam novel Habibie dan Ainun.
Dua pasang mata yang bertemu berbicara lebih banyak daripada kata-kata. Saat itu, seolah dunia berhenti berputar dan berporos hanya pada keduanya, Rukmini dan lelaki tampan pemetik ukulele. (hal. 19)

Penokohan
Untuk kriteria ini, novel Sang Patriot dapat dikatakan sangat mengagumkan. Tokoh yang dihadirkan sangat banyak. Walaupun Letkol Mochamad Sroedji sebagai tokoh sentral, masih banyak tokoh yang tak kalah penting yang dihadirkan oleh penulis. Sebut saja, Rukmini, Hasan, Amni, Letkol dr. RM Soebandi, Kolonel Sungkono dan masih banyak yang lainnya. Inilah tingkat kesulitan dalam novel terbitan Inti Dinamika Publishers ini. Kehadiran tokoh dalam cerita (sekalipun yang figuran) jikalau bukan karena riset yang terbilang cukup lama, mengumpulkan informasi yang lumayan banyak dari arsip-arsip sejarah, tak akan mungkin bisa terjadi. Belum lagi keahlian mengkolaborasikan beberapa sumber yang mungkin sama atau justru berbeda. Penulis dengan rapi, bersinambung dan sangat terkait satu sama lain, mampu menyajikannya dengan sangat baik. Maka tak ada salahnya jika pada sisi ini Sang Patriot sangat patut untuk dipuji.

Konflik dan Setting
Pembaca dibuat penasaran bahkan untuk pertama. Hal itu dikarenakan prolog yang disajikan dengan oleh Irma Devita dapat dikatakan sebuah "propaganda" terbilang sukses. Hawa mencekam, thriller dan misteri yang terkesan dari rangkaian kalimat itu berhasil menyihir pembaca untuk terus melanjutkan bacaannya hingga halaman terakhir. 

Pada beberapa bagian, penulis dengan sangat apik menggambarkan konflik dalam cerita. Operasi gerilya, penyerbuan tangsi-tangsi militer Belanda, peristiwa pengungsian keluarga Soerdji juga mampu menegangkan saraf pembaca. Kesinergisan cara bercerita penulis pada bagian-bagian ini patut diberi acungan jempol. Sangat proposional dan juga menggugah, baik secara emosi, imajinasi dan pesan moral.

Alhasil, pada bagian-bagian yang konflik terkesan nyata (sebagai contoh penyergapan tiba-tiba Belanda di Karang Kedawung) tak mungkin ada jika tak didukung dengan penggambaran setting yang sempurna. Kesesuaian logika cerita, kejutan-kejutan konflik dan dailog terbilang rapi pada bagian ini. Kepiawaian Irma Devita, dalam hal ini, berhasil membuat konflik puncak yang meninggalkan kesan melekat di pikiran pembaca.

Pesan 
Cinta kasih sejati, persahabatan, pengorbanan, itulah beberapa nilai yang akan didapat dari novel karya seorang praktisi hukum ini. Melalui kisah cinta dan kesetiaan yang ditunjukkan oleh Rukmini kepada Soerdji pembaca akan mengerti sejauh mana bahwa cinta dan kesetiaan tak hanya berasa dari kata-kata saja. Tindakan sebagai bukti nyata ialah yang sebenar-benarnya. Rukmini rela meninggalkan impiannya untuk melanjutkan sekolahnya demi menunjang keinginan suaminya untuk berjuang membela tanah air. Sebuah pengorbanan yang tulus dari seorang perempuan. Perempuan yang benar-benar mencintai suaminya. Perempuan yang rela hidup sengsara bersama suaminya di kala perang berkecambuk dimana-mana.

Kisah antara Letkol Mochamad Sroedji dengan Letkol dr. RM Soebandi mungkin dapat dijadikan salah satu bukti nyata sejarah dimana persahabatan memang ada yang sejati. Saling menopang, saling menguatkan di masa-masa sulit dalam perjuangan. Secara tersirat sebenarnya ini adalah pesan yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca masa kini. Dimana era individualistik merebak sejalan perkembangan teknologi. Banyak yang lupa hakikat manusia yang sebenarnya karena terlalu dimanja oleh keringanan yang ditawarkan teknologi. Semata, bukankah manusia makhluk sosial yang tak akan bisa hidup tanpa bantuan sesamanya? Di lain sisi, hal ini juga berhubungan dengan tidak baiknya penghianatan. Jikalau persahabatan adalah kesetiaan, maka tak lain penghianatan adalah kebalikannya.

Novel yang unik dan bernuansa sastra. Banyak novel yang selalu menyelipkan potongan kata puitis tapi jarang ditemukan yang menyisipkan puisi utuh di dalamnya. Memang tepat jika Sang Patriot disisipkan puisi di dalamnya. Novel ini adalah novel sejarah dan hal itu identik dengan puisi karena banyak kalangan yang menghargai dan mengabadikannya jerih payah perjuangan dalam puisi. 

Kenanglah aku secara sederhana saja,
jasaku tak seberapa dibanding rakyat yang sengsara
yang rela berkorban harta benda
tanpa pangkat maupun tanda jasa

cukup kalian kenang cintaku yang besar pada negara
setia pada janji suci untuk tetap merdeka
sejukkanlah pusaraku cukup dengan doa
doa tulus untuk kami para syuhada

(potongan puisi Sajak Sang Pejuang - Irma Devita)


KEKURANGAN

Narasi dan Dialog Tidak Seimbang
Mungkin ini adalah salah satu argumen yang bisa didapatkan dalam novel ini. Narasi dan dialog tidak berimbang. Hal inilah yang kemungkinan besar menyebabkan plot pada awal cerita (bab-bab awal) terasa tidak kuat. Kekuatan emosi dari pembaca yang seharusnya tergugah akibat jalan cerita menjadi tak keluar. Kesan yang timbul, pembaca merasa lelah karena komposisi dialog yang seharusnya membangkitkan nuansa perasaan sangatlah kurang. Kehadiran dialog yang seharusnya mampu mengaduk-aduk emosi pembaca seakan ditarik oleh narasi. Alhasil, tidak bisa. Kehadiran dialog sangat penting untuk memberi "kehidupan" dalam sebuah novel.

Kombinasi narasi dan dialog mulai terlihat nampak pada tengah novel. Saat konflik-konflik mulai dibangun, nuansa sedih, mencekam, haru, takut sampai penasaran barulah terasa nyata. Hal itu serta merta membuat alur terasa nyata dan mengalir. Ppembaca barulah merasakan seperti apa persitegangan dengan penjajah, operasi gerilya, sampai penyiksaan pejuang dan rakyat jelata.

Bahasa dan Footnote
Sebagai novel yang berkisah pada zaman penjajahan Belanda, otomatis banyak istilah dan penggunaan bahasa diluar bahasa Indonesia seperti bahasa Jawa dan istilah-istilah pada zaman penjajahan. Sayangnya penulis luput untuk menyertakan catatan kaki untuk beberapa istilah-istilah maupun bahasa yang tidak dimengerti artinya. Memang di dalam novel ini disertakan daftar istilah pada bagian akhir, tetapi bagi sebagian pembaca itu terkesan merepotkan jika harus melihat ke bagian akhir kemudian meneruskan bacaannya (bolak-balik).

Emosi yang Agak Kurang
Kemampuan penulis dalam mendeskripsikan setting, dalam hal ini suasana dan tempat, terbilang sangat apik. Nilai informatif bahkan waktu kejadian sangat jelas. Tetapi, pada beberapa bagian emosi dari karakter-karakter tokoh masih kurang dieksplorasi. Hal itu terlihat dari penggambaran ekspresi sikap (perbuatan) dan wajah (mimik) yang terlihat kurang. Sebagai contoh perasaan Rukmini yang kemudian teringat dengan cita-citanya dahulu ketika ia telah bersuami Soerdji. Jikalau penulis menambahkan dialog dan penggambaran ekspresi pada bagian ini, maka terlihat jelaslah ekspresi kesedihan dan konflik batin yang didera oleh Rukmini.


***

Bumi Manusia dan Sang Patriot (dok. pribadi)

Sang Patriot, sebagai novel yang berbicara tentang sejarah, pastinya membuat banyak dari pembaca (yang menyukai roman sejarah) langsung tergugah untuk mengaitkannya dengan karya Pramoedya Ananta Toer. Sebut saja salah satu maha karya Pram yaitu Bumi Manusia (Tetralogi Pulau Buru). Walaupun sama-sama dikatakan novel/roman yang mengulas sejarah (pada masa itu), ada beberapa perbedaan mendasar dari kedua tubuh tulisan itu. Hal pertama yang sangat terlihat adalah perbedaan "masa" dari kedua penulis tersebut yang sangat memberikan dampak besar pada goresan penanya. Hal lainnya juga, Irma Devita cenderung lugas dan mengedepankan detail "benar" dari sejarah dalam tulisannya. Ini bisa ditemukan dari penggunaan tanggal dan tempat yang jelas (rekam sejarah) dan nama-nama para tokoh dalam cerita. Berbeda dengan Pram yang tidak terlalu objektif. Pram memasukkan sejarah dalam fiksi kemudian menyajikan ulang (dengan tubuh berbeda) tanpa menghilangkan nilai dari sejarah itu sendiri. Mungkin, Irma Devita memiliki kecenderungan pengungkapan jujur sejarah yang kurang lebih berasal dari background pendidikannya sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia hukum.


Terlepas dari segala kelebihan dan kekurangan, novel ini sangat patut mendapatkan tempat di rak buku pribadi anda. Kesederhanaan dalam goresan pena Irma Devita dapat membuat para pembaca mendalami kisah sejarah yang dituturkan. Tak hanya sekadar menyaksikan rekaman sejarah tapi jauh memaknai setiap keputusan-keputusan masing pejuang dalam mempertaruhkan nyawa mereka. Irma Devita terbilang berhasil menghadirkan Sang Patriot kembali dalam era yang terbilang lupa akan nilai nasionalisme akibat terlalu tenggelam dalam liberalisme dan egoisme. Sang Patriot ialah sumbangan yang berisi bagi masa kini.
3,5 of 5 star for Sang Patriot.




Read full post »

Minggu, 13 April 2014

Surat, Rinduku Bercerita. Sebuah Cerita yang Sebenarnya (3)

0 komentar
Dear Ziy,

Sebenarnya aku tidak tahu dimana keterkaitan antara kamu dan dirinya. Kamu seorang sahabat yang hanya ingin bersajak ria, dia adalah rahim dari sajak-sajakku. Dia sosok inspirasiku. Maklumilah ketidakjelasan hubungan ini, sahabat. Sesungguhnya aku hanya sedang sakit, pusing dan egois sendiri. Bukankah kamu tahu bahwa cinta diam-diam selalu mencari-cari pembenaran?

Kamu tahu, apa yang dikenakannya ialah bait puisi yang sengaja menunggu untuk aku tuliskan. Suatu ketika, aku sengaja menghadiri sebuah kegiatan organisasi di kampus. Tepat satu minggu setelah aku yakin bahwa dia adalah sosok yang sangat pantas untuk dicintai. Aku mendapatinya mengenakan kerudung merah. Ia duduk di depan, aku duduk di belakang. Dan ketika kegiatan usai, aku berpapasan dengannya, tapi hanya ada diam di antara kita. "Tatapku hanya bisa menyapu pundak dan kudungmu. Sendu. Kidungku tak mampu merengkuhmu".

Ziy, kebodohanku ini telah mengikis tubuhku. Aku kering kerontang. wajahku pun tirus. Kini aku telah sampai pada tahap tak bisa berpikir apa-apa. Aku yang tadinya bisa berangan pada kisah indah dengan dirinya, sekarang aku bahkan tak bisa membayangkan apa-apa lagi. Kini aku tak bisa lagi menerka-nerka lagi. Kini aku tak bisa membedakan lagi, mana imaji mana kenyataan.

Aku mengirimkannya rangkaian bunga sajak. Puisi-puisi yang aku buat dari dirinya. Dari pashmina yang dikenakannya, dari langkahnya yang mengabur di tanah, bahkan dari sapaan pertama yang masih aku ingat bagaimana merdunya. Tetapi, apa yang aku dapat? Langkahnya menjauh. Senyumnya hilang, tawanya pudar. Ia menghindariku. Tak ingin berada di dekatku bahkan untuk sekadar berbasa basi walau sebagai teman.

Aku mencintainya, tapi tak berani mengungkapkan. Dan ketika ia mulai menganggap semua telah baik-baik saja, aku memulai ritual itu kembali. Menebak-nebak hati. Dan disinilah aku kembali. Menagisi dan meratapi diri sendiri.

Ziy, tolonglah aku.

Dialah perempuan yang bernama perempuan. Perempuan pertama yang dicintai orang tuanya. Dan juga perempuan pertama yang begitu aku cintai sedemikian dalam ini. Perempuan yang membisik pada awan bahwa semesta punya sajak-sajak kerinduan. Sebuah bisikan yang hanya aku dengar, seorang diri.

Salam hangat,
Nurman

Read full post »

Surat, Rinduku Bercerita. Sebuah Cerita yang Sebenarnya (2)

0 komentar
Dear Ziy,

Izinkan aku bercerita sebentar. Kamu tahu apa yang selalu dirahasiakan dari rindu diam-diam? Senyum yang lahir dari kesendirian, senyum yang lahir dari imajinasi, dan senyum yang lahir malu, mungkin itu sebagian dari mereka. Berbagi ruang dengan tatap dibalik pundak kegelapan, sapaan canggung, serta sendu dan bahagia yang tiba-tiba menjadi teman, mereka mungkin hidup akur. Hidup dalam dua dimensi dari cinta yang berbeda. Cinta yang begitu pengecut, bagiku.

Ziy, aku telah jatuh cinta. Jatuh cinta pada seorang perempuan yang merahimkan puisi dan sajak-sajak sederhanaku kemudian melahirkannya. Jatuh cinta pada perempuan yang merawat kesahajaan layaknya merawat anaknya sendiri dengan begitu sayang, menyusui begitu mereka menangis, menimang dan menyanyikan lagu kesukaan agar mereka tenang. Aku jatuh cinta padanya. Jatuh cinta yang begitu indah tetapi secara bersamaan begitu menyakitkan.

Sudah hampir tiga tahun aku mengamatinya. Mengamati tiap jejak-jejak langkahnya, mengamati tingkahnya, dan mengamati kehidupan di sekitar dirinya. Aku tertawa jika ia tertawa. Aku tersenyum jika ia tersenyum. Hanya saja aku tidak melakukan semua itu dengannya, di sebelah sisi kirinya.

Ziy, aku terjebak dalam kebodohan yang aku buat sendiri. Terhimpit dalam labirin yang aku rangkai dan berdiam diri untuk sengaja tidak keluar dari sana. Pikirku, menyimpan cinta sebagai rahasia adalah hal yang mulia. Tapi kamu tahu Ziy? Aku bukanlah salah satu manusia yang mampu memuliakan diriku sendiri. Aku belum mampu.

Kadang kepalaku terasa sakit sekali, sesekali aku hampir muntah. Aku merasa tak sanggup menerima kenyataan yang lebih tepatnya kuanggap sebagai semesta angan. Melihatnya tersenyum tapi tak bisa menciptakan senyumnya. Melihatnya tertawa tapi tak bisa membuatnya tertawa.

Hingga sampai ketika aku memutuskan, aku tak bisa hidup dengan penderitaan seperti ini. Maka dari itu aku merapikan diri. Menyimpan memori-memori tersebut dalam sebuah kotak kayu. Menatanya sebaik mungkin agar rindu-rindu yang tak pernah usai itu tak akan rusak dimakan tanah dan masa. Biarlah mereka hidup sebagai kenangan, lalu hancur dengan cinta yang ada di dalamnya, dengan sendirinya.

Akan tetapi, ketika aku bertemu denganmu, kotak yang sengaja kukubur itu mencuat kembali. Membuka dengan sendirinya. Mengeluarkan wangi yang selalu aku ingat, wangi yang aku namai sebagai rindu terpendam. Rindu yang mengatasnamakan dirinya sebagai rindu bahkan sebelum mencinta. Kamu tahu, manakah yang benar adanya dari sebuah kehadiran rasa, rindu atau cinta?

Kamu mengingatkanku pada dirinya. Bukan karena aksara-aksara yang sama. Bukan pula karena suguhan-suguhan secangkir rasa manja dalam tiap sesapan coklat yang kamu sajikan. Tetapi karena kalian seakan sama seperti selembar kertas dan pena. Dua teman yang selalu aku gunakan untuk menggoreskan rindu-rindu yang telah tumbuh subur ini.

Ziy, aku begitu bodoh kan?

Salam hangat
Nurman

Read full post »

Sabtu, 12 April 2014

Surat, Rinduku Bercerita. Sebuah Cerita yang Sebenarnya (1)

0 komentar
Dear, Ziy

Maaf aku tak bisa menepati janji. Tak bisa secepat mungkin membuat merpati balasan dari merpatimu yang datang di jendelaku. Tak bisa jua merangkai bunga rindu dari sajak-sajak yang saling mencinta, yang digoreskan tinta kita. Tak pernahkah kalau kamu berpikir bahwa kiranya kita adalah sepasang gelombang di lautan, mengombak bersama namun tak pernah sampai ke tepian?

Puan, kamu adalah sahabat yang paling aku sayang. Sedemikian sayang dan sedemikian dalam, sampai suatu ketika aku tak bisa terlepas darimu. Aku erat dipeluk kata-katamu dalam sebuah mahligai yang aku tak tahu apa. Di sana, aku menikmati semua sajian rindu dan senja kesukaanku hingga aku membuat keputusan yang aku tak pernah sangka. Aku tak ingin pergi dari sana.

Ziy, kamu telah salah sangka menilaiku. Aku sangat senang bermain makna, bermetafora, bahkan bercinta dengan aksara-aksara sucimu. Hanya saja semakin aku menikmati semua itu aku semakin letih. Aku semakin sakit. Sangat sakit, disini. Di hati.

Sesungguhnya itu semua bukan salahmu. Ini adalah kesalahan aku, murni kesalahan hatiku. Maka biarkan aku menyeka kesedihan dari raut wajahmu yang cantik itu. Izinkanlah aku untuk merapikan kembali satu per satu pesona yang selalu ditawarkan bulu matamu. Dan izinkanlah aku menulis ulang puisi dan prosa di bibir merah mudamu itu.

Jika kamu menilai bahwa kitalah makna dari sajak "Kau dan aku, sungguh sapaan itu begitu bisu" maka kamu telah salah memberi arti. Dengarkanlah cerita di balik semua kesalahpahaman ini. Ini semua tentang rindu yang begitu dalam, rindu yang begitu legam, rindu diam-diam.

Salam hangat,
Nurman

Read full post »

Jumat, 04 April 2014

Surat Kedua: Muramku Kebodohanku

0 komentar
Dear Ziy,

Terima kasih atas segala bentuk kepedulian dan perhatian yang selalu kamu curahkan tulus padaku. Aku sangat bersyukur memiliki sosok-sosok hangat seperti kamu. Sosok yang kerap menjengkal tiap kata dan tanda baca untuk sekadar mencari segaris lengkung pelangi di bibir para penyimpan perasaan. Sosok perempuan lembut yang tak segan berbagi kasih sayang walau hanya dengan segelintir senyuman maupun sebaris tulisan. Kamu tahu, semua yang kamu berikan padaku itu tak mungkin aku bisa balas dengan takaran yang sama bukan?

Ziy, aku ingin minta maaf. Aku ingin minta maaf atas segala kesalahan yang aku perbuat padamu. Atas keterlambatanku membalas suratmu, atas ketidaksetiaanku mengikat makna dari sajak-sajak sederhana kita, atas keacuhanku pada sapa-sapa sayangmu dan atas pesan-pesan rahasia kita yang kadang aku simpan tanpa kubaca satu per satu. Maafkan aku yang terlampau hina ini. Jujur, sesungguhnya aku tak mau seperti itu, sungguh tak mau. Maafkan aku, dibalik segala sikap dan keadaan yang tercipta di antara kita sesungguhnya ada alasan. Kamu percaya bukan?

Aku sedang jatuh sakit, Ziy. Sakit akibat kebodohanku telah memilih sepi dan sunyi sebagai teman hati. Sakit akibat kebodohanku terlalu lama mendekam dalam kubangan beku kebisuan tanpa bisa berani bergerak dari sana. Tubuhku sehat, tapi aku membatu kaku. Aku terlalu pengecut, Ziy. Terlalu bodoh memilih bahwa diam adalah jawaban atas semua perasaan. Dan inilah hasilnya, aku sakit, begitu sakit. Sakit yang mendorongku hingga jatuh begitu dalam, gelap dan tenggelam. Sakit yang memaksaku merengkuh dada pelan-pelan hingga terpejam.

Itulah salah satu dari rahasia keadaan. Aku butuh waktu untuk berdamai dengan diri dan hati. Maka, maafkanlah aku Ziy. Karena keadaanku yang seperti ini, aku terlambat membalas surat darimu. Itulah juga sebabnya beberapa waktu ini aku telah kehilangan kata-kata, tak bisa membalas untaian metafora yang sengaja kamu taburkan. Sajak-sajakku telah mati, bersama hilangnya sosok inspirasi.

Akhir kata, terima kasih atas suratmu. Paragraf-paragraf itu sangat jujur membaca rasaku.

Salam hangat,
Nurman

Read full post »

Kamis, 27 Maret 2014

Surat Pertama

5 komentar
Dear Ziy,

Bagaimana kabarmu disana? Masih di Bandung kan? Semoga baik-baik saja ya :)

Sepertinya sudah lama aku tak pernah membuatkanmu sebuah tulisan. Atau hanya sekadar mengirimkan salam sapa yang terangkai menjadi sebuah paragraf, dua, tiga maupun sampai satu halaman. Iya, sudah agak lama, semenjak "pertemuan" pertama kita. Maafkan aku ya *pasang senyum paling manis* :D. Oh ya, aku baru saja membaca postingan terbaru di blogmu yang judulnya Tentang Menunggu. Hehehe, seperti biasa tulisanmu yang sering aku baca (diam-diam) terasa begitu jujur, apa adanya. Lagi kesel ya sampai buat tulisan seperti itu? :)

Pertama kali lihat judulnya, aku langsung berpikir tentang rindu. Hehe, maaf ya, maklumi sisi melankolisku yang kadang terlalu berlebih ini. Sejenak aku mengira bahwa kamu sedang rindu pada seseorang yang kamu hadiahi dengan tulisan itu. Ternyata, tebakanku salah. Aku kalah taruhan deh #eh

Oh ya, melihat postinganmu itu aku jadi ingin bercerita sejenak. Kalau boleh, izinkan aku menanggapinya sedikit yah? Boleh kan? Ziya baek deh :) hehehe.

Sama sepertimu, menunggu bagiku adalah salah satu dari sekian banyak hal yang aku nilai terlampau sulit untuk dilakukan seorang diri. Bagiku, menunggu adalah salah satu akar dari kesabaran. Menunggu, bagiku, juga tentang rindu yang berharap pada doa untuk segera bertemu. Menunggu, bagiku, juga tentang kesetiaan dan komitmen. Kesetiaan ini adalah tentang bagaimana usaha untuk memegang teguh sebuah janji. Iya, janji yang seketika diucapkan itu melibatkan lidah, hidung, mata, seluruh kehidupan yang ada di dirinya maupun kehidupan yang ada di sekitar janji itu menjadi sosok-sosok saksi. Maka dari itu, bagiku menunggu juga memiliki sisi kesetiaan. Kesetiaan untuk menepati janji, dan komitmen untuk tidak mengingkari. Tentang seseorang datang dan menunggu, tentang seseorang menunggu dan tidak pergi.

Tapi Ziy, kamu tahukan bahwa aku dan kamu ialah salah satu dari sosok-sosok yang tak sempurna? Iya, kita manusia biasa. Makhluk yang selalu diliputi lupa atau dosa. Mungkin saja, temanmu itu ingin sekali bertemu denganmu. Ingin sekali berkelakar denganmu ditemani secangkir kopi hangat. Sekarang ini, Ia mungkin juga merasa menyesal yang sama ketika dirinya tak bisa menepati janji yang dibuatnya. Mungkin saja dirinya sudah berusaha keras untuk menepati janjinya itu, mungkin karena itulah pernyataan menyesalnya datang sedemikian terlambat. Oleh karenanya, berikan dirinya satu kesempatan lagi padanya. Bukankah kalau kamu tak memberinya kesempatan, berkuranglah teman yang sedemikian dekat denganmu?

Maafkan aku Ziy, aku bukan ingin mengguruimu. Aku hanya ingin menghiburmu. Aku tahu bahwa kamu paling suka dengan hal yang lucu, bukankah begitu? (aku sok tau yah? :D). Bicara menyesal, kadang aku termasuk orang yang sama yang kamu sebutkan dalam tulisanmu itu. Bukan karena tak mau, tapi memang karena tak bisa. Aku terlampau bahagia ketika aku diajak keluar oleh beberapa orang teman. Spontan aku mengiyakannya. Tapi kadang apa yang aku harapkan tak menjadi kenyataan. Aku membatalkannya bahkan saat tinggal akulah terakhir yang sedang ditunggu.

Oleh karena itu, berbaik hatilah Ziy. Sebaik perlakuan dirimu kepadaku selama ini. Jika kamu tak bisa memberikan kesempatan sekali lagi kepadanya, apakah kamu juga tidak akan memberikan kesempatan yang sama kepadaku jika akulah yang membatalkan temu itu?


Salam hangat,
Nurman

Read full post »

Sabtu, 22 Februari 2014

Pergelangan Tangan Kirimu

7 komentar
Mendapatimu kemarin seperti sapa embun pada dedaun
lembut pada mata, kala binar membangunkan kelopaknya
begitu sejuk, begitu tenang
walau sebentar dan kemudian menghilang

Hijau yang menyelimutimu membisik di telinga
berkisah ihwal kenangan dan angan
menelusup dan berputar-putar di kepala
aku tersenyum tak bisa melupakannya

Puan, aku ingin bersaksi padamu
tentang rahasia yang terpendam pada kubangan yang kubuat sendiri
yang terjebak kata-kata bisu
dan tersimpan menjadi usang dan berdebu

Bahwa aku memotret tiap senyummu
membingkai baik-baik segala keceriaanmu
lalu menjadikannya satu pada sebuah album
yang kusimpan hati-hati dalam kalbu

Aku terlampau lupa sejak kapan
hingga hijau dirimu kemarin menyadarkanku
pada detik-detik pertama di pergelangan tangan kirimu
aku memulai semuanya itu

Makassar, 2014

Read full post »

Kamis, 20 Februari 2014

Sebuah Sajak Malam

0 komentar
Credits

Kepada malam yang senantiasa menenangkan
kutitipkan sekotak kerinduan
berharap dirinya menjelma sosok sang penyayang
pemberi ciuman pada kelopak mata
ketika dirimu kembali terjaga

Makassar, 2014

Read full post »

Kamu, Malam, Rembulan

0 komentar
Malam ialah simfoni kerinduan
petikan-petikan gitar yang kadang tertahan kemudian mengalun pelan
buaian para perempuan pecinta sosok pulang
yang menunggu maupun ditawan, oleh rembulan

Ialah kamu binar di tengah temaram
pemberi suci, hidup di sebuah nadi
keistimewaan yang utuh, menyempurnakan
mengapa tak berbeda antara dirimu dan rembulan di tengah malam?

Tak sampai akal berpikir dua
begitu pula bintang yang mengaduh
ketika dirinya terlihat gelap di sisimu
sebab terlalu indah untuk sepasang mata

Semoga malam tetaplah malam
dimana engkau bersinar terang
penyandang sajak-sajak kerinduan

Makassar, 2014

Read full post »
 

Copyright © Garis Satu Kata Design by Free CSS Templates | Blogger Theme by BTDesigner | Powered by Blogger