Selasa, 10 Desember 2013

Cinta dalam Kesedihan

0 komentar
Dalam sembab mata membendung buliran
Aku mencintaimu

Dalam isak tahan yang berburu hisap nafas
Aku mencintaimu

Dalam sedu memeluk rapuh dada
Aku mencintaimu

Aku mencintaimu
Perempuan berhijab hitam
Sesederhana aku menikmati sebuah kesedihan
Berkabung, merasa siksa batin

Aku mencintaimu

Makassar, 2013

Read full post »

Senin, 09 Desember 2013

Malu

0 komentar

Ialah aku penunggu di balik pintu. Perindu yang kerap malu.

Makassar, 2013.
Read full post »

Rabu, 04 Desember 2013

Semesta Malam Berbahagia

0 komentar
( 3 Desember )

Di ujung usianya
Malam berbahagia
Ia beri tenang di tengah temaram
Kelambu sutera penjaga mimpi

Di ujung hadirnya
Rembulan berbahagia
Ia beri bentuk terindahnya pada mata
Lampu terakhir sebelum pejam

Di ujung pijarnya
Bintang berbahagia
Ia beri kilau secantik berlian
Perhiasan-perhiasan malam perempuan

Di penghujung hidupnya
Semesta malam berbahagia
Melepas segala yang mereka punya
Sekedar santun, selagi mengantar nyawa

Tak ada tangis yang bermuara
Hanya indah yang terlihat mata, malam bahagia adanya
Perihal kedatangan manusia
Perempuan suci, pemilik dekap paling setia

Selamat berbahagia
Sebuah doa penutup malam
Sebuah harap pembuka fajar
Kupanjatkan, berkalung tulus paling khidmat

Selamat ulang tahun, kamu

Makassar, 2013

Read full post »

Senin, 02 Desember 2013

Sepucuk Surat untuk Kamu

0 komentar




Dear D...

Aku ingin membuat sebuah pengakuan. Pengakuan yang mungkin tiada artinya dalam hidupmu, namun mengambil makna dari sebagian hidupku. Pengakuan yang serupa daun pagi yang terhempas setengah sisinya. Seperti tak seimbang, karena tak seluruhnya sama, karena tak dua-duanya mungkin merasa.

Aku ingin memulainya dari sebuah pertemuan. Pertemuan, kala mataku membingkaimu dalam tatapan. Tatap itu terjadi kira-kira dua tahun silam. Memang, sudah lama. Aku melihatmu dari sebuah foto. Foto formal sederhana berukuran 3x4. Yang tampak hanya potongan setengah dirimu. Dengan kerudung hitam dan baju berwarna biru tua, kamu tampil begitu sederhana. Kuperhatikan lekat parasmu, meski tak cukup jelas. Garis wajah yang teduh, tak menampakkan sikap angkuh sekilas kutemukan di sana. Aku tersenyum tipis. Hatiku menggumam kala itu. "Seperti apa orangnya yah?"

Mataku kemudian mulai menyapa dalam tatap nyata. Temu yang sebenar-benarnya temu. Aku melihatmu secara langsung. Tanpa tirai, tanpa sekat, tanpa halang bayangan. Sosok perempuan berkerudung hitam, berkulit sawo matang namun cenderung putih dan bersih. Kupandangi beberapa lama, kubiarkan anganku beranak asa dalam semesta pikir. "Sama, masih tetap sama. Seperti di foto" batinku. Baju biru tua dan rok panjang hitam membuatmu terlihat apa adanya. Tak ada senyum maupun tawa, hanya diam yang bersandar di wajah. Lekat, kutatap rapat bersela jauh jarak. Kala itu aku mendekap doa dalam hati, "Semoga aku bisa mengenalnya nanti.".

Setahun berjalan, sesap, aku mencuri pandang di balik pundak teman. Sekedar melepas rindu akan rasa yang tak pernah dimengerti. Ini candu. Hingga akhirnya doaku terjamah. Sapa memperkenalkan kita. Waktu itu kita sedang rapat, entah tentang apa. Jam dinding menunjukkan pukul lima sore. Dalam ruang yang cukup luas itu namun sesak karena penuh nyawa, kamu berdiri, melangkah menuju pintu. Entah karena apa, lisanku berkata.

"Mau kemana? Kok cepet banget pulang?" tanyaku dengan nada melarang tapi diselingi senyum jua. 
"Iya kak, datang jemputanku." jawabmu dengan senyum kikuk. 
"Emangnya siapa yang jemput? Rapat belum selesai nih." tahanku.
"Ada bapakku kak." jawabmu, senyummu sopan.
Sejenak aku berpikir. "Oooo." sahutku dengan wajah serius.
"Kalau begitu salam buat bapak yah." ledekku. Kuselipkan senyum padamu. Kamu tersenyum. Sedikit tergesa kamu pakai sepatu flat itu. Sedikit berlari, lalu berlalu. Senyummu belum hilang.

Semenjak itu aku jarang bersapa denganmu. Mungkin karena kesibukan kuliah dan praktek yang membuat lupa atau sekedar suratan yang belum menyatakan kesempatan. Tetapi aku tetap bersyukur. Walau tanpa sapa, aku tetap senang saat menemukanmu tersenyum di tengah teman-temanmu. Senang menemukanmu, saat kamu tertawa oleh celoteh lelucon sahabatmu. Senang menemukanmu, saat seolah berbisik dengan para perempuan di sampingmu.

Hingga tanggal 31 Agustus 2013 semua jelas begini adanya. Barulah aku sadar, aku tak hanya sekedar kagum padamu. Lagi, takdir mempertemukan kita dalam sebuah acara halal bi halal. Malam itu, mataku malu. Kamu cantik sekali. Lebih cantik dari yang tercantik. Meski dalam bisu, aku merasa bahagia. Seakan memberi makan rindu yang tengah kelaparan, aku tak bisa berhenti melihatmu. Tepat di belakangmu, dua kursi ke kanan, aku disana membunuh rindu, sendiri. Menggila sendiri, tak bisa ditahan. Kupinjam android temanku, kutuliskan perasaanku lewat akun twitterku.


D...

Aku menyukai kesederhanaanmu, kala dulu. Namun kini, aku mencintai keanggunanmu. Entah mengapa berganti. Mungkin karena mereka sebenarnya sama, kamu. Kini, bermacam warna kerudung menghiasi parasmu. Tak jarang juga aneka warna pasmina memperindah mahkotamu. Kamu tampak lebih dewasa dan memukau. Pesonamu, aku tenggelam di sana dalam-dalam.

Lewat surat ini aku ingin mengaku bahwa aku telah jatuh hati padamu. Hatiku telah tertambat di setiap bayangan senyummu, di setiap jejak langkah kepergianmu yang sering kuperhatikan. Karena itu izinkanlah aku berterima kasih. Kehadiranmu sungguh bermakna dalam hidupku. Walau hanya berteman diam, bersanding sepi, tanpa aksara maupun kata yang terucap, aku tetap memuji Sang Ilahi, bersyukur.

Kamu telah membuatku membuka mata. Membangunkanku dari tidur lama yang kerap buta rasa dan dunia. Kehadiranmu sekali lagi membuatku menikmati indah kata sakral cinta. Membuatku kembali tahu bagaimana merasa rindu bahkan sebelum mencinta. Membuatku kembali sadar arti cinta yang sebenarnya, pembeda antara makna rasa dengan nafsu belaka.

Terima kasih D...
Aku mencintaimu.


Salam rindu yang paling hangat,
Dari yang diam-diam mencintaimu.

Read full post »

Minggu, 01 Desember 2013

Resensi - 12 Menit

0 komentar

Judul : 12 Menit
Penulis : Oka Aurora
Penerbit : Noura Books
Terbit : Mei 2013
Halaman : 348 hlm
ISBN : 978-602-7816-33-6

SINOPSIS 

Elaine, sang pemain biola, yakin bahwa musik adalah segala-galanya. Namun ayahnya menentang, menganggapnya sia-sia.

Tara, berusaha menguasai nada-nada snare drum meski memiliki keterbatasan pendengaran. 
Tetapi luka masa lalunya terus menghantui.

Lahang, di tengah deritanya, berusaha memenuhi janji pada sang ayah. 
Namun dilema membuatnya ragu melangkah.

Rene bermimpi membawa mereka, tim marching band yang dilatihnya, menjadi juara.
Meskipun mereka hanya datang dari sebuah kota di pelosok negeri. 
Meskipun orang lain menganggap itu mustahil.

Mereka berlatih ribuan jam hanya demi 12 menit penentuan. Mereka bertekad membuktikan pada dunia. Bahwa mimpi harus kau percayai agar terwujud. Dreaming is believing. Dan bersama-sama mereka akan menyerukan, Vincero!

*****

Terkadang kita sebagai manusia perlu sejenak berpikir bahwa memang hidup itu adalah sebuah perjuangan. Perjuangan akan mimpi dan tujuan. Namun, beberapa manusia banyak yang lupa dengan hal itu. Sebagian dari mereka terkadang berhenti di tengah jalan. Sebagian berhenti bahkan sesaat kemenangan sebenarnya ada di depan mata. Dan, sebagian berhenti memperjuangkan hidup dan mimpi bahkan sebelum memulainya. Miris, namun itulah kenyataan. Tetapi, pernahkah kita berpikir untuk apa kita memperjuangkan hidup dan mimpi? Untuk siapa? Apakah kita punya alasan untuk memperjuangkan itu semua?

"Dalam dua belas minggu ke depan, kita akan habiskan ratusan jam, siang, dan malam, demi dua belas menit. Dua belas menit di Istora nanti." ..."Dua belas menit ini yang akan menentukan apakah kita akan juara. Dua belas menit ini yang menentukan apa yang akan kita kenang seumur hidup." (hlm. 83)

12 Menit menceritakan tentang perjuangan keras Marching Band Bontang Pupuk Kaltim demi meraih kemenangan dalam ajang Nasional Grand Prix Marching Band (GPMB). Sebuah perjuangan yang sangat besar dimana seluruh latihan selama ratusan bahkan ribuan jam dipertaruhkan hanya dua belas menit penampilan. Tak disangka, banyak pengorbanan, tetes keringat, peluh, resah, masalah, bahkan air mata demi dua belas menit yang akan mengubah segalanya. Oka Aurora menggambarkan secara memukau namun sederhana bagaimana kerja keras itu berusaha menggapai impiannya.

Rene, seorang mantan pemain Marching Band Phantom Regiment yang memiliki kemampuan dan pengalaman skala internasional. Bukan hanya sebutan, kemampuannya nyata dan diakui setelah kepulangannya dari Amerika, ia langsung membawa sebuah marching band di Jakarta menjadi juara GPMB selama tiga tahun berturut-turut. Kemampuan luar biasa ini membuat sebuah perusahaan besar meminta dirinya untuk melatih Marching Band Bontang Pupuk Kaltim.

Bagi diri Rene, melatih sebuah marching band sudah menjadi layaknya rutinitas biasa baginya. Namun, saat ia bertemu dengan anak-anak Bontang, ia terhenyak. Ia berpikir bahwa masalah terbesar mengajari anak-anak Bontang bukan terletak pada kemampuan teknik bermain musik, tapi terletak pada kepercayaan diri, mental mereka. Rene sempat ragu pada dirinya. Rene merasa anak-anak ini punya potensi yang sama dengan anak-anak Jakarta, bahkan mungkin lebih. Namun, anak-anak Bontang tidak sadar akan hal itu. Anak-anak itu selalu merasa tidak percaya diri, merasa "kecil" karena berasal dari kota kecil.

Masalah yang dihadapi Rene, tidak sampai disitu. Selain memperbaiki teknik bermain marching band dan memberikan motivasi bahwa siapa saja bisa jadi juara, ia dihadapkan juga pada berbagai masalah. Mulai dari kehilangan anggota tim inti sampai masalah pribadi anggotanya yang membuatnya mau tak mau ikut terlibat di dalamnya. Hal ini dilakukannya semata-mata demi membawa mereka menjadi juara.

Tara, remaja berkerudung yang sangat menyukai musik terutama bermain drum. Sejak kecil ia banyak memperoleh prestasi dari kesukaannya itu. Tetapi, semua berubah sejak kecelakaan yang menewaskan ayahnya. Ia trauma. Tara merasa bahwa ia yang menyebabkan kecelakaan tersebut. Akibat kecelakaan itu kemampuan mendengarnya berkurang, tinggal sekitar sepuluh persen saja. Akibat kecelakaan itu pula ia kehilangan kepercayaan diri, kehilangan kemampuan bermain drumnya. Kepergian ibunya ke luar negeri untuk kuliah juga memperberat bebannya. Satu-satunya yang diharap sebagai tempat bergantung dari mimpi buruknya hilang. Opa dan oma-nya lah yang senantiasa setia menghibur Tara. Ketika bersekolah kembali, ia mengenal Marching Band Bontang Pupuk Kaltim. Semangatnya kembali, tetapi kenangan masa lalunya masih menghantui. Didikan keras dari Rene, sempat membuat Tara goyah. Ia hampir menyerah.

Elaine, remaja berdarah Indonesia-Jepang ini terlahir dengan kejaiban. Cantik, pintar, berprestasi, dan berkemampuan musik yang tinggi. Elaine sangat mencintai musik dan itu adalah segala-galanya bagi dirinya. Namun, ayahnya tak mendukung bakatnya. Ayahnya, Josuke, menginginkan Elaine menjadi ilmuwan. Josuke berpikir bahwa musik hanyalah hura-hura. Dilema terjadi saat Elaine terpilih menjadi field commander. Josuke melarang keras Elaine ikut marching band lagi, terlebih saat Elaine membatalkan mengikuti Olimpiade Fisika demi GPMB.

Lahang, anak seorang pemuka suku Dayak yang hidup serba kekurangan. Meski hidup dengan serba kekurangan, tak pernah mengurangi semangatnya dalam latihan marching band. Hal itu terlihat dari gigihnya menempuh perjalanan yang jauh dan penuh bahaya, masuk hutan, demi mengikuti latihan tiga kali seminggu di stadion. Karena ia memiliki tujuan melihat Monas sebagai pencapaian mimpinya dan juga sekaligus mimpi almarhum ibunya. Tetapi, Lahang ragu ketika ayahnya jatuh sakit. Ia dilema. Di satu sisi ia tak ingin meninggalkan ayahnya yang sakit, ia tak ingin melepas kepergian ayahnya tanpa ada di sisi beliau. Di lain sisi ia juga bimbang terhadap janjinya pada ayahnya untuk terus hidup dan menggapai mimpinya.

12 Menit merupakan cerita yang luar biasa. Novel ini patut diberikan acungan jempol. Plot cerita dibangun dengan kuat dan rapi. Alur cerita adalah alur maju mundur, tetapi berhasil disajikan oleh penulis sehingga terkesan mengalir. Hal ini membuat pembaca merasa penasaran untuk terus membaca dari satu halaman ke halaman selanjutnya. Pemakaian diksi yang tepat dan sederhana benar-benar mengimbangi tata bahasa dalam novel yang banyak menyinggung istilah-istilah marching band ini.

Dari segi cover, novel ini cukup menarik. Paduan warna biru yang dominan, gambar sebuah lemari kayu dan tulisan "12 MENIT" cukup membuat para penikmat novel pastinya bertanya-tanya tentang kisah yang ada di dalamnya. Jika saya tidak membaca endorsement dan sinopsisnya mungkin saya tidak tahu jika novel ini termasuk kategori novel inspirasi. Huruf yang dipakai dalam novel ini juga baik, sangat jelas, tidak memberi kesan jenuh walaupun novel ini sebenarnya cukup tebal untuk dibaca.

Novel ini mengambil latar Bontang, Kalimantan Timur. Di dalamnya juga terdapat penggambaran beberapa budaya lokal setempat seperti ritual Bemeliatn yang diyakini oleh suku Dayak dapat mengusir roh jahat yang bersemayam pada orang sakit. Penggambaran detail dan tokoh yang ada dalam novel tidak terlalu mencolok. Penulis seakan menggambarkannya dengan sederhana sehingga menimbulkan kesan yang apa adanya.

Kelebihan lainnya dari novel terbitan Noura ini yaitu tidak ditemukan typo ataupun kesalahan penulisan. Kalaupun ada, itu mungkin hanya satu seperti dua kata yang berdempet. Lewat novel ini, penulis juga memperkenalkan berbagai istilah dalam marching band, seperti cadet band, brass, battery, color guards, dan lain sebagainya. Cukup sulit memang memahaminya terlebih lagi untuk sebuah novel yang terkadang pembaca tidak ingin dipusingkan dengan istilah-istilah yang terlalu tinggi. Tetapi penulis sadar hal itu. Oleh karenanya ia sengaja menempatkan glosarium dalam novel ini.

Based true story, membuat novel ini terlihat nyata dan dinilai sangat cocok untuk dijadikan pelajaran. Bersama dengan penyampaian detail karakter dari tokoh dalam cerita membuat novel ini terkesan natural. Konflik yang ditimbulkan penulis dalam novel lebih banyak mengarah pada konflik internal (diri sendiri). Hal ini menguatkan bahwa penulis ingin membuat penikmat ceritanya memahami bahwa perjuangan yang paling sulit dlam hidup manusia adalah mengalahkan diri sendiri.

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sebuah bangsa sampai mereka mengubah keadaan mereka sendiri." ( QS Al Ra'd [13] : 11 )

Kutipan atau kata-kata mutiara adalah jiwa dari sebuah novel inspirasi. Oka Aurora paham sekali hal ini. Hal ini terlihat dengan banyaknya kata-kata mutiara dan kutipan menarik yang bertaburan di tiap lembar halaman novel ini. Beberapa kutipan menarik itu antara lain.

"Jangan pernah berhenti membuat keajaiban." (hlm 18)
"Anak-anak dari kota kecil juga bisa melakukan sesuatu yang besar." (hlm. 62)
"Berapa pun waktu yang diberikan tak seharusnya dihabiskan dengan ketakutan. Karena ketakutan tak kan pernah menyambung hidupmu. Yang akan menyambung hidupmu, hanya keberanian." (hlm. 104)
"Think like a champion. And fight like a champion." (hlm. 309)

Emosi pada beberapa bagian novel terasa sangat nyata walaupun bahasa yang digunakan penulis sederhana. Alhasil pada beberapa moment yang terjadi, imaji saya berasa mengawang membayangkan seperti apa adegan film 12 Menit ini. Untuk sebuah novel, ini adalah karya yang megah. Bagaimana tidak, penulis cukup apik menggabungkan beberapa kisah tokoh dalam cerita bernuansa inspiratif menjadi kesatupaduan, dan itu bukanlah hal yang mudah.

Akan tetapi, di satu sisi hal itu terlihat seperti kelemahan. Karena diadaptasi dari sebuah skenario film, sepertinya penulis kurang dapat memadukan berbagai kisah tokoh di beberapa bagian novel secara menyeluruh. Akibatnya pada beberapa bagian, novel terasa seperti potongan puzzle, "kotak-kotak". Tetapi, hal ini dapat ditutupi dengan keahlian penulis memainkan konflik dan penempatan anti klimaks dalam cerita yang membuat cerita lebih menyentuh.

Sebagai sebuah novel perdana, novel ini sangat luar biasa. Sebuah novel yang berkisah tentang kerasnya perjuagan dan bagaimana konsistensi kita melewati rintangan demi mencapai mimpi, novel 12 Menit cocok jika disandingkan dengan beberapa novel inspirasi lainnnya seperti Sang Pemimpi dan Sepatu Dahlan.

Akhir kata, bagi anda yang percaya bahwa tak ada yang lebih mempesona dari perjuagan menggapai mimpi, novel 12 Menit ini sangat layak memperoleh tempat di jejeran koleksi buku pribadi anda. Oka hanya menceritakan salah satu contohnya. Dan bagi anda mantan pemain marching band, silahkan flash back kisah anda dalam novel ini. Mungkin anda menemukan "kisah anda" di dalam sana.

Perjuangan terberat dalam hidup manusua adalah perjuagan mengalahkan diri sendiri. Buku ini adalah bagi semua yang memenangkannya.

4,5 of 5 star for 12 Menit by Oka Aurora.






Read full post »

Minggu, 24 November 2013

Karena Cinta Tak Kenal Segalanya

2 komentar
Karena cinta tak kenal waktu
aku tak tahu jelas kapan pikir penuh akan parasmu

Karena cinta tak kenal tempat
aku tak tahu jelas dimana rindu ini pernah tertambat

Dan, karena cinta tak kenal segalanya
aku mencintaimu tanpa bisa berkata apa-apa

Makassar, 2013

Read full post »

Senin, 18 November 2013

#Sebabkamu

0 komentar
Cinta, galau, sedih, senang, dan berbagai macam luapan emosi biasanya dapat memicu "kreativitas" menulis seseorang. Yah, salah satunya adalah gua, yang lagi galau bercampur cinta (deeh, cinta campur galau gimana rasanya mas?). "Sindrom" yang baru-baru gua derita ini berdampak baik ke gua (menurut gua sih). Kemampuan gua ngetweet melankolis (kebanyakan orang bilang galau, huh! dasar gak tau seni) berkembang pesat.


Tak disangka, pucuk dicinta, ulam pun tiba. Pas banget, malamnya gua ngegalau, eh kebetulan om @1bichara muncul di timeline. Beliau lagi bersajak ria dengan para followersnya dengan hestek #sebabkamu. Ya udah, gua juga gak mau ketinggalan.


Terinspirasi dari om @1bichara yang jago banget bersajak dan sajak-sajak keren followersnya, jiwa muda gua menjadi terbakar! Membara! Bersemangat! (terbakar galaunya kalee, hahaha). Alhasil, inilah tweet-tweet sajak #sebabkamu amatiran asli buatan gua, :D
Enjoy!


#Sebabkamu ialah sajak, candu yang mampu membuatku tak pernah beranjak.

#Sebabkamu ialah hawa, yang kian terasa, rapuh di asa, namun indah karena cinta.

#Sebabkamu ialah kamu, sosok yang selalu kutunggu dalam setiap mimpiku.

#Sebabkamu ialah hujan, penyejuk diantara piluku yang kian lama kian memakan.

#Sebabkamu ialah masa lalu, sebuah cerita tentang rasa, rindu, dan sendu.

#Sebabkamu ialah rindu, yang kepergiannya menyisakan sendu.

#Sebabkamu ialah malam, selimut tenang untuk semua masaku yang kelam.

#Sebabkamu ialah teduh, tempat rinduku senantiasa berlabuh.



Read full post »

Kamis, 14 November 2013

Pilih-Pilih Dikit Bolehkan?

0 komentar
Halo semua :D

Udah lama banget nih gak pernah posting lagi di blog, ada deh kayaknya sekitar 2 bulan lamanya. Tapi setelah melewati berbagai macam aral rintangan yang menghadang selama itu, akhirnya gua bisa berteriak sekarang... "I'M BACK!!!" :D

Oke deh, cukup kayaknya yah untuk nangis harunya deh *eh. Kali ini postingan gua mungkin berasa kayak curhat gitu tapi masih berbau tips gitu. Jadi, Silahkan disimak :)

"Hidup ini mesti berbagi."

Yak, itu salah satu prinsip yang selalu gua anut dalam hidup gua. Selama itu adalah hal yang positif dan dapat dibagi manfaatnya, kenapa enggak? Iya kan? Egois banget hidup lu semua kawan kalau hidup lu cuman lu pake untuk memperkaya diri lu sendiri. Itu bakalan mempersempit wawasan dan kebahagiaan lu sendiri lho. 

Kali ini gua mau mau bagi pengalaman tentang kebiasaan gua memilih buku pada saat belanja di toko buku. Bagi gua pribadi, memilih buku untuk dibeli itu terbagi dari dua sisi penting. Pertama, pilih dari sinopsis dan dari banyaknya review recommended dari orang lain di jejaring sosial. Kedua, jika sudah dapat buku yang nyantol di hati, so pasti harus pilih dari segi fisik (kondisi) buku itu sendiri. So, check this out, sedikit cuap-cuap tentang kebiasaan gua saat membeli buku, moga bermanfaat yah :)


1. Usahakan beli yang masih bersegel.

Sebagai seorang konsumen yang tergolong pemilih, saya mengutamakan kualitas lho. Misalnya, masa sih kita semua mau membeli sesuatu dengan harga yang sama namun dengan kualitas berbeda? Kalau orang lain membayar dengan harga yang sama, kenapa saya gak boleh dapat kualitas yang sama? Atas dasar itulah, saya terbiasa membeli buku yang biasanya masih tersegel. Hmm, tapi untuk beberapa kondisi saya juga beli buku yang sudah gak bersegel sih (kondisi tertentu).


2. Periksa cover.

Bukunya mba Eka (Labirin Rasa) yang jadi contoh :)

Kondisi tersegel sebenarnya bukan jaminan untuk keutuhan fisik buku. Ketelitian pembeli diperlukan disini. Teliti kembali buku dan lihat baik-baik cover buku tersebut. Periksa dengan seksama, jangan sampai ada yang cacat seperti sobek, terkelupas, ataupun terlipat.


3. Periksa sudut-sudut buku.

Setelah mendapati cover buku dalam kondisi baik, jangan lupa periksa semua bagian dari buku tersebut. Periksa semua sisi dan sudut buku juga lho. Bandingkan kondisi hasil jilid buku yang satu dengan yang lainnya sebelum anda benar-benar membawa buku tersebut ke kasir. Usahakan pilihlah buku atau novel yang semua sisinya baik.

Lihat sisi atas :)

Sudut atasnya juga :)

Sudut bawah juga, jangan kelupaan :)

Sisi samping juga perlu diperhatikan. Biasanya kalau jilidnya jelek, bagian sini rusak gitu.

Alhasil buku yang kondisinya bagus, inilah salah satunya :)


4. Kalau buku sudah tidak tersegel lagi, gimana?

Jika buku yang mau dibeli sudah gak lagi tersegel, periksa kembali kondisi fisiknya plus buka semua halamannya, jangan sampai ada yang salah cetak atau robek. Kalian semua gak maukan membayar untuk sesuatu yang anda harap "barang bagus" tetapi ternyata "barang rusak" kan? 


Oke deh, sekian berbagi pengalama gua kali ini. Semoga bermanfaat bagi kawan semua. Mohon maaf juga kalau ada kata yang tak berkenan dalam penggunaan bahasa pada postingan ini karena semata-mata gua juga masih belajar, hehehe :D. Sampai jumpa lagi! :D
Akhir kata, selamat memilih-milih buku kesekaanmu :)

Teliti fisiknya saat membeli buku yah :)

Read full post »

Rabu, 11 September 2013

Karena Senyuman

0 komentar
...
"Entah mengapa pagi ini jadi begitu indah. Mungkin karena senyummu adalah sebuah hal paling bermakna dalam hidupku."

***

"Huuuuufffffft" hembusan nafasku kali ini mungkin terdengar kesal.
Kulihat layar handphoneku sekali lagi.
"Aduuuh, sial amat sih! Ngapain juga gua yang disuruh urus surat sih?!" logat Jakarta keluar dari mulutku jika aku sedang badmood.
Kulempar HP itu ke kasur. Sedikit kubanting sepertinya.
Tak lama kemudian.
"Drrrrrtttttt, drrrrrtttttt" handphoneku bergetar kembali.
Sejenak aku sedikit malas mengambil kembali handphone itu sejak kulempar kesal.
Tapi, lekat-lekat rasa penasaranku menyeruak.
"Jangan-jangan sms dari mama! Dia kan mesti tau kalau uang bulananku udah menipis." sergahku cepat.
Kuambil cepat handphone jadul itu. Kulihat di layarnya. 1 message

Masbroooo, jangan lupa yah. Nanti sebelum ke rumah sakit, singgah dulu di kampus. Ambil surat sama Kak Tifah di admin. Ok? Tolong yah.

Pengirim: Dian

"SIIIAAAALLLLL!!!" teriakku.
"Males banget gua!"
"Kan gua bukan KETUA!!" marahku seorang diri.

Kubuyarkan pandangan ke dinding kamar kost ku yang berukuran 3 kali 3 ini. Kulihat jam dinding di salah satu sisi. Jam setengah delapan rupanya. Kubuka kaos hitam yang kupakai tidur tadi malam. Setengah telanjang, kulangkahkan kakiku ke tempat jemuran. Kuambil handuk. Seraya melilitkan di pinggangku, aku berpikir sejenak.

"Haaaahhhh" desahku.
"Semoga abis mandi mood jadi rada enakan." gumamku dalam hati.

----------

Pukul 7.45 WITA. Cepat juga aku mandi ya. Dengan sedikit tergesa kucari-cari pakaian yang cocok untuk kupakai hari ini. Celana kain, oke. Kemeja lengan panjang, oke. Seeett, seeeettt. tak begitu lama, akupun telah rapi. Kuselempangkan tas di bahu kiriku. Sejenak aku memeriksa.

"Ada yang kelupaan gak yah?" tanyaku sendiri.
Cek per cek...
"Jas, ada. Laporan, ada. Note sama pulpen, ada." rogohku ke dalam tas memastikan.
"Eh, ID Card ada gak yah?"
Kutelusupkan tanganku lebih dalam.
"Lho? Kok gak ada sih?" cemasku muncul.
Tapi...
"Alhamdulillah, ternyata udah nyantol di jas, hahaha."

----------

PERFECT. Sekarang aku terjebak macet. Perasaan pastinya sudah gak karuan. Kalau ada yang namanya telur dadar yang dibuat dengan cara dikocok, mood ku pagi ini mungkin telur dadar yang dibuat dengan cara diaduk, banting, injak, serta dilempar-lempar. Pikiran mumet ruet. Kualihkan pandangan mencari hal-hal yang bisa sejenak melupakanku dengan kekesalan yang gak penting ini. Lihat ke kanan. Lihat ke kiri. Nihil. Hanya rentetan mobil yang menunggu giliran untuk maju dan beberapa pengendara sepeda motor yang sama sialnya seperti diriku. 

Masih bertengger di atas motor mio kesayanganku ini, kutarik keluar handphoneku. Pukul 08.15 WITA. BAGUS! Terlambat ini namanya. Disaat genting gini, berpacu dengan waktu, eh, ternyata keadaan yang gak mendukung. Gini deh jadinya. Aku mencoba berdiri sesekali di atas motor sambil tetap mempertahankan keseimbangannya.

"Aduuuhhh, goblok banget gua! Ada wisuda hari ini. Napa gua make milih jalan ini tadi yak..." sesalku lirih.

Barulah 30 menit kemudian aku bisa keluar dari kemacetan itu. Dengan sedikit berlari, kunaiki tangga menuju lantai tiga, tempat bagian administrasi jurusanku berada. Kulihat dua sosok separuh baya sedang berdiri di depan admin. Kusipitkan mataku seakan berusaha memperbaiki fokus mataku ini. Ternyata itu adalah Pak De' dan Pak Makmur.

"Pak De', stase di bagian mana sekarang?" sapaku pada pria paruh baya yang sebenarnya tentara ini.
"Kardio. Kamu dimana?" sapanya kembali.
"Aku di Interna pak. Sudah ada Kak Atifah?" tanyaku kembali.
"Belum ada tuh, tadi aku udah telpon ke HP nya tapi dia bilang baru berangkat." jawab sosok pria yang kadang saya panggil kakak juga sih.
"Ternyata..." keluhku kemudian. "Pak De' lagi urus surat kan? 
"Iya, semua kelompok sepertinya belum ada suratnya untuk masuk ke bagian stasenya masing-masing." jawabnya sembari mengepulkan asap rokok dari mulutnya.

Syukurlah. Paling tidak aku bersyukur ada Pak De' disini sebagai teman ngobrol. Asyik mengobrol tak terasa moodku rada enakan. Memang Pak De' ini walaupun sudah memiliki anak tiga tapi tetap saja enak dan nyambung kalau diajak ngobrol dengan orang-orang yang lebih muda darinya. Tak terasa, sudah lima belas menit berbincang dengannya. Asyik juga yah ternyata.

Sembari mengobrol, pikiranku tiba-tiba tak lagi fokus. Pandanganku teralih pada sosok yang sedang berjalan menuju ruang praktek. Kucoba memperjelas. Tidak bisa. Akhirnya aku hanya bisa kutatap lekat-lekat meski dari kejauhan. Jilbab biru tua. Sepertinya dibentuk seperti hijab. Aku mungkin tak terlalu tahu sih. Kemeja lengan panjang dengan warna yang senada dibalut dengan rok warna hitam dengan taburan warna kuning yang menyamping. Cara berjalannya menawan. Belum sempat aku menelisik lebih jauh, sosok itu berbelok dan hilang di balik pintu.

Tak cukup lama, sosok itu datang kembali ke arahku. Jarak 5 meter barulah aku agak mendapatkan gambaran. Kemeja lengan panjang dari bahan blue jins, dipadu dengan balutan rok dari bahan linen dengan motif bunga menyamping berwarna kuning. Ada renda seperti benang-bengang tipis yang menjuntai ke bawah yang semakin mempercantik si pemakainya. Kuturunkan pandanganku sedikit, kulihat kaos kaki putih menyelimuti kakinya ditemani dengan sepasang sepatu flat warna abu-abu yang mengkilap. Cocok sekali dengan kakinya.

Kali ini kualihkan pandanganku ke wajahnya kali ini. Detak jantungku tiba-tiba menguat. Aku kenal wajah ini. Entah sejak kapan senyuman itu dibentuk dari bibirnya. Dan entah sejak kapan pula pandangan bola matanya beradu denganku. Ia tersenyum, teduh. Berjalan dengan anggun dibalut pakaian kasual seperti itu tapi tetap tertutup. Sungguh menawan. Kubalas senyumannya dengan rekahan dan tatapan yang sama. Berharap ia pun merasa seperti yang kurasa. Kemudian berlalu.

Sejurus aku tahu ternyata ia keluar dari kelasnya dengan tujuan mengambil kursi di bagian administrasi. Ia menentengnya separuh berlari. Entah tergesa karena apa. Walau ia tak melihat, aku tetap memberinya senyuman. Berharap hatinya dapat menduga aku berlaku demikian. Aku pun berharap jua hatinya tersenyum membalas. Seketika semua kekesalanku pagi itu sirna. Semua lenyap dan terganti dengan kerinduan. Kapan lagi aku dapat berjumpa dengannya...Perempuan pagi pemberi senyum. :)

***
Read full post »
 

Copyright © Garis Satu Kata Design by Free CSS Templates | Blogger Theme by BTDesigner | Powered by Blogger